
ππππππππ
Hujan yang bergeliat sempat bingung saat ia ingat kejadian sebelum tidur tadi, suasana hatinya yang Kacau dengan emosi yang memuncak karna ulah suaminya sendiri yang tak henti menggoda.
"Ay, kemana?, pisangnya juga gak ada" gumam Hujan yang sudah duduk di tepi ranjang, ia sedang mengumpulkan kesadarannya sebelum mencari keberadaan sang suami.
Ia beranjak bangun, membuka pintu kamar dengan pelan, Rumah yang tak terlalu besar karna hanya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu dan ruang tengah serta dapur tentu sangat memudahkannya menemukan sosok Air yang ternyata sedang terlelap diatas Sofa dengan si pisang yang sepertinya jatuh ke lantai.
"Yang ngambek tidur disini" gumam Hujan sambil tersenyum.
Ia berjongkok untuk meraih bantal Kuning itu, lalu mengambil selimut di kamarnya.
Dipakaikannya kain tebal itu di tubuh tinggi Air yang berbaring telentang.
"Maaf ya, gak gue bangunin. Gak tega banget Lo nya nyenyak begini" bisik Hujan pelan, lalu mencium kening suaminya sekilas.
Ia lalu kembali ke dalam kamarnya untuk melanjutkan tidur.
*******
"EUGH"
Pelukan erat di perutnya membuat gadis itu sulit bergerak, nafasnya juga begitu sesak saat kaki panjang Air sudah menindih dua pahanya.
"Kok disini sih?, pindah pindah terus" ucapnya sambil menatap wajah tenang suaminya.
Si tampan yang putih mulus dalam keadaan tidur pun tubuhnya begitu harum belum lagi hangat nafasnya yang tepat di hadapan Hujan.
Lamunannya buyar saat alarm ponselnya berdering.
"Udah jam Lima" gumamnya sambil berusaha melepas pelukan Air.
Butuh tenaga extra untuk sekedar bergeser dari sisi suaminya, ranjang yang tak terlalu besar memang mengharuskan mereka untuk tidur berdekatan agar tak jatuh.
.
.
"Ay, bangun" Hujan mengguncang bahu Air Karna bunda sudah menyiapkan sarapan, ia yang sudah rapih hanya memiliki waktu tiga puluh menit sebelum berangkat.
"Ay... Udah siang!, gue mau jalan" ucap Hujan lagi.
Pemuda itu hanya bergeliat kecil sambil bergumam tak jelas, ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada si pisang Kesayangan.
Hujan yang masih duduk di sisi tempat tidur masih terus mencoba membangunkan.
Di usapnya kepala sang suami dengan begitu lembut berharap Air mau membuka matanya.
__ADS_1
"Ay, gue berangkat sendiri ya kalau gitu"
Hujan yang pasrah akhirnya keluar lagi dari kamarnya, ia bergegas menuju dapur untuk menikmati sarapan pagi.
"Mana suamimu?" tanya Bunda.
"Masih tidur, Bun" jawabnya sambil menyendok nasi goreng.
"Terus kamu gak dianter Air?"'
Hujan menggelengkan kepalanya.
"Nanti pesen taxy online aja, kayanya Air emang susah buat di bangunin kalo tidur. Aku belum tau tentang ini nanti aku tanya mama" ucapnya sambil terus melahap makanannya.
"Ya sudah terserah kamu" kata Bunda.
Keduanya kini sudah menyelesaikan sarapan, hanya tersisa satu piring untuk Air jika ia bangun nanti.
Hujan yang kembali masuk kedalam kamar mengambil tas dan perlengkapan kuliahnya hanya bisa menghela nafasnya lalu tersenyum simpul.
"Masih belum bangun juga gantengnya Hujan" ucap Gadis itu sambil mencium pipi suaminya.
"Gue berangkat ya" pamitnya kemudian.
.
.
Ia begitu gelisah sampai harus di tegur supir taxy karna sudah sampai di parkiran umum kampus.
"Terima kasih, pak" ujarnya saat memberikan ongkos pada pak supir
Hujan bergegas turun, ia menarik nafasnya dalam-dalam. Rasa takut mulai ia rasakan karna bagaimana pun juga di dalam bangunan megah di hadapannya ini terdapat banyak kekasih suaminya.
Bukan tak mungkin jika ia bisa saja di bully habis-habisan saat ini karna menjadi istri dari seorang
Air RAHARDIAN Wijaya....
Ia langkahkan kakinya menuju dimana kelas ia berada, banyak sorot mata yang memandangnya tak suka meski tak berani berkata.
Hanya bisik-bisik selentingan yang ia dengar.
"Hai, Jan" sapa satu-satunya teman Hujan selama ia kuliah.
"Hai, Vin"
Vina namanya, Seorang gadis yang tak terlalu cantik namun manis, memakai kacamata tebal dengan rambut selalu Ikat kebelakang. Ia mahasiswi berprestasi di kampus dengan modal kepintarannya itulah ia mendapat beasiswa.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahan Lo, sorry gue gak bisa dateng" ucap Vina penuh sesal.
"Gak apa-apa, makasih ya"
keduanya mengobrol seperti biasanya, namun perbincangan itu terhenti saat satu dosen mereka datang, dan pelajaran pertama pun dimulai.
Semua mahasiswa dan mahasiswi menyimak materi yang diberikan dosen dengan seksama ruangan begitu sunyi senyap tanpa ada yang berani bersuara.
Tok..tok..tok..
Dosen dan seluruh mahasiswa menoleh ke arah pintu yang menang tertutup rapat.
Mata mereka mengarah ke satu tujuan.
"Ada apa?" tanya dosen yang terkenal tegas itu.
"Maaf pak, saya mau minta izin" ucap seorang pemuda diambang pintu.
"Izin apa?" tanya si dosen bingung dengan mengernyitkan dahinya, begitu pun dengan seluruh mahasiswa yang justru saling berbisik atau tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Izin peluk Istri saya!!!
πππππππππ
Si kakak kayanya ngelindur ya.π€£π€£π€£
__ADS_1
Bucin akut Ampe di samperin gegara bangun tidur tuh bini gak ada π€π€π€
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ