Air Hujan

Air Hujan
Bab 196


__ADS_3

πŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈπŸ§šβ€β™‚οΈ


Hujan yang masih bersembunyi dibalik selimut tebalnya masih enggan bangun walau suaminya sudah rapih dengan stelan jas. Ia hanya senyum senyum melihat Air sedang menyisir rambutnya sendiri.


"Kak.... " panggilnya manja ingin di dekati.


"Hem" sahut si tampan tanpa berkata apa-apa.


"Sini dong, aku mau di elus, boleh?" pinta Hujan, Seminggu belakangan ini ia memang nampak selalu ingin di sentuh di bagian pinggang yang Kadang mendadak terasa pegal atau panas.


"Lusa jadwal chek ya, nanti kamu bilang sama dokter kalo pinggangnya sering pegel"'


Hujan menggelengkan kepalanya cepat.


" Kenapa?" tanya Air.


"Cukup kamu sentuh nanti juga enakkan kok" seru Hujan sambil tersenyum karna memang berangsur rasa panasnya mulai menghilang.


"Bayinya manja ya" kekeh Air merasa gemas, ia pindahkan tangannya kearah perut sang istri.


"Kok belum buncit sih, Jan"


"Iya, padahl udah mau tiga bulan ya" timpal Hujan yang sama anehnya namun juga khawatir.


"Kalah sama perut aku ya, aku buncit loh"


Hujan tertawa kecil, ia juga memegang perut sang suami yang memang terasa lebih besar dari sebelumnya

__ADS_1


"Ini sih isinya lemak, Kak" ejek Hujan yang kadang dibuat kualahan dengan nafsu makan Air yang luar biasa tak mengenal waktu dan tempat.


"Gak apa-apa demi bayi"


.


.


.


.


Air yang sudah berangkat ke kantor dari rumah utama langsung menjalankan tugasnya, pekerjaan yang menumpuk dengan jadwal meeting dan rapat berkali-kali sudah biasa ia lakukan saat ini, Ia yang nampak berbeda jika sudah bekerja tentu tak ada yang menyangka semanja apa dan se cengeng apa dirinya jika di rumah.


Bayangan papanya terlintas begitu saja, karna memang tiga hari ini ia belum datang ke apartemen meski hanya sejenak menjenguk.


"Kangen Papa" gumamnya pelan sambil meraih pigura yang terdapat foto masa kecilnya yang di cium oleh Reza diatas pangkuan pria itu.


"Hallo, Pah" sapa Air saat Reza mengangkat teleponnya.


"Iya, kak. Ada apa?" jawab Reza dengan pelan


"Papa masih mual sama muntah?"


"Udah mendingan, kak. Gak kaya dua bulan kemarin yang rasanya dunia kaya terbalik" keluh Reza yang memang benar benar merasa tersiksa dengan morning sicknessnya ini yang melebihi saat Sang istri hamil si kembar karna ia benar-benar tak bangun dari tempat tidur sama sekali.


Reza yang memang susah pensiun dari kantor memang tak harus memikirkan apapun lagi, ia fokus istirahat dirumah di temanin oleh Khumairahnya juga anak anak yang datang silih berganti siapapun yang sempat dan punya waktu.

__ADS_1


"Nanti kakak pulang ke sana ya, kakak kangen Papa" ujarnya sedih bahkan sudah menitikan air matanya.


Air yang tinggal dimana saja tentu tak pasti kemana ia akan pulang, waktunya kini terbagi dua antara kedua orangtuanya juga Omma dan Oppanya.


"Iya, Hujan bagaimana?, tolong Jaga kandungannya ya jangan sampai terjadi apapun dengan anak kalian" pesan Reza yang dibalas anggukan seakan pria itu ada di hadapannya.


"Sayangi dan cintai istrimu, kak. Jangan pernah lukai hatinya nanti kamu akan semakin sadar jika ia sudah berjuang melahirkan hasil siramanmu itu"


.


.


.


.


.


.


.


.


Tentu Pah, dia seseorang yang akan aku ceritakan pada anak anak ku kelak saat mereka bertanya, CINTA itu apa?


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Makin mlenyot dah nih hati neng kak 🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan


__ADS_2