
πππππππππ
"Pokoknya aku gak mau liat kamu" sentak Hujan saat Air memaksa untuk masuk kedalam kamar dan duduk di sisinya.
Wanita yang masih mengenakan piyama tidur itu menenggelamkan wajahnya diatas bantal doraemon si kucing ajaib berwarna biru.
"Sebutin apa salah kakak, Jan." pinta Air lagi yang semakin di buat frustasi karna malam ini ia pasti akan mengungsi lagi ke kamar adiknya dan Bumi pasti akan mengoceh karna jengah mendengar isak tangisnya sepanjang malam.
"Salah kakak tuh kegantengan!" cetus Hujan asal namun mampu membuat kedua mata Air membelalak sempurna.
"Kan ganteng udah dari jamannya masih jadi cebong, emang aku tahu kalo bakal seganteng ini!" jawab Air tak habis pikir.
"Ya udah sekarang berubah jadi jelek sana" pinta Hujan yang sebenarnya hanya ingin agar Air keluar dari kamar namun malah di tanggapi serius oleh suaminya.
"Mau dirubah kaya apapun itu ya aku tetep ganteng, Jan Hujan dereeeeeeeeeees!"
Hujan yang masih tak mau menunjukan wajahnya semakin meronta saat Air menarik tubuhnya agar bisa di peluk, Jika dulu Hujan selalu ada dalam dekapannya tentu berbeda dengan dua hari ini, jangankan di sentuh untuk menjawab sapaannya pun Ia sudah sangat enggan.
"Jan, kakak sayang kamu. Tolong jangan begini" lirih Air yang sangat sedih meski Mamanya dan dokter sudah memberi ia pengertian jika Hujan tak benar-benar membencinya.
"Aku cuma gak mau liat kakak, kakak pergi sana" pinta Hujan yang mulai menangis.
Satu hal yang tak pernah terbayangkan olehnya akan di jauhi oleh wanita yang paling ia cintai selama ini hanya karna alasan tak masuk akal baginya.
"Gak ada dari sananya bawaan bayi tapi benci sama suami" ketus Air yang mulai terpancing emosinya.
__ADS_1
Hujan bukan hanya tak ingin melihat paras wajah Air, bahkan mendengar suaranya saja sudah membuat ibu hamil itu sangat jengkel hingga ingin mencakar atau memarahinya habis-habisan. Tapi jika sang suami jauh darinya perasaan tenang ia rasakan bagai dunia hanya milik ia dan si jabang bayi.
"Kamu boleh begini, ok aku ikhlas demi baby tapi jangan lama-lama ya, aku kangen" lirihnya lagi yang kemudian bangun dari duduknya, Air melangkah gontai keluar dari kamarnya, bahkan ia diam sejenak saat berdiri diambang pintu berharap Hujan mau menoleh kearahnya meski hanya beberapa detik.
"Jan.. kakak pergi nih" ujarnya dengan tangan memegang kenop pintu.
"Ya udah, pergi sana" usir wanita itu lagi masih enggan menunjukan wajahnya padahal Air sedang sangat ingin mencium keningnya meski hanya sekali.
Dengan perasaan berat Akhirnya si sulung benar-benar keluar dan menutup pintu dengan pelan, ia sandarkan tubuh tinggi lemas nya itu sambil memejam kan matanya.
Namun setelah perasaanya itu sedikit tenang ia pun memilih turun ke lantai bawah dan dapur adalah pilihannya kali ini untuk menyegarkan lagi otaknya yang terasa begitu panas dan ingin meledak.
Tiga kaleng minuman bersoda kini telah ia habiskan tanpa terasa tentu itu karna ia menikmatinya dengan perasaan setengah sadar alias melamun, sebab memikirkan nasib ekor buayanya yang mungkin akan di kerangkeng lagi dalam batas waktu yang tak bisa ia tentukan kecuali Hujan sendiri yang mau membukanya.
"Lagi ngelawak!" dengus Air kesal.
"Oh.. kirain lagi nangis" ledek si tengah dengan tawa kecilnya.
"Masih berani nanya!" Sentak Air.
"Mama sama papa mana? bukannya tadi pergi bertiga?" sambung Air yang baru sadar jika orang tuanya tak ada.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Mampir ke hotel...
πππππππππππ
Papa Gajahπππ udah kembali kehabitatnya kak π...
naik naik puncak gunung sambil belalainya uyek uyekan di hutan belantara π€£π€£π€£π€£
Tar dia pulang bawain sabun yang banyak buat bayi buaya cengeng yang otewe puasa ππππ
Like komennya yuk ramaikan..
__ADS_1