
ππππππ
Tak perduli waktu sudah lewat dari tengah malam, Air masih saja asik bermain di bawah sana, ia yang masih terbakar bir ahi seakan menutup mata saat melihat sang istri sudah terkapar tak bertenaga akibat berkali-kali merasakan pelepasan.
Tak hanya sekedar mengelus, tapi Hujan kini sudah meremat rambut suaminya yang sedang menggarap kebun kecilnya dengan lidah.
"Kak, udah"
"Aku udah gak kuat, aku...."
Lagi dan lagi, guyuran lahar nikmat itupun tercecer begitu saja. Air tersenyum puas kemudian memeluk belahan jiwanya dengan sangat erat.
"Kamu jahat, ngerjain aku terus"
"Jahat aja di kasih enak, gimana aku bae?" goda Air sambil mengelus kening isterinya yang penuh keringat sebesar biji jagung.
Ekspresi Hujan saat pelepasan seolah menjadi candu, Air begitu menikmatinya karna Jan Hujan deres nya akan jauh berkali-kali lipat terlihat cantik dan seksi. Tak hanya tubuh polos yang membakar bira hinya, tapi juga suara des ahan yang seakan membuat seorang Air Rameza Rahardian Wijaya lupa diri.
.
.
.
Belum puas dengan aksinya semalam, Air belum juga mau melepas pelukannya tapi suara ketukan dan teriakan Sam mau tak mau membiarkan sang istri untuk turun. Hanya dengan berbalut handuk kimono, Hujan pun menurunkan kakinya dari atas ranjang.
__ADS_1
"Kak, tutupin yang bener. lemesin dulu" titah Hujan sambil memukul pelan ekor buaya suaminya yang menegang.
"Mana bisa, kecuali sama kamu, Moy"
Hujan hanya mencibir kearah suaminya, ia berjalan mendekati pintu bewarna putih yang masih tertutup rapat.
Cek lek
"Lama banet!" keluh Sam pada Hujan saat mereka saling berhadapan di ambang pintu. Raut kesal putranya membuat Hujan gemas bukan kepalang.
"Pasti papAy gak mau lepasin peluk Moy, iyakan?" oceh nya lagi, Air yang merasa terpanggil tentu langsung menoleh.
"Gak usah ghibahin papAy, Oey" timpal pria bertubuh polos di balik selimut.
Sam yang mendengar suara papAynya pun langsung menerobos masuk dan naik keatas ranjang, dan drama pun di mulai.
"Dede maunya kemana? papAy sama Moy kan tinggal ikut aja" sahut Hujan sambil berjalan mendekat kearah anak dan suami di tempat tidur.
"Mana ya, binun!"
Sam berpikir sambil melihat langit-langit kamar orangtuanya, ia bingung harus kemana karna hampir semua sudah ia datangi setiap akhir pekan karna itu ritual wajib keluarga AirHujan.
"Kelamaan mikir nanti gak berasa udah jam makan malem" ejek Air sambil terkekeh.
Beda Air beda juga dengan Reza. Jika Buaya lebih senang menggoda dan meledek lain hal dengan Gajah yang selalu memanjakannya. Jadi tak salah jika sang Tutut jarang sekali akur dengan Buaya cengeng.
__ADS_1
"Mikirnya sambil mandi yuk, nanti dede pasti tahu mau kemana" ajak Hujan agar semua lebih cepat.
"Iya, Dede belum mandi. Dede mahu mandi sama Appa aja" ucapnya sambil turun dari ranjang.
Bocah menggemaskan itu langsung keluar sambil berlari menuju kamar Reza dan Melisa, tempat ia menghabiskan hari harinya bersama sang Gajah.
Reza yang baru saja ingin terlelap hanya bisa mendengar tanpa mau membuka matanya, tubuhnya lemas sehabis melakukan pelepasan darurat.
"Appa... dede mahu jalan jalan"
"Hem.. iya" sahut Reza pelan.
"Tapi dede binun, mahu mana, enaknya mana ya?" tanya Sam sungguh-sungguh.
.
.
.
*Na**ik naik puncak gunung, masuk hutan belantara bablas SURGA DUNIA*.
πππππππππ
Ajaran sesat lagi π€§
__ADS_1
Gajah oh Gajah ππ