Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 67


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air dan Hujan semakin pasrah saat Samudera justru lebih nyaman meringkuk memeluk gajahnya, ia berguling dan berceloteh dengan boneka berwarna abu-abu itu dengan sangat menggemaskan.


"Gimana ini?" tanya Hujan yang bersandar di sofa, ia sebenarnya tak tega jika harus mengganggu kenyamanan putranya tapi ia sedang merindukan putri kecilnya juga karna dua malam lalu sempat memimpikan Embun dalam dekapannya meski tak begitu jelas.


"Iya mana udah mendung"


Air kembali mendekat kearah Sam, Ia ciumi wajah tampan bangun tidur itu dengan lembut.


"MiMoy lagi kangen sama dede Embun, yuk kita main kesana" ajaknya lagi masih man coba merayu.


Samudra menoleh kearah Hujan yang menatapnya dengan sendu, ada kerinduan yang begitu jelas dari manik mata wanita yang setahun lalu melahirkannya ke dunia.


Embul.


"Haha, Embun bukan Embul" Air dan Hujan terkekeh gemas dengan pengucapan nama untuk adiknya itu.


"Iya, kita ke dede Embun yuk"


Yuk.. Embul.


Pasangan suami istri itu kini bisa bernafas lega saat Samudera bangun dari tidur nyamannya mendekap Gajah.


Yuk.


Hujan langsung menggendong Sam untuk di bawa ke kamar merapihkan dirinya karna anak itu tak akan mau jika Hujan memintanya untuk mandi lagi.


.


.


.


.


.


Amiin..

__ADS_1


Air, Hujan dan Samudera mengusap wajah mereka setelah Air mengakhiri doa untuk Embun yang pasti sudah sangat tenang di surga-Nya Tuhan.


Hujan menaburkan bunga diatas makam putrinya sambil meneteskan air mata, ia pernah mendekap tubuh Embun meski hanya beberapa detik saat lahir tak bernyawa lagi.


Moy apa


"Moy kangen dede Embul" jawab Air dengan suara parau, bayangan saat mengurus putrinya kembali berputar.


"Kita pulang yuk, udah mau sore" ajak Air saat bangun dari duduknya.


Ayan ayan Pay .


"Sam ngajak jalan jalan tuh" jelas Hujan saat melihat raut wajah suaminya yang kebingungan.


"Kemana?"


"Terserah deh, ke kebon binatang juga gak apa-apa" jawab Hujan sambil melengos pergi meninggalkan anak dan suaminya.


"Kalo ke kebon kamu, aku mau!" teriak Air.


Ketiganya kini sudah berada di dalam mobil, pilihan jatuh ke area perternakan hewan agar Samudera lebih banyak mengenal berbagai binatang kecuali Gajah dan Dinasarus.


Mereka lebih dulu mengisi perut agar Sam tak rewel saat bermain nanti.


"Baru buka dua bulan lalu kayanya" jawab Air dengan Sam dalam gandongan.


"Pasti kakak kenal sama yang punya" cibir Hujan.


"Iya dong, orang ini punya Abang, Hahahaha"


Hujan mencubit pinggang suaminya sampai merintih kesakitan dan itu malah membuat Samudera tertawa geli.


"Abang makin kaya aja nih" gumam Hujan.


"Iyalah, gak gitu bisa di pecat jadi mantu sama papa" jawab Air.


"Emang kenapa?"


"Aset Adek kan lebih banyak dari Abang"

__ADS_1


Hujan mengangguk paham, ia memang tahu betul jika Langit memang berdiri sendiri diatas kakinya tanpa warisan dari Biantara ataupun Rahardian.


"Wah, bagus banget kak" Hujan berucap takjub saat masuk dan melihat isi dari area peternakan modern milik Langit.


"Iya, bersih banget ya gak berasa bau"


Samudera meronta ingin turun dari gendongan Air untuk berjalan menuju para hewan yang jarang ia temui secara langsung.


Mam..


Air membeli beberapa sayuran untuk di berikan kepada para hewan.


"Dede mau suapin?"


Iyyaah.


Air menggendong Samudera kembali sambil memberikan wortel ke tangan mungil putranya.


"Nih, suapin sama dede ya"


.


.


.


.


.


.


.


Abing Ocong?



Astaghfirullah.. itu emang warna KAMBINGNYA ITEM πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


bukan karna GOSONG 🀣🀣🀣🀣🀣🀣


like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2