Air Hujan

Air Hujan
Baby bEar 68


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sepulang dari makam dan tempat peternakan milik Langit, keluarga kecil itu pun bergegas untuk pulang dirasa hari ini sudah cukup bagi ketiganya bermain meski hanya beberapa jam lamanya.


"Mama sama Papa usah pulang belom ya? mereka kemana sih." tanya Hujan yang penasaran karna mama mertuanya tumben sekali tak mengatakan apapun.


"Entah, paling pacaran" jawab Air dengan mata fokus pada jalan di depannya.


Mobil mewahnya kini sampai di lobby apartemen setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam.


Samudera yang sepertinya kelelahanpun sudah sangat lemas di gendongan Air.


"Dede udah cape ya?"


Iyyaah, apek


"Kasihan, nanti langsung bobo ya"


Samudera tak menjawab dan tak juga mengangguk, ia terdiam dengan mata hampir terpejam karna tak kuat menahan kantuk.


Ia langsung dibaringkan setelah sampai di kamar agar bisa tidur dengan nyaman.


"Beneran ya mama sama papa belum pulang, sepi banget dibawah" kata Air saat kembali lagi ke kamarnya.


"Gak ada telepon kakak?" tanya Hujan yang di jawab gelengan kepala oleh sang suami.


Air akhirnya memilih membersihkan diri karna tubuhnya sudah merasa tak nyaman lagi.


.


.


.


"Kamu pesen makan malam dimana?" tanya Air saat di meja makan.


"Gak tau, tadi ada yang anter kesini. Kayanya mama deh yang pesen buat kita" jawabnya yang di balas anggukkan oleh Air.

__ADS_1


Keduanya makan malam hanya brdua, karna Sam belum juga bangun dari tidurnya. Rasa lelah yang bocah itu rasakan mrmbuat ia begitu lelap hingga lebih dari dua jam.


"Malem kayanya begadang nih" ucap Air sambil membuang nafas kasar.


"Iya, dede belum bangun juga"


Keduanya saling pandang lalu tersnyum bersama, kali ini seperti nya mereka sedang memikirkan hal yang sama karna selepasnya Air maupun Hujan tertawa lepas.


"Kamu ketawain apa,Jan?"


"Kakak kenapa? hayo ngaku!"


Air mendekat ke arah istrinya, ia langsung mencium bibir ranum Hujan tanpa ampun sama sekali dengan tangan yang sudah menyergap satu bungkit yang sangat pas dalam genggamannya.


Suara de sa han Hujan semakin menjadi saat ciuman Air turun ke leher dan memberinya beberapa tanda merah, belum lagi saat dengan jahilanya ia sudah menyingkap baju atasan Hujan sampai atas dan kini dua bukit kembar itu sudah terpampang di depan matanya.


Satu demi satu secara bergantian Air melahap nya dengan begitu lembut disertai gigitaan kecil untuk menambah rang sangan untuk Hujan, Ia bukan sosok suami yang egois yang memikirkan dirinya sendiri, ia selalu ingin menggapai puncak kenikmatan berbarengan dengan pemilik hatinya itu.


Drrrrtt... drrrtttt... drrrttt....


Getaran ponsel sungguh membuyarkan konsentrasi keduanya sampai akhirnya Hujan meminta Air untuk mengangkat teleponnya lebih dulu karna tak henti berbunyi.


"iya, Pah" jawabnya saat ia sudah mengangkat telepon.


"Kak, bisa kesini gak? ke apartemen adek ya sebenar bawa samudra juga" Pinta Reza langsung.


"Ngapain?"


"Ada Tante Via, pengen ketemu samudra katanya, Ok"


Air diam sejenak namun akhirnya ia mengiyakan permintaan papanya itu sebelum panggilan telepon terputus.


"Ada apa?" tanya Hujan sambil membereskan bajunya, ia yang hampir bertelanjang dada mulai kembali memakai apa yang di lepaskan suaminya.


"Papa minta kita ke apartemen adek, ada tante Via disana mau ketemu Sam" jelas Air.


Hujan yang kebetulan mengenal tante Via tentu sangat antusias saat tagi wanita baik itu datang berkunjung.

__ADS_1


Keduanya pun bergegas ke kamar untuk melihat anak mereka.


Cek lek.


Air membuka pintu dengan sangat pelan. Namun, betapa terkejutnya Air dan Hujan saat melihat Sam sudah bangun dari tidurnya sedang berguling dengan Gajah.


"Dede udah bangun?"


Iyyaah.


"Bagus, kebetulan banget" kata Hujan sambil terkekeh.


"Kita kerumah Aunty yuk, ikut gak?"


Onty yang.


"Bukan, aunty Cuaca. Yuk kita kesana" ajak Air.


Nda.


"Loh, kenapa?" tanya Hujan dan Air berbarengan


.


.


.


.


.


.


.


Ales.

__ADS_1



__ADS_2