Air Hujan

Air Hujan
Bab 159


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Maafin papah ya, kak


Reza tersenyum kearah di sulung yang hampir menghabiskan makanannya, cukup Hujan yang sakit jangan sampai Air yang seharusnya ada menemani pun ikut terganggu kesehatannya. Anak tampannya itu harus siap pasang badan untuk istrinya dalam hal apapun itu.


"Udah, Pah. Kenyang" Air menggeser piringnya sedikit ke tengah lalu menenggak minumannya sampai setengah gelas.


"Udah kuat kan sekarang menghadapi Mertua?" ledek Reza sambil terkekeh.


"Hem, aku kuat buat Hujan bukan buat Bunda" elak Air yang tak terima saat papanya mulai menggoda.


Dua pria tampan beda generasi itu bergegas bangun dari duduk, berjalan santai menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai kamar perawatan Hujan.


Triiiiiing....


Pintu kotak besi itu terbuka lebar, keduanya keluar secara bersamaan dengan Reza merangkul bahu anak kesayangannya.


"Selamat pagi, Tuan" sapa dua penjaga yang bertugas di depan pintu.


"Pagi juga." jawab Reza tapi tidak dengan Air. Tuan muda mereka hanya menangguk kecil sambil tersenyum simpul. Tak perduli seberat apa beban dan hatinya, ia harus tetap ramah pada orang-orang yang menyapa.


Cek lek


Reza membuka pintu dengan sangat pelan, takut jika menantu pertamanya itu terbangun atau mungkin terganggu.


Air yang mengekor di belakang Reza belum berani menampakkan batang hidungnya di hadapan sang mertua.

__ADS_1


"Anna.. " sapa Reza pada wanita yang duduk disisi ranjang Hujan.


"Bang," jawabnya sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya.


"Lama gak ketemu, Ann. Apa kabar?" tanya Reza basa basi.


"Apa menurut abang Anna akan baik-baik saja?" Wanita berkacamata itu balik bertanya.


Reza menarik tangan Air agar bisa berhadapan dengan Anna, Ia ingin melihat reaksi Anna terhadap putranya saat meminta maaf.


"Abang akan melakukan yang terbaik untuk Hujan, Abang sudah menghubungi team dokter agar Hujan cepat pulih dari rasa trauma nya." ucap Reza memberi pengertian.


Air kembali menumpahkan tangisnya saat melihat pemilik hatinya itu menitikan buliran cairan bening sedangkan sorot matanya kosong menatap langit langit kamar perawatan.


Sembuh ya sayangnya kakak..


Reza melirik kearah si sulung yang sangat fokus menatap istrinya yang terbaring.


"Bisa kita bicara di sofa?" pinta Reza pada Anna, ia ingin putranya bisa leluasa di sisi Hujan yang seharusnya memang membutuhkan Air sebagai suami.


"Iya, Bang" sahut Anna, ia lalu bangun dari duduknya berjalan dibelakang Reza yang sudah lebih dulu beranjak ke sofa.


Namun sebelumnya ia sudah memberikan kode lewat sorot matanya pada Air agar menggantikan Anna duduk di sisi Hujan, Ia ingin memberikan sedikit kesempatan untuk keduanya bersama.


"Sebelumnya Abang minta maaf dengan yang sudah terjadi pada Hujan, karna Hujan menjadi tanggung jawab kami" ucap Reza penuh sesal.


"Aku tak habis pikir kenapa ini bisa terjadi. Ada masalah apa sampai Hujan harus mengalami hal mengerikan seperti ini?" tanya Anna yang kembali menitikan air mata.

__ADS_1


"Hanya salah paham, tapi semua pelaku sudah di tangkap dan mendapat hukuman yang setimpal" jelas Reza berharap Anna bisa sedikit tenang.


"Anna tetap tak puas apapun balasannya, Hujan tak pantas di perlakuan seperti itu" cetus nya emosi.


"Abang tahu, Ann. Yang penting kita fokus pada penyembuhan Hujan saat ini" Balas Reza.


"Ya, Hujan harus sembuh seperti semula, kembalikan senyum dan keceriaan putriku, Bang" pinta Anna semakin sedih.


"Kita dampingi Hujan bersama"


"Sayangi Hujan seperti putrimu, Bang. Biarkan dia mendapat kasih sayangmu saat Anna tak mendapat balasan cinta dari Abang"


Ucapan Anna tentu membuat Reza tercengang begitupun dengan wanita yang kini berdiri di ambang pintu.


.


.


.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Harap tenang.


Itu cuma ibu ibu yang minta sumbangan kok🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2