Air Hujan

Air Hujan
kenapa?


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang merintih kesakitan tentu membuat Air sangat khawatir, sudah sejak lama istrinya tak mengeluh sakit saat datang bulan tapi kali ini Hujan begitu amat tersiksa.


"Ayo, di periksa. Aku takut banget Moy liat kamu kaya gini." Air yang tak sedikit pun melepas genggamannya terus memohon agar Hujan mau menuruti keinginannya tapi lagi dan lagi semua di tolak.


"Gak apa-apa, nanti juga enakan kok"


"Tapi ini udah dua hari, Moy" balas Air lagi, ia benar-benar sangat takut dan khawatir sejak kemarin.


"Kalau udah beres dan selesai pasti sakitnya juga hilang, kak"


"Aku usapin lagi ya" tawarnya yang kali ini di jawab anggukan kepala dengan cepat oleh Hujan.


Air meringsek naik ke atas ranjang, ia lepas kaos yang di kenakannya agar sang pemilik hati lebih nyaman saat di peluk.


Bibirnya tak henti menciumi pucuk kepala Hujan dengan tangan terus mengelus punggung dan pinggangnya berharap rasa sakit itu berkurang atau mungkin sembuh total.


"Kenapa rasanya sakitnya gak bisa di bagi? kakak mau kok ambil semua rasa sakit itu" lirih Air sambil menitikan air matanya.


Pria tampan yang masih saja cengeng seolah mengingat kejadian saat Hujan melahirkan kedua anak mereka. Nikmat yang tak bisa di gambarkan itu masih jelas terekam di otaknya.

__ADS_1


"Ini jadi kelebihan wanita, kak. Gak apa-apa kok. Bukan sekali dua kali, kan aku ngerasain ini. Dari sebelum kita menikah malah lebih parah setiap bulan. Tapi buktinya aku masih ada" jawab Hujan sambil terkekeh, ia tahu jika suaminya kini sedang teramat cemas padanya.


"Dan bodohnya aku cuma bisa liatin kamu tanpa bisa lakuin apapun" bisik Air sambil mengeratkan pelukan.


Sikap hangat sang suami tentu membuat Hujan semakin nyaman dalam dekapan pria yang selama ini selalu memberinya rasa aman dan nyaman. Tak perlu membagi rasa sakit, cukup pasangan mengerti saja rasanya dunia sudah menjadi miliknya.


"Enakan belum, Moy?" tanya Air yang langsung membuyarkan lamunan Hujan.


"Iya, udah gak sesakit tadi, keram nya juga berkurang. Makasih ya kak dan maaf karna aku begini kamu gak ke kantor dari kemarin." ucapnya lirih, ada rasa bersalah dalam hati Hujan, tapi rasa sakit kali ini memang luar biasa ia rasakan.


"Syukur kalau gitu, ada yang kamu mau?"


"Aku lapar, kak" jawab Hujan dengan sedikit malu-malu.


"Nasi goreng, tapi harus kakak yang bikin. Pedes banget ya" pintanya dengan nada bicara semangat.


"Cie... yang ketagihan" kekeh Air sambil terus menciumi pipi istrinya yang sedikit memerah.


"Kakak kebawah dulu ya, bikin nasi goreng. Kamu tunggu disini"


Hujan yang senang maunya kembali di turuti tentu langsung mengangguk, ia bangun dan duduk bersandar di punggung ranjang dengan bantal di atas pahanya siap menunggu.

__ADS_1


.


.


Air yang sudah sampai di dapur bersih Langsung menyiapkan semua bahan dan bumbu untuk membuat nasi goreng, saking fokusnya ia sampai tak sadar jika Mamanya sedari tadi sudah duduk sambil memperhatikan.


"Mah..."


"Anak mama lagi apa?" tanya Melisa dengan senyum khas keibuan.


"Bikin nasi goreng buat Hujan, Mah"


"Udah baikan? apa masih sakit, coba di periksa kak kan biasanya gak sampai begini loh, mama khawatir" ucap Melisa yang sedari kemarin terus memantau keadaan menantunya itu.


"Udah, mah. Udah mendingan kok"


"Syukurlah, mama ikut lega kalau begitu" balas Melisa yang kembali tersenyum.


"Mah, kenapa wanita harus haid sih? kan kasihan liatnya kalau sampai sesakit itu" tanya Air.


Agar wanita bisa istirahat dari menunaikan ibadah yang rutinnya di kerjakan. kenapa begitu?

__ADS_1


alasannya untuk menyeimbangkan dulu kondisi psikis dan keadaan di dalam diri perempuan tersebut, karena dalam saat haid bukan keadaan kotor dalam hal fisik. Tapi kotoran darah yang keluar itulah yang akan mempengaruhi psikisnya. Ya emosinya, ketidakstabilannya, ketidaktenangannya, dan semua itu di minta Allah untuk istirahat dulu.


__ADS_2