Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 25


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



"Tinggal dulu ya ganteng" pamit Reza pada buntutnya yang duduk termenung di ruang tengah.


"Gak boleh nangis, ya. Kalo PapAy sama MiMoy galak langsung gigit aja, Ok" pesannya pada Samudera.


Reza yang melihat raut wajah hampir menangis sang cucu pun akhirnya tak tega untuk membiarkannya, Ia langsung menggendong Samudera dan menciumi kedua pipinya yang bulat kemerahan.


Satu... dua.. tiga.. Huuaaaaaa!!!!


Tangis bayi montok itupun akhirnya pecah, ia memang sudah mengerti jika Reza akan pergi meninggalkannya.


Bukan lambaian tangan yang Samudera berikan tapi justru derai air mata yang membasahi wajah tampannya.


"Kan, nangis!" kata Melisa yang berdecak pinggang.


"Aku bilang jangan pamit, Mas" sambungnya lagi yang ikut tak tega jika Samudera sudah terisak sedih.


"Kalau gak pamit akunya gak tenang, Ra" jawab Reza masih mencoba menenangkan buntut Gajahnya itu.


"Berasa kaya orang lagi mau pergi selingkuh ya, Pah" Timpal Air sambil terkekeh. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengambil alih putranya, di paksa seperti apapun Samudera tak akan mau berpindah gendongan termasuk pada Hujan.


Apalagi kini istrinya mulai sering merasa mudah lelah, menggendong Samudera dari lantai bawah ke atas saja sudah membuat perut bawahnya terasa begitu nyeri.


"Dede sama PapAy, ya" rayunya lagi karna waktu sudah semakin mepet.


"Sini biar sama aku dulu" Melisa mengusap pelan punggung Samudera, tubuh mungilnya bagai lem jika sudah berada di dada suaminya.

__ADS_1


Appaaaaaaaa...


"Iya, sama PapAy dulu, nanti sama Appa lagi ya ganteng"


Hampir tiga puluh menit akhirnya Samudera bisa pindah ke pelukan Melisa saat Air memberinya boneka Gajah yang biasa menjadi teman tidurnya.


"Tar juga nasibnya kaya Si pisang" cetus Melisa sambil melirik kearah Suaminya yang mengulum senyum.


"Bobo sama Gajah imitasi dulu ya, yang asli katanya mau pacaran!" ucap Air sambil berlari menuju tangga dengan Samudera dan Gajah dalam dekapannya.


******


Cek lek


Air membuka pintu kamarnya, terlihat Hujan sedang meringkuk diatas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas pinggang.


"Masih sakit, Jan?"


"Udah, barusan nih pake drama dulu sama Baby Bear" jawabnya sambil menidurkan anaknya di sisi Hujan.


"Nangis ya, kasihan Papa gak bisa jauh-jauh dari Sam"


Air hanya mengusap pipi istrinya dengan lembut, ia tahu jika Hujan pasti sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Sekalipun kamu gak hamil lagi, Sam pasti deket sama Papa jadi gak ada yang bikin kamu harus gak enak terus. Biarin aja, biar mereka punya kerjaan laen selain piknik" ucapnya sambil terkekeh mencoba menghibur Hujan.


Samudera yang lelah sehabis menangis tanpa mereka sadar justru kembali tertidur bersama boneka Gajahnya. Hujan menatap anak dan suaminya itu secara bergantian sambil menahan tawa.


"Kenapa?" tanya Air.

__ADS_1


"Nanti yang jadi istri Sam, nasibnya bisa sama kaya aku selalu jadi yang kedua saat tidur" cetus Hujan, ia melihat Samudera yang mungkin saja akan seperti Air yang masih mencari bantal kesayangannya kala rasa kantuk menyerang.


"Kamu gak tau aja nikmatnya melintir idung si pisang" protes Air yang langsung mendapatkan cibiran dari sang istri tercinta. Hujan pun mulai menggesr tidurnya menjauh.


Melihat sikap ibu dari anaknya itu , Air malah merasa gemas dan ingin mengajaknya bermain-main, maka ia langsung memindahkan Baby Bear ke box bayinya sebelum ia melakukan hal yang menyenangkan nantinya.


"Apa?" sindir Hujan saat suaminya mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Apa sih, orang cuma mau ikutan tidur"


"Tidur aja sana sambil peluk guling kesayangan kamu Si pisang" cetus Hujan lagi.


.


.


.


.


.


.


Enggak ah.. kali ini aku gak mau meluk guling, maunya peluk kamu sambil guling guling...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Nanti pisangnya awas di makan Gajah kak 🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


Untung bukan buntut monyet ya,πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2