Air Hujan

Air Hujan
bab 93


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁



Pulang ke apartemen keduanya masih saling diam meski Air sudah seimut mungkin merayu sang istri agar mau tersenyum padanya tapi hasilnya Hujan masih diam seribu bahasa bahkan tatapannya bagai seorang ibu tiri yang siap merebus anak sambungnya.


Apapun yang ditanya Air hanya di balas anggukan atau gelengan kepala oleh Hujan membuat Air semakin frustasi dan sering mengacak rambutnya sendiri saking kesalnya.


"Jan..."


Gadis itu tetap tak menoleh ia asik di atas karpet bulu dengan laptop di depannya, Hujan sebisa mungkin merasa tak ada siapapun di dalam kamar saat ini. Ia sedang sekuat hati menahan diri dari semua rayuan dan rengekan suaminya itu.


"Masih gak mau maafin, kan bukan salah gue kalo Lo gak punya mantan! suruh siapa gak pernah pacaran" cetusnya lagi tak berdosa.


"Mending jomblo sejati sampe nikah dari pada dari bayi otaknya udah mesum!" sindir Hujan tak mau kalah.


"Maksud Lo itu, gue?" tanya Air menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya.


"Emang ada orang lain selain kita?" mata gadis itu masih fokus pada layar laptop yang menayangkan drama kesukaannya.


"Gak ada" jawab Air, pemuda itu semakin meringsek kearah istrinya.


Pikiran yang biasanya tak pernah jauh dari kasur kini entah melanglang buana kemana, bulu halusnya tiba-tiba meremang saat Hujan tak sengaja berdehem.


Ehem..


"Eh.. kurang asem Lo ya!" sentak Air yang merasa ketakutan

__ADS_1


"Apa sih!" Hujan yang risih mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


"Sana.. ngapain deket-deket? pisang Lo tuh tar nyariin?" sindir Hujan yang masih sering kesal dengan si kuning karena kedekatan mereka benar-benar tak terpisahkan.


"Oh ya. Pisang gue kasihan di kasur sendiri" Air langsung bangun untuk mengambil bantal Kesayangannya, sontak itu membuat Hujan semakin mendengus kesal.


Air kembali duduk di sisi Hujan dengan boneka pisang dalam dekapannya.


Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan begitu nyamannya sambil memencet dan juga memelintir bagian hidung si kuning, ritual wajib menjelang mimpi indah.


"Tidur sana kalo udah ngantuk, gue masih mau nonton"


"Hayu" ajaknya dengan suara pelan karna matanya sudah hampir terpejam.


"Tanggung" jawab Hujan singkat padat dan jelas.


Air menggeleng pelan, ia memilih bertahan duduk bersandar menemani sang istri yang membuat ia selalu merasa nyaman.


"Ay.. pindah yuk" Hujan mengusap pipi putih itu dengan sangat lembut.


"Kak.. Pegel loh tidur begini" bisiknya lagi.


Air menggeliat kecil dan justru memeluk istrinya dengan begitu erat dari samping, Hujan mengusap tangan suaminya yang melingkar di bagian dada lalu turun ke perutnya sendiri.


Pikirannya kini sedang jauh ke masa depan, ia memikirkan bagaimana dengan rumah tangganya nanti.


Jika ia benar menjadi seorang dokter sebagaimana seperti cita-citanya apa ia masih punya waktu untuk Air dan anaknya kelak, mengingat sang suami juga pasti sibuk dengan pekerjaannya nanti karna jabatan Direktur sudah menantinya saat ini.

__ADS_1


"Apa aku harus jadi mama yang harus dua puluh empat jam ngurus keluarga, tapi kasian sama bunda yang udah banyak berkorban demi aku" gumam Hujan dengan membuang nafas perlahan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gak usah jadi apa-apa...


Cukup jadi balon yang tinggal empat biar bisa kakak peluk erat-erat...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ngelindur nih bocah 🀣🀣🀣🀣


Balon mana nih?

__ADS_1


gue curiga Lo lagi mimpi basah 🀭🀭🀭


like komen nya yuk ramai kan ❀️


__ADS_2