
ππππππππ
Braaak..
Air yang baru saja mau turun dari tempat tidur langsung menoleh, ia begitu gemas dengan putranya yang seringkali tak mau hati-hati saat membuka pintu.
"Apalagi?" tanya Air.
"Dede tahu mahu mana, Oey" ucapnya senang sambil terus berjalan masuk kedalam kamar.
"Mau kemana? mumpung Moy belum pake baju nih" timpal Hujan yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Mahu naik naik putak gunung, acak acak utan..
utan.. apa ya tadi?" jawabnya namun terpotong karena lupa dengan apa yang di katakan Reza barusan.
"Hutan belantara?" sahut Air.
"Nah, iya itu, utan biantala" sahutnya yang ternyata masih salah.
"Kedengeran Onty Chaca bisa kena pites kamu de' malah sebut Biantara." kekeh si sulung dengan ucapan putranya yang masih saja sering acak-acakan tak jelas.
.
__ADS_1
.
Pilihan jatuh pada taman lagi, Sam selalu senang berada disana karna bisa bebas berlari sesuka hatinya. Kali ini mereka tak akan membeli makanan di kedai jajanan karna Melisa banyak memberikan bekal untuk makan siang.
"Nanti boleh lari, kan?"
"Iya, tapi harus hati-hati dan gak boleh jauh jauh ya" pesan Hujan pada Sam yang duduk di atas pangkuannya. Bocah laki-laki itu sedang tak ingin duduk di kursi belakang melainkan memilih bersandar di atas paha miMoy nya.
"Ntal kita main kejalan ya, Pay" ajak Sam pada Air yang fokus pada jalan di depannya.
"Gak ah, cape" tolak Air sambil tersenyum.
"Ih, anaknya ngajakin main malah gak mau" oceh Hujan pada suaminya.
"Kenapa kejar aku?" tanya Hujan serius.
"Karna kamu udah mencuri hatiku" jawab Air dengan senyum menggoda seperti biasa.
Hujan yang memerah kedua pipinya langsung mengalihkan pandangan, di usia pernikahan yang kini sudah menginjak sepuluh tahun suaminya tak pernah berubah, tetap manis dengan segala bentuk rayuan recehnya namun bisa membuat hati seorang Hujan yang keras kepala berbunga-bunga.
Tak ada yang di butuhkan seorang istri selain memiliki pasangan yang baik tutur kata dan sikapnya. Wanita bisa menahan sakit melahirkan hingga harus mempertaruhkan nyawa tapi wanita tak akan bisa menahan sakit saat sang suami menaikan satu nada bicaranya.
"Masih malu malu meong aja, Jan Hujan deres. Inget umur Moy" kekehnya lagi yang tahu betul jika pemilik hatinya itu sedang tersipu malu.
__ADS_1
"Aku gak akan berubah jadi tua selama jadi istrimu, kak. Aku yang selalu bahagia pasti akan awet muda dengan selalu mendengar rayuanmu"
Kini Air yang tersenyum kecil, sebenarnya ia tak terima saat Hujan selalu mengatakan jika ia sedang merayu karna yang ia tahu, semua yang dikatakannya itu tulus dari hati.
Cinta Air yang tak main main selama ini memang membuat ia begitu takut kehilangan sosok Hujan dalam hidupnya. Wanita yang sudah memberikannya dua anak meski si bungsu harus pergi dulu sebelum menyapa dunia dengan tangis dan tawanya.
"Pantesan cantik terus, Jan."
"Bagus dong, jadi gak malu maluin pas gandeng aku" kekeh Hujan, mereka yang saling berbincang sampai tak sadar jika Sam sedang memahami apa yang orangtuanya bicarakan
"Siapa juga yang mau gandeng, orang mau aku jinjing kaya anak kucing" balas Air yang langsung mencubit lengan suaminya.
"Kamu yang makin cantik, akunya yang pusing, Jan" tambah Air lagi.
"Kenapa? jatah skincare aku makin mahal ya" cibir Hujan meski tahu jika suaminya tak aka pernah perduli soal itu.
.
.
.
Makin pusing karna bakal makin candu sama kamu
__ADS_1