Air Hujan

Air Hujan
Buaya ngamuk.


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Lama de' kalo pake gayung ini, gajahnya kecil jadi muat airnya gak banyak. Kamu kapan selesainya" ucap Hujan yang sudah gemas pada sang putra.


"Ih... kalau mahu besal gajah benelan, Moy" sahutnya tak mau kalah sampai Hujan akhirnya pun pasrah tak mau menimpali ocehan putranya lagi yang kini sudah polos tanpa apapun.


Hujan hanya berdiri menunggu Sam membersihkan dirinya dengan si gayung gajah berwarna pink yang sengaja di simpan dirumah Bunda karna di Rumah utama pun tentu ada hanya saja berbeda warna. Siapalagi yang membelinya jika bukan Tuan besar Rahardian.


Cucu kesayangannya itu senang sekali di belikan semua yang serba berbau Gajah. Reza hanya ingin Samudera ErRainerly Rahardian Wijaya tumbuh besar dan kuat meski nyatanya ia sangat manja namun tetap mandiri.


"Udah ayo, cepetan!" titah Hujan karna Sam terus saja mengguyur kepalanya tak henti.


"Ntal, enak banget loh, Moy nda mandi?"


"Nanti aja, kalau dede udah selesai" jawab Hujan masih berdiri di ambang pintu


"Mandi beldua sama papAy ya?"


.


.


.

__ADS_1


Drama mandi yang lebih dari tiga puluh menit bersama sang gajah pink pun berakhir dengan Sam di bungkus dengan handuk kecil bergambar beruang kecil kecil sebagai mana nama yang di sematkan papAy nya, BabyBear



"Dinin banet, ih" ucap Sam sedikit menggigil sambil berjalan menuju kamar.


Ceklek...


Air yang mendengar pintu terbuka tentu langsung menoleh, ia tersenyum sambil merentangkan tangan siap memeluk putra semata wayangnya hasil garap tanam dan siram selama empat tahun menunggu.


"Gantengnya papAy udah mandi?"


"Udah dong, bial makin ganteng" jawab Sam sambil usel usel hidung di dada polos Air.


Hujan yang sudah membawakan satu stel baju langsung memakaikannya di tubuh polos Sam setelah membaluri minyak telon lebih dulu. Kini Sam sudah merasa hangat dan siap di dandani.


"Mandi beldua sama Moy? Mou juga belum mandi" sahutnya sambil menoleh kearah Hujan.


"Gak muat, Oey"kekeh Air saat menjawab lalu bangun dan berlalu ke kamar mandi meninggalkan anak istrinya.


Sam yang sudah rapih dan wangi kini di tuntun Hujan menuju dapur untuk sarapan karna sudah ada Bunda meja makan yang menunggu.


Dan selang dua puluh menit, Air pun sekarang sudah ikut duduk juga bersama istri, anak dan mertuanya.

__ADS_1


Keempatnya menikmati Sarapan yang sebenarnya sudah lewat dari waktunya. Namun tetap enak di nikmati karna di selingi dengan obrolan ringan.


Sam sampai harus meminta lagi ikan besar yang dimasak Bunda khusus untuknya, Ia memang tak pemilih soal makanan berbeda dengan Air yang sama sekali anti sayuran sedari kecil.


"Nambah lagi gak?" tawar Hujan pada suaminya.


"Cukup Moy, nunggu abang-abang aja nanti" jawab Sam yang mendapat cibiran dari Hujan.


"PapAy tahu nda?" tanya Sam yang kini sudah pindah duduknya ke atas pangkuan Air.


"Gak tahu, kan dede belum cerita"


"Semalem dede bobo goyang goyang loh" ucap Sam dengan polosnya namun dengan nada serius.


Air sampai mengernyitkan dahinya, ia menoleh kearah Hujan yang tiba-tiba berhenti merapihkan piring kotor untuk di bawa ke tempat cucian.


Hujan menganggukkan kepala seakan memberi jawaban pada sang di suami yang bertanya lewat sorot matanya jika yang di ceritakan Sam adalah aktifitas panas mereka semalam.


"Oh, yang semalem goyang goyang itu Buaya ngamuk di sawah, Tut.... "


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Bocah kepo banget, goyang gitu aja semua di ceritain 🀣🀣

__ADS_1


Gedenya malah dia yang di goyang πŸ™„πŸ™„


#Eh..


__ADS_2