Air Hujan

Air Hujan
bab 27


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Hujan langsung mengerjakan matanya saat ia merasakan nyeri dan perih saat bergeliat.


Ia yang awalnya panik saat melihat tubuh polosnya langsung teringat kejadian malam tadi bersama sang suami.


"Ay kemana?" gumamnya sambil mencoba untuk bangun tapi rasa sakit membuat ia meringis sampe menggigit bibir bawahnya.


"Perih banget"


Ia yang bingung karna sang suami tak ada disisinya akhirnya memberanikan diri untuk memanggil.


"Ay.. Ay.. dimana?"


Hujan mendengus kesal karna tak ada sahutan dari Air meski sudah hampir lima menit ia menunggu sambil terus memanggil namanya.


"Hem, apa!" Sahut Air tiba-tiba.


Hujan tecengang saat melihat suaminya bangun dari sofa panjang depan TV dengan memakai bathrobe.


"Lo tidur di situ?" tanya Hujan bingung.


"Ketiduran" ucapnya sambil mendekat kearah sang istri.


"Kirain semalem langsung tidur" kata Hujan yang langsung di peluk suaminya setelah Air melepas apa yang ia kenakan.


"Iya langsung tidur, cuma tadi pagi lupa pisang gue ada di sofa" ia berbicara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Jadi pindah, gitu?"


"Hem, gue kan masih punya prikepisangan, Jan Hujan dereeeeeees" Ucapnya lagi yang ternyata sudah menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Awas, ah" sentak Hujan kesal, di dua kan dengan pisang ternyata membuat ia resah akan selalu di tinggal sendiri saat malam.


"Lagi, Yuk" bisiknya pelan.


Dua tubuh polos itu kini saling menempel satu sama lain memberi kehangatan tersendiri bagi keduanya yang baru merasakan nikmatnya bercinta.


"Gak mau, gue mau mandi" tolak Hujan.

__ADS_1


"Mau lagi, Jan! ya..ya..ya..?" rayunya semakin erat memeluk.


Miliknya yang tak tertutup apapun begitu terasa semakin menegang saat bersentuhan dengan kulit putih mulus Hujan.


"Hayu, ih" rengeknya manja sambil menciumi leher istrinya.


"Geli, Ay. Mandi dulu yuk" ajak gadis itu, hatinya mulai berdebar lagi saat salah satu buktinya di genggam oleh tangan lembut Air.


"Gak mau, mau kaya semalem lagi" Pemuda itu tetap keukeh dengan keinginannya.


"Masih sakit, tar lagi ya"


Air langsung bangun sambil menarik selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Eh, mau apa Lo" saking kagetnya Hujan langsung menutup tubuhnya dengan bantal.


"Apa yang sakit?, itunya?" tanya Air.


Hujan hanya mengangguk, kamar yang lebih terang dari semalam membuat ia benar-benar merasa malu apalagi saat ia melihat suaminya duduk didepannya tanpa benang sehelai pun.


"Gue bilang juga harus nambah, biar gak sakit" kekehnya sambil menutupinya lagi dengan selimut.


"Dih, sok tau banget. kan gue yang rasain" dengus Hujan kesal.


"Kan semalem udah kenalan Jan Hujan dereeeeeees"


Air memulainya dengan mencium kening Hujan lebih dulu, berlanjut ke kedua pipi dan Bibir ranum kemerahan sang istri yang di rasa lebih tebal dari sebelumnya.


"Janji ya pelan" pinta Hujan dengan wajah tegangnya


"Perasaan dari semalem pelan deh, Lo nya aja gak rileks" sahut pemuda itu yang ternyata sudah turun ke area bukit putih gadis halalnya.


Hujan yang bergeliat kecil sambil mendesis lirih membuat jiwa jahilnya keluar.


PLAAAAKKK


"Jangan di gigit, Ay" sentak Hujan keras karna rasa sakit ulah suaminya.


"Gemes gue, hahaha" ucapnya sambil tertawa.

__ADS_1


Kerikil kecil di ujung bukit sang istri pun kini terlihat merah Semerah wajah Hujan saat ia merasakan ada sesuatu yang begitu hangat kembali memasuki miliknya.


Wajah tampan Air membuat Hujan semakin pasrah, ia bagai terbang ke ujung langit Setiap inci tubuhnya di nikmati oleh suaminya.


Pemuda yang terkenal playboy tapi begitu polos saat bersamanya.


Pelepasan kedua pun mereka rasakan secara berbarengan, senyum dan nafas terengah-engah adalah akhir dari puncak kenikmatan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Capek, Jan.. tidur lagi yuk!!!!



🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Nambah lagi kan 😭😭😭😭


Enak kan πŸ™„πŸ™„πŸ™„


ketagihan kan 🀭🀭🀭🀭


kan kan kan gue Bingung jadinya woy.πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️


__ADS_2