Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 23


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air berdecak pinggang saat melihat Baby Bear kesayangannya justru berbentuk anak Gajah dengan kuping besar juga belalai panjang di bagian atasnya. Ia yang merengut kesal langsung menghampiri Melisa.


"Perasaan kakak gak pernah beliin baju itu, baju Sam kan semua beruang, bukan Gajah!" oceh Air.


"Papamu lah yang beli, Samudera udah jadi hak milik dia katanya" sambung wanita yang sedang membereskan beberapa barang.


"Bagaimana hasilnya, Hujan beneran hamil?" tanya Melisa, kini keduanya duduk di tepi tempat tidur dengan Baby Bear di atas pangkuan Air.


"Iya, Enam minggu, Mah."


Melisa menghela nafasnya dalam dalam, lalu mengusapa punggu si sulung dengan sangat lembut.


"Kehamilan kedua ini mama rasa akan jauh lenih berat karna ada Samudera, jadi mama minta untuk kamu lenih memperhatikan Hujan. Jangan buat ia sedih atau tersinggung, Kak" pesan sang mama menasehati, sebagai seorabg istri dan ibu tentu ia sedikit mengerti posisi menantunya.


"Iya, dia cuma mikirin Samudera, dia sedih banget pas Sam gak mau nyusu lagi dan sekarang malah ganti susu formula" ucap Air yang paham dengan keresahan hati istrinya selama ini.


"ASI atau pun susu formula itu sama saja, gak ada yang perlu di khawatirkan. Mama yakin kalian berdua sudah memberikan yang terbaik untuk Samudera"


Air mengangguk paham, setidaknya perasaan yang mengganjal di hatinya akan keluh kesah sang istri sedikit berkurang saat berbagi dengan wanita pemegang tahta tertinggi dalam hidupnya itu.


"Oh ya, papa mana? di bawah sepi banget, katanya Bumi sama Abang mau kesini." tanya Air tentang kedatangan saudaranya yang lain.


"Entah sore atau malam, mama juga belum tahu pasti. Oppa hanya minta semuanya berkumpul saat makan malam dan mama rasa ini adalah momen yang pas untuk memberitahukan kehamilan Hujan yang kedua karna pasti akan banyak yang mendoakannya, tentu itu akan membuat ia jauh lebih percaya diri" ucap Melisa memberi saran sebab hanya ia dan suaminya yang tahu akan adanya penurus baru di keluarga Rahardian.


"Nanti aku bicarakan lagi dengan Hujan, aku takut ia belum siap karna malu jika orang lain tahu tentang kehamilannya yang sekarang"

__ADS_1


"Baiklah, satu yang harus kamu tahu, jika oppa pasti sanagt bahagia jika mendengar cictnya akan bertambah dalam waktu dekat ini, katakan pada Hujan jika semua akan baik baik saja, Ok"


"Iya, Mah. Sayang mama banyak banyak" ujarnya sambil berhambur memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dua puluh lima tahun silam.


AAAAAAAAAARGHHHH...


Jeritan Samudera tentu mengalihkan pandangan Air dan Melisa pada pintu kamar yang terbuka, Reza yang baru masuk langsung membuat bayi montok diatas pangkuan Air berjingkrak tak mau diam.


"Apa sih, orang Appa gak mau gendong" kata Reza mengabaikan cucunya.


Samudera yang terus meronta akhirnya merengek dan menangis. Namun, Reza tetap tak menggendongnya sama sekali karna kali ini adalah jatah kedua orangtuanya yang harus mengurus, bagaiamana pun peran Air dan Hujan lah yang paling penting bagi sang putra mahkota Rahardian.


"Pegang dulu apa, Pah" pinta Air karna Baby bearnya tak juga berhenti berteriak malah semakin meronta kearah papanya.


"Gak, ngurus buntut gajahnya udah selesai sekarang giliran piknik sama pawangnya gajah" goda pria bercucu itu sambil melirik kearah istrinya.


"Kamu yang gak jelas, bisanya cuma bikin doang tapi bagian nangis gak bisa berentiin" balas Reza.


"Wah, nantangin, papa liat ya Baby Bear aku pasti langsung diem nih"


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Tuh kan... DIEM!!!



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mentang2 bapaknya AIR, anaknya maen ceburin aja kali ya 🀣🀣🀣🀣


Itulah makanya suami dilarang ngasuh anak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…..


Buaya gak beres ini sih!!


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2