
ππππππππ
"Siapa yang telepon malam-malam begini?" gumam Hujan sambil meraih benda pipih yang masih bergetar diatas nakas.
"Hallo"
Ttuuuuuutttt
Hujan melihat kembali layar ponsel suaminya dengan tatapan aneh dan bingung.
"Di angkat malah di matiin, bikin curiga aja!" rutuknya kesal sambil memperhatikan nomer yang tertera.
"Gak ada namanya, ini nomer baru atau emang sengaja nomernya gak di save ya"
Hujan yang memiliki otak cerdas juga berhati keras tentu tak hanya mengandalkan perasaan ia juga selalu menyertakan logikannya dalam berfikir dan bertindak.
Ia alihkan pandangannya pada sang suami yang sepertinya semakin lelap terbuai mimpi, Hujan menghela nafas saat selimut tebal yang tadi menutupi tubuh polosnya kini tengah tersingkap.
"Lucunya kalo lagi begini, beneran mirip banget sama bayi tapi yang ini bayi buaya cengeng" kekeh hujan sambil merapihkan selimutnya lagi, lalu menciumi seluruh wajah menggemaskan suamianya.
.
.
Kali ini entah apa yang membuat Air bangun lebih dulu, bahkan ia sudah mandi dan rapih saat istrinya belum bangun dari tidur lelapnya.
"Jan, bangun" Air duduk di tepi ranjang sambil mengusap pipi sang istri, ternyata sentuhan lembutnya itu berhasil membuat Hujan mengerjapkan matanya.
"Loh, kakak mau kemana?" gadis cantik itu langsung bangun , ia tatap wajah tampan suamianya denga persaan aneh.
"Kuliah lah, udah siang tuh" jawabnya sambil tersenyum.
Hujan melirik jam yang tergantung di dinding, matanya membulat sempurna saat melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, dan itu tandanya tiga puluh menit lagi ia dan keluarga suaminya akan segera berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
__ADS_1
"Kok gak bangunin dari tadi!" umpat Hujan kesal.
"Kamunya nyenyak banget, gak tega banguninnya" jawab Air sambil terkekeh.
Hujan hanya merengut jengkel lalu bergegas ke kamar mandi, Air yang sudah memastikan sangat istri hilang dari balik pintu kamar mandi pun memilih lebih dulu keluar dari kamarnya menuju dapur.
.
.
"Pagi mamanya kakak yang cantik jelita dan baik hati juga tidak sombong dan rajin menabung demi panci baru yang warna warni" sapa si Sulung sambil memeluk Melisa dari samping.
Melisa hanya bisa tertawa mendengar candaan putranya yang memang benar adanya.
"Tuh kan wajannya baru lagi" seru Air saat mengurai pelukannya.
"Bagus gak?" tanya Melisa sambil trsenyum simpul.
"Yang penting enak, Mah"
" Pagi, Mah. Maaf aku kesiangan " ucap Hujan tak enak hati setelah mendapat ciuman selamat pagi dari mama mertuanya.
"Gak apa-apa, kalian butuh waktu banyak untuk istirahat"
Semuanya sudah duduk di meja makan termasuk Bumi yang justru baru pulang, anak kedua Reza dan Melisa itu di minta menginap di rumah utama karna ada hal yang ingin di Sampaikan sang Oppa padanya.
Hal penting yang menyakut masa depan putra kedua Rahardian.
"Oppa sehat, Kak?" tanya Melisa saat si tengah baru saja menarik kursi meja makan.
"Sehat, Mah. Akhir minggu ini ini kita di minta buat nginep disana" jawab Bumi menyampaikan pesan Oppa untuk keluarganya.
"Beres!! " timpal Reza.
__ADS_1
Semuanya sarapan pagi dengan di selingi obrolan ringan, makanan yang selalu terasa nikmat di lidah mereka kini tandas tak tersisa.
Dan dering ponsel milik Air mengalihkan fokus semua orang yang masih berkumpul di ruang makan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Biasakan angkat telepon di hadapan istrimu, kak!
πππππππππππ
Nah kan ππππ
Kena semprot papa Gajahπ ganteng π
Gak boleh nakal ya kak kalo gak mau di hukum nguras aer laut pake batok kepala π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.