
πππππππ
"Habiskan makannya, lalu minum obat" titah Hujan pada suaminya yang masih meringkuk di balik selimut yang membungkus tubuhnya sedari kemarin malam.
"Pait, Jan. Kok aku lemes banget ya"
"Iya, isi dulu perutnya terus di minum juga obatnya" kata Hujan yang masih dengan sabar mengurus sang suami.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu membuat pasangan suami istri dengan cepat mengalihkan pandangan mereka secara bersamaan.
"Kak, boleh mama masuk?" suara Melisa di balik pintu membuat Hujan langsung turun dari ranjang.
"Iya, Mah" sahut wanita cantik meski raut lelah jelas di wajahnya.
Cek lek..
Hujan membuka pintu dengan lebar, memberi ruang untuk mama mertuanya masuk kedalam kamar ia dan sang suami
"Masih pusing? kerumah sakit ya" ucap Melisa khawatir dengan tangan memegang kening putra sulungnya.
"Masih, Mah. Sakit banget kepala kakak" adu Air manja seperti biasa.
"Jelas sakit terus, sarapan sama obatnya belum di habiskan" sindir Melisa saat melirik nakas sisi tempat tidur.
"Gak enak perut, Mah".
Melisa menghela napasnya, dari ke empat anaknya hanya si sulung yang paling sulit meminum obat jika sedang tak sehat, ia harus extra sabar merayu meski ujung-ujungnya harus mengomel dan jika sang mama sudah marah marah dan mengancam akan menangis berulah Air mau menegak butiran-butiran obat yang di sodorkan padanya, tapi beberapa tahun ini Melisa tak lagi harus repot melakukan hal melelahkan tersebut karna ada Hujan yang menggantikannya, dengan perannya sebagai seorang istri.
"Biar cepet sembuh, papa sama dede lagi jalan-jalan tuh" kata Melisa sambil memberikan nampan berisi makanan dan obat pada Hujan.
__ADS_1
"Emang belum pulang?" tanya Hujan bingung.
"Udah, tadi cuma main di taman tapi baru pergi lagi barusan"
"Kemana?" tanya Air dan Hujan berbarengan.
"Mau ketemu Abang, mau bahas soal adek" jawab Melisa seraya menarik napas berat.
Air dan Hujan yang tahu masalah yang sedang di hadapi Langit juga Cahaya hanya bisa mendoakan dan menguatkan Melisa sebagai ibu dari dua anak kesayangannya itu, meski kini status Langit adalah menantu tapi di hati Melisa anak itu tetap putra pertamanya ya ia urus dengan penuh kasih sayang dengan kedua tangannya sendiri sejak berumur tiga tahun.
"Mudah-mudahan, Abang sama Adek bisa lewatin masalah mereka dengan lancar, dan ada jalan keluar terbaiknya nanti" ucap Air sedih, kebahagiaan adik perempuan satu-satunya itu tentu menjadi kebahagiaannya juga.
****
Reza yang baru datang dan turun dari mobil langsung di Sambut oleh Sang menantu di pintu utama salah satu usaha sampingannya, meski ia kini menjabat sebagai presiden direktur Rahardian group.
"Ugh, gantengnya uncle baru ketemu lagi, sini sama Uncle yuk liat burung" ajaknya mencoba meraih Samudera dalam dekapan Reza.
Nda.. onty akal.
Na?
"Ada dirumah, yuk gendong sama uncle"
Yuk.
Samudera yang kini sudah pindah ke gendongan Langit seakan memberi kesempatan untuk Reza ke toilet sebentar.
"Dede mau liat apa?" tanya Langit, Sam yang sudah pernah ke tempatnya seakan masih ingat dengan beberapa hewan yang ada disana.
Noh yuk.
__ADS_1
"Yuk, dede mau kesana? mau kasih makan gak?"
Iyaah.
Langit bergegas lebih dulu ke tempat penyimpanan makanan hewan untuk ia berikan pada Samudera. Bocah tampan itu sangat senang dan langsung meminta turun dari gendongan Langit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Abing ama taya dede ya?
Sama bulenya ya de'
Gak ocong kaya kemaren ππππ
__ADS_1
Kan.. kan.. saking gemesnya sama dede jadi pengen ikut Appa tutut jajah ke toilet π€ͺπ€ͺ
Like komennya yuk ramaikan.