Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 71


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



Pagi yang berbeda, Sam yang sudah bangun dari tiga puluh menit lalu belum juga ingin bermain atau turun dari box bayinya. Ia masih bergelut malas dengan selimut juga boneka gajahnya yang besar.


"Mau susu lagi?" tawar Hujan saat ia sudah rapih dengan dress selututnya.


Nda.


"Ya udah turun, ayo"


Nda.


"Dede kenapa sih? tumben banget biasanya juga bangun tidur udah minta gendong" kata Hujan bingung.


Samudera hanya tersenyum, bukan mendekat ia malah semakin berguling jauh sampai Hujan sulit menjangkaunya.


"De, ayo sini. Kita sarapan yuk" ajaknya lagi yang dibalas gelengan kepala.


Air yang baru keluar dari kamar mandi pun mendekat dan bertanya pada istrinya yang sedang begumam sendiri.


"Kenapa?"


"Dede makin gede makin males tuh, liat deh bangun tidur cuma guling guling aja" adu Hujan pada sang suami.


"Biarin lah, bangun juga cuma ngacak ngacak rumah doang" jawab Air santai tapi memang benar adanya.


"Mending diem disitu ya, dari pada tiap pagi mama jerit jerit karna kamu lempar lempar parabot dapur" kekehnya lagi.


Iyyaah.


Hujan keluar kamar lebih dulu untuk membantu Melisa menyiapkan sarapan, ia yang turun sediri tentu menjadi pertanyaan mama mertuanya.


"Sam, belum bangun?"


"Udah, tapi gak mau turun dari box." jawab Hujan sambil meraih beberapa bumbu untuk ia kupas.

__ADS_1


"Masih ngantuk mungkin, semalem makan banyak banget" kekeh Melisa yang merasa lucu jika ingat kejadian semalam.


"Iya, aku takut muntah"


Keduanya tertawa, demi mengalihkan perhatian Sam yang terus di goda Cahaya, Hujan dan Melisa membawa Bocah menggemaskan itu ke ruang tengah untuk menikmati beberapa cake dan buah, perut kenyangnya tentu membuat Samudera akhirnya mengantuk dapat tidur.


"Buntut Gajah mana?" Reza yang baru datang ke dapur tentu langsung menanyakan cucu kesayangannya karna ruang tengah nampak masih rapih dan sepi.


"Masih di kamar, Pah. Gak mau bangun" jawab Hujan.


"Tumben, sakit?"


"Enggak, lagi males aja mungkin karna semalem ada yang bikin dia ngambek sampe nangis sedih banget" sindir Melisa yang tak di jawab oleh Reza, antara cucu pertama dengan anak bungsu bukan kah sulit untuk memilih.


"Masa sih, semalem gak apa-apa"


"Mas Reza gak liat kalau Sam sampe berderaian air mata"


Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengulum senyum kecil.


"Aku liat ke kemar dulu deh" pamitnya sambil bangun dari duduk.


Air yang sudah rapih dengan stelan jasnya kembali menghampiri Samudera di box, entah apa yang ia celotehkan dengan si gajah tentu mirip dengan dirinya jika sedang curhat pada sang pisang.


"Dek, papAy laper nih. Turun yuk kebawah"


Nda.


"Kenapa? yuk turun main di bawah"


Yuk.


Samudera yang merangkak langsung di gendong oleh Air menuju karpet depan Tv, bocah montok itu langsung merangkak dan menumpahkan semua mainnanya lalu bertepuk tangan senang.


Hulleeeeeee


Air tersenyum kecil, ia meraih ponselnya di atas nakas lalu menghubungi Daniel untuk memberitahunya jika ia akan sedikit terlambat sampai di kantor.

__ADS_1


"Ya ampun de' ngapain ngacak-ngacak kardus sih, tar papAy paketin mau?" ucap Air saat menghampiri anaknya lagi.


Belum sempat Air ikut duduk ternyata ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan cukup keras.


"Kak, papa nih" ujar Reza di balik pintu.


"Iya, Pah, tunggu." jawab Air sedikit berteriak, ia menoleh kearah Samudera yang juga menatapnya.


"Ada Appa, papAy buka pintu dulu ya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dede upet.



🌻🌻🌻🌻🌻


Jangan lupa lakban terus lempar ke tangerang 🀣🀣🀣

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2