
πππππππππ
Tok... tok... tok.
Air dan Daniel langsung menoleh kearah pintu yang terketuk, keduanya saling pandang sejenak meminta jawaban satu sama lain.
"Buka sana" titah Air pada sekertarisnya.
"Iya, Tuan"
Daniel bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah pintu yang masih terketuk semakin lama semakin kencang suaranya.
Cek lek..
"Lama!" cetus Hujan kesal dan langsung melengos melewati Daniel yang menunduk sopan.
"Ay... "
Air yang melihat kedatangan istrinya tentu senang luar biasa, apalagi belahan jiwanya itu datang disaat yang tepat.
Ketika ia butuh penyemangat dan hiburan sejenak di tengah pekerjaan yang menumpuk tak ada habisnya.
"Bukannya tadi pergi sama mama?" tanya Air saat Hujan berjalan kearahnya semakin dekat.
"Iya, tapi tiba-tiba pengen kesini" jawab Hujan yang akhirnya malah duduk di atas pangkuan suaminya.
Daniel yang sudah paham dengan situasinya tentu akan memilih keluar dari ruangan secara diam-diam sebelum jiwa kesepiannya meronta ronta, bagaimana pun mata pria itu tak mau terus terusan ternoda dengan serangan yang di layangkan sang direktur untuk istrinya.
"Apa aku ganggu?" tanya Hujan saat melirik meja kerja suaminya terlihat berantakan.
"Enggak, aku malah sebenarnya lagi butuh gangguan" jawab Air yang sudah menyentuh tengkuk sang istri.
"Yang ada gak akan selesai kerjaan kamu, Ay" cetus Hujan sambil mencibir namun ia juga sembari menahan tubuhnya dengan cara memegang dada suaminya.
__ADS_1
"Aku butuh refresh otak, sayang" bisik Air yang dalam hitungan detik langsung melayangkan aksi silaturahmi bibir.
Hujan yang selalu pasrah saat mendapat serangan hanya bisa menikmati, apalagi saat tangan suaminya mulai menyentuh dia bongkahan daging kenyal miliknya.
Sentuhan yang tadinya lembut berangsur menjadi rem asan yang menggemaskan. Des sahan pun lolos begitu saja dari mulut ibu hamil yang kini tubuhnya jauh berisi.
"Kamar yuk" ajak Air saat nafas keduanya sudah sangat berat menahan gejolak naf su.
Hujan yang di gendong ala bridal style langsung di baringkan di tengah kasur dalam ruangan yang memang sudah di siapkan olehnya atas saran papa Gajah yang tentu itu menurut pengalaman pribadinya selama ini.
Olah raga ranjang di tengah hari pun terjadi di dalam gedung tinggi pencakar langit, des sahan dan leng uhan yang lolos dari mulut keduanya saling bersahutan sebagai tanda betapa nikmatnya proses menuju puncak pelepasan.
.
.
.
"Ay.. jalan jalan yuk. Aku pengen liat sunset" pinta Hujan yang masih ada didalam dekapan suaminya dengan tubuh yang sama sama polos.
"Gak apa-apa kalo gak bisa, lanjut kerja aja" sambung Hujan lagi meski ia akan sedikit sedih jika Air menolaknya tapi ia pun cukup sadar diri kalau ini bukan saat yang tepat ditengah pekerjaan sang suami yang menumpuk.
"Aku bicara sama Daniel dulu ya, kalo sama kamu aku jadi lupa segalanya" goda Air sambil mencium kening Hujan.
Air bangun dari tidurnya, meraih Bathrobe di dalam kamar mandi untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Satu menit dua menit tiga menit hingga delapan menit akhirnya Air kembali dengan senyum merekah di sudut bibirnya.
"Bisa?" tanya Hujan saat sang suami duduk di hadapannya
"Bisa, Nanti Daniel yang atur semua. Yuk mandi dulu" ajak Air yang lagi lagi menggendong tubuh polos Hujan ala bridal style menuju kamar mandi.
Hujan yang berdiri di bawah guyuran air Shower terperanjat kaget saat sang suami menciumi perut buncitnya berkali-kali, Satu kebiasaan baru bagi bayi buaya cengengnya yang selalu dengan sabar menunggu pergerakan buah hati mereka.
__ADS_1
"Diem, Jan. Baby nya mau bisik-bisik ke aku" ucap Air dengan telinga sudah ia tempel kan di perut istrinya.
"Bilang apa dia?" tanya Hujan sambil tergelak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pah... tengokin dede lagi dong!!!
ππππππππππ
Modus Jan....
jangan percaya.. belom lahir aja tuh orok udah di jadiin bahan buat minta nambah.
Dasar cebong π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan. πππ