
πππππππ
Air yang bosan di dalam kamar Hujan hanya bisa meringkuk dan berguling di tengah kasur, tak ada Tv, game dan peralatan elektronik lainnya benar-benar membuat pemuda yang biasa hidup dengan fasilitas mewah itu jengah.
"Hujan lama banget sih, kan gue bosen" dengusnya kesal.
Ia ingin mengirim pesan, tapi nyatanya benda pipi milik sang istri ada di atas meja belajarnya, sesi curhat dengan si pisang pun dirasa sudah cukup tak ada lagi yang harus ia ceritakan pada bantal Kesayangannya itu
"Jan, Hujan dereeeeeees" keluhnya semakin kesal.
Bosan berbaring iapun akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamar, ini pengalaman pertamanya menginap dirumah orang lain yang bukan rumah saudaranya.
Ruang tamu nampak sepi bahkan sudah diganti dengan lampu meja, tapi tidak dengan kamar Bunda yang masih terang benderang.
Entah apa yang di bicarakan dua wanita itu sampai harus memakan waktu hampir dua jam lamanya.
Air yang berdiri di ambang pintu kamar Hujan dengan tangan melipat didada membuat Hujan tersentak kaget saat keluar dari kamar Bundanya.
"Kenapa?" tanya Hujan sambil berjalan mendekat.
"Ngapain sih lama banget" oceh Air, jiwa posesif tak ingin dibaginya sedang meronta-ronta.
"Kan gue bilang, mau ngobrol sama bunda" jelas Hujan lagi.
"Tapi gak selama ini, kan gue takut" sentaknya semakin jengkel.
"Takut apa?" tanya Hujan bingung
"Takut Lo lupa sama gue!"
Hujan mencebikkan bibirnya, kesal dan gemas pada sang suami sudah biasa ia rasakan dalam waktu bersamaan.
Mau marah pun kadang harus ditahan dengan rasa ingin tertawa melihat kelakuan Air yang semakin tampan jika sedang merajuk manja.
__ADS_1
"Segede gini mana bisa gue sih gue lupa, Ay" kata Hujan yang malah berlalu ke dapur, Air yang mengekor di belakangnya pun duduk di salah satu kursi meja makan.
"Laper gak?, Ada kue nih" tawar gadis itu saat membuka lemari pendingin.
"Gak, gue mau susu" pintanya.
"Gak ada, disini gak pernah ada susu" jawab Hujan yang ikut duduk disisi Suaminya.
"Tapi pengen" rengeknya lagi sambil memeluk gadis halalnya itu dari samping.
"Mau beli dulu ke minimarket?"
Pemuda itu menggeleng, ia sudah sangat malas untuk keluar rumah saat ini.
"Hayu tidur aja" ajaknya kemudian pasrah.
"Belum ngantuk, Ay. duluan sana" titah Hujan, ia hanya bisa diam saat sang suami sudah mulai menyesap lehernya.
Hoby baru Air selain memencet hidung si pisang.
"Ay.." de sah Hujan, pertahanannya runtuh saat Air benar-benar menyentuh dengan lembut.
"Merah, Jan" kata Air sambil menyibakkan rambut sang istri.
"Apa?" tanya Hujan yang masih belum sadar.
"Leher Lo! bagus banget bikinan gue kaya di gigit nyumak" Dengan bangganya ia berkata memamerkan hasil karya pertamanya tanpa ia sadar jika ternyata Hujan sudah membulatkan kedua matanya, Geram!
"Pala Lo bagus!" Sentak Hujan yang sudah bangun dari duduknya, ia melihat lehernya dari kaca rak piring yang ada disisi meja makan.
Dan benar saja. Satu tanda merah terlihat begitu sempurna, sungguh kontras dengan lehernya yang putih mulus.
"Ini gimana besok, Ay.. Lo nyebelin banget sih!" omel Hujan sambil menggosok terus lehernya.
__ADS_1
Air hanya tersenyum melihat kepanikan istrinya, Bahkan Hujan hampir menangis menahan kesal sambil terus memarahinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kasih tau papa gak ya?
ππππππππππππ***
Gak usah macem macem kak!
Pamer aja teroooooooooooossss..
Gak sekalian Lo live streaming?? ππ
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ