Air Hujan

Air Hujan
Gayung.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sam yang baru saja bangun tidur langsung di buat bingung saat melihat kedua orangtuanya masih terlelap tebuai mimpi padahal waktu sudah lebih dari jam tujuh pagi, sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi, pikirnya.


Dan bocah laki laki yang masih sesekali mengucek mata itu pun akhirnya memilih turun dan keluar dari kamar.


Cek lek.


Pandangan ia edarkan dengan tangan masih memegang kenop pintu. Tak ada siapapun di ruang tengah membuatnya melanjutkan langkah menuju dapur.


"Undah udah bangun?" sapa si tampan meski baru saja bangun tidur.


"Eh, dede. Udah sayang, sini sama Bunda"


Wanita bekaca mata itu menggeser kursi meja makan agar Sam bisa duduk lebih leluasa di atas pangkuannya.


"Undah mahu masak apa? itan tecil ada telulnya lagi?" tanya Sam.


"Enggak, masa iya ikan kecil lagi, kan kemarin udah. Sekarang ikannya besar, mau?" jawab Bunda yang sudah menciumi wajah bulat keturunan konglomerat itu.


"Sebesal dede?" tanyanya dengan raut wajah serius.


"Hem... sebesar Gajah, mungkin" jawab Bunda sambil terkekeh gemas.

__ADS_1


"Jangan bilang Gajah, dedenya jadi sedih. Dede tanen banak banak"


Bunda Anna yang paham langsung diam dan memeluk Samudera dengan erat. Ia langsung meminta maaf karna tak bermaksud membuat Sam sedih mengingat Gajahnya yang di tinggal di rumah utama.


"Dede belum cium cium Appa sama Amma, Oey"


"Hari ini cium sama Bunda aja, gimana? mau gak?" tawar Bunda yang meski ia tahu posisinya tak akan pernah bisa menggantikan Reza dan Melisa.


"Mau, muanya ya" pintanya dengan kedua pipi merah merona.


Sam yang di ciumi Bunda sampai terkekeh geli, gelak tawanya juga terdengar ke kamar meski sayup sayup di telinga Hujan yang masih meringkuk dalam dekapan sang suami di bawah selimut berwarna kuning. Rumah yang tak terlalu besar membuat jarak ruangan saling bersebelahan ditambah semua kamar hanya memakai pintu biasa jadi tak aneh jika apapun bisa terdengar begitu saja.


"Hem.. manisnya yang Cium-cium" ledek Hujan dengan nada menggoda pada Sam dan Bunda.


"Moy, udah bangun? Moy capek ya siang siang banet?" tanya Samudera yang membuat Hujan malu sendiri.


Aksi luar biasa yang dilakukan suaminya semalam memang mambuat ia seakan terbang ke ujung nirwana saat pelepasan, di tambah tak adanya gangguan dari anak mereka seolah menjadikan dunia milik berdua.


"Iya, Moy ngantuk banget, de" sahut Hujan pelan, entah paham atau tidak Ia tetap tak enak hati pada Bunda.


"Pantes, semalem ada goyang goyang, Moy nda bangunin dede" ucap sang putra Mahkota polos.


Deg..

__ADS_1


Dirasa obrolan bocah tampan itu sudah tak beres, Hujan pun langsung menarik tangan Sam untuk turun dari pangkuan Bunda.


"Kita mandi yuk, udah siang" ajak Hujan langsung tanpa menunggu persetujuan sang anak.


Sam yang bingung hanya menurut dan berjalan dengan cara di gandeng oleh miMoy nya menuju kamar mandi yang jauh berbeda dengan kamar mandi di rumah utama. Tempatnya begitu kecil hanya cukup satu orang tanpa bathup di dalamnya.


Hujan yang sudah melepas semua pakaian Sam mulai bersiap mengguyur dari arah kepala. Namun, dengan cepat tangan Hujan di tahannya.


"Kok pake itu, Nda mau ah" protesnya sambil mundur satu langkah


"Terus mau pake apa?" tanya Hujan.


.


.


.


Gayung Jajah dede Oey....



Ya ampun.. tuh Gajah gemoy amat 🀣

__ADS_1


Jangan lupa pinjemin papAy ya buat mandi Jununbin 🀭🀭🀭


__ADS_2