Air Hujan

Air Hujan
bab 131


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁


Tahun kedua pernikahan Air dan Hujan tak banyak yang berubah kecuali waktu pertemuan yang semakin sedikit, kesibukan yang bertambah diantara mereka hanya bisa mengandalkan kepercayaan masing-masing agar hubungan tetap berjalan normal seperti biasanya.


Pergi pagi pulang hampir malam sudah biasa mereka lakukan sekarang, tak jarang keduanya hanya bisa mengobrol sebentar diatas ranjang sebelum akhirnya tenggelam terbuai mimipi hingga menjelang pagi.


Kini tak ada lagi sosok Air yang merengek ingin main basah-basahan, memaksa hingga marah dan menangis jika tidak di layani, awalnya Hujan cukup mengerti, ia selalu berfikir jika suami cengengnya itu terlalu sibuk dengan setumpuk tugas kuliah dan juga bermacam usaha sampingannya yang semakin ramai dan maju. Belum lagi tanggung jawabnya sebagai pewaris pertama RAHARDIAN yang kini sedang di uji kemampuan berbisnisnya oleh Reza dan Langit.


"Kenapa?" tanya Hujan, ia langsung membuka matanya saat sang suami melepaskan penyatuan mereka dan justru malah terbaring di sisinya.


"Gak apa-apa, kakak ngantuk" jawab Air sambil mengambil si pisang dan dalam hitungan detik terdengarlah suara dengkuran halus dari mulut pemuda tampan itu.


"Kamu belom pelepasan, mau aku bantu?" tawar Hujan seraya mengusap pipi suaminya meski ia tahu jika Air sudah benar-benar terlelap.

__ADS_1


Tak ada jawaban sama sekali membuat Hujan hanya bisa mengehela nafasnya dalam-dalam, ia raih selimut yang menjuntai di lantai karna ulah suaminya, hal yang biasa Air lakukan jika mereka sedang bermain, pemuda tampan itu tak ingin ada apapun yang menghalangi aksinya termasuk menutupi tubuh mulus sang istri yang dalam keadaaan polos dihadapanya.


Tak adanya pelepasan diantara keduanya membuat Hujan akhirnya memilih membersihkan diri sebelum ia tidur, ada rasa kecewa dalam hatinya yang bagai di hempas secara tiba-tiba dari puncak nirwana surga dunianya.


Ini hal yang baru pertama kali ia rasakan, Biasanya Hujan selalu di manjakan oleh begitu banyaknya rasa nikmat yang ia reguk berkali-kali saat keduanya sedang melakukan hal yang menyenangkan.


"Kamu kenapa? semoga hanya benar-benar mengantuk, aku gak bisa bayangin kalo seandainya...."


Hujan langsung menggelengkan kepalanya, ia basuh lagi wajah cantiknya dengan air yang mengalir berharp apa yang ada di dalam pikirannya tak pernah jadi kenyataan.


"Enggak, aku percaya padamu. Aku tahu kamu masih mencintaiku meski aku mulai ragu apa aku masih menjadi wanita yang kamu inginkan?" Hujan yang masih berdiri di depan kaca besar di dalam kamar mandi kembali membuka bathrobe yang menutup tubuh polosnya, ia perhatikan dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki setiap inci tubuhnya yang kini tanpa sehelai benangpun.


"Apa aku masih menarik untukmu, kak?"

__ADS_1


"Apa harum tubuhku masih menjadi candu bagimu, seperti yang selama ini kamu bisikkan jika hanya aku yang membuatmu melayang" gumaman gumaman kecil dari mulutnya seakan itu adalah rasa takutnya kini.


Pernikahan yang menginjak usia lebih dari dua tahun itu bisa saja menimbulkan rasa kejenuhan yang berakhir perselingkuhan.


"Tidak! kamu milikku, aku takan membiarkan siapapun masuk ke dalam hubungan kita berdua. Aku tak akan menyerahkanmu pada gadis lain, Kak!"


Hujan menatap nanar dirinya sendiri yang masih polos di depan cermin, ia pakai lagi bathrobe nya lalu bergegas kembali ke tempat tidur.


Belum sempat ia naik ke atas ranjang, fokusnya beralih pada getaran ponsel diatas nakas milik suamiya.


" Siapa yang telepon malam-malam begini?"


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


tukang cincau kali, Jan 🀣🀣🀣


like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2