Air Hujan

Air Hujan
Bab 157


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


"Pergilah.... " lirih Hujan pelan sambil menangis menutup matanya.


"Enggak, Jan! aku mau sama kamu" balas Air tak kalah sedihnya, perasaannya yang tak jauh beda dengan sang istri.


"Kalian Jahat.. Sakit!" Lagi-lagi Hujan berteriak mengeluhkan rasa sakit di tubuhnya.


Bukan hanya luka sayatan di dada atau luka di bagian kewanitaannya tapi tubuh dan pergelangan tangannya pun terasa remuk karna tali yang mengikatnya kemarin.


"Jan.. jangan gini, kakak peluk ya" tawar Air tak tega saat Hujan semakin menjerit.


"Keluar kamu!" Anna menarik tangan Air untuk keluar dari kamar perawatan.


"Gak mau, Bun. Kakak mau peluk Hujan" tolak Air melepas cekalannya.


"Kamu gak denger Hujan tadi minta kamu pergi?!"


Keduanya berdiri saling berhadapan dengan tatapan yang berbeda, Anna dengan kilatan amarahnya sedangkan Air dengan sorot mata teduh seraya memohon.


"Kakak suaminya, Bun. Hujan butuh kakak" pintanya lagi agar Anna sedikit saja mengerti perasaannya yang ingin ada disisi Hujan dalam keadaan apapun itu.


Anna tetap bergeming, ia yang memang keras kepala masih meminta Air untuk keluar.


Pemuda yang merasa lelah lahir bathin itu pun hanya bisa menatap Sang istri dari jauh sedang menangis tersedu sedu.


"Kakak tunggu di luar" pamitnya pasrah, melihat Hujan mengerang kesakitan meminta tolong kini seakan menjadi momok menakutkan bagi Air.


.

__ADS_1


.


Air membuka pintu dengan pelan, ia melihat dua penjaga di depan yang sedari tadi bersiap saat terdengar keributan di dalam.


"Tuan muda"


"Gak apa-apa, aku mau ke kantin sebentar" jawab Air yang tahu maksud dari salah satu pengawalnya itu.


Si sulung melangkah gontai ke arah lift, masuk kedalam kotak besi itu untuk menuju kantin di lantai dasar rumah sakit. Setidaknya dia butuh sesuatu untuk menyegarkan otaknya pagi ini karna terhitung sudah dua hari ini ia sama sekali tak beristirahat bahkan melupakan juga makan dan minumnya.


Sampai di Kantin Air hanya memesan segelas teh hangat, sadar akan perutnya yang belum terisi apapun sejak kemari sore.


Duduk di kursi paling ujung adalah pilihan yang tepat baginya saat ini untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedih dan kecewa.


Dua tahun kebahagiaannya bagai hilang dalam sekejap mata.


.


.


"Ada apa, Kak. Hujan baik-baik aja, Kan?" tanya Reza saat mendengar si sulung terisak.


"Hujan terus teriak-teriak kesakitan. Kasian, Pah" jelasnya pada Reza di sebrang sana.


"Kamu yang kuat ya, Dokter sudah memberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Ia hanya masih trauma dengan kejadian kemarin. Kamu harus sabar saat menghadapi Hujan yang mungkin akan sering histeris" pesan Reza sambil menghela nafas.


"Ada Bunda, Pah. Kakak di omelin Bunda, kakak diusir Bunda gak boleh deket deket sama Hujan, padahal Kakak pengen peluk Hujan buat tenangin dia" Adu Air sambil terisak, kini ia tak lagi bisa menahan tangisnya.


"Bunda Hujan datang?" tanya Reza kaget.

__ADS_1


"Iya" jawab si sulung sambil mengangguk seakan Reza ada di hadapannya.


"Ya sudah, kamu turuti dulu keinginan Bunda ya. Bagaimana pun kita harus mengerti perasaannya, Mamamu saja se terpukul ini, Apalagi Bunda. Kakak paham, kan?" ucap Reza menenangkan putranya yang sendiri berada di rumah sakit


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Iya, tapi papah cepet kesini ya, kakak takut!!!!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Dasar bayi buaya cengeng , 🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Deretan mantu takut mertua ini sih namanya 🀣🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan😘


__ADS_2