Air Hujan

Air Hujan
bab 67


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tak ada yang bisa di lakukan si bayi buaya cengeng saat sang pawang sedang tak bersamanya, naik turun dan keluar masuk kamar entah berapa kali ia lakukan.


Sampai ia harus dimarahi Langit dan mamanya Karna terus iseng menggoda Cahaya.


"Ya ampun, gini banget sih gada si Jan Hujan dereeeeeees" umpatnya kesal.


Lagi-lagi pesannya kembali tak di balas, membuat Air semakin frustasi ingin melempar apapun yang ada di dekatnya.


"Jaaaaan, sini pulang!" rengeknya dibalik bantal yang menutupi wajah tampannya.


.


.


Air benar-benar layaknya anak ayam yang kehilangan induknya, padahal belum seharian gadis itu pergi dari sisinya tapi nyatanya kini sudah bagai menjungkirbalikkan dunia Air yang sudah terbiasa bersama Hujan.


"Kangen itu berat, gue gak suka, Jan!" gumamnya sedih.


.


.


Air terus berbaring di tengah kasurnya dengan ponsel di tangan, berharap sang istri yang berada jauh disana mau membalas satu pesannya saja.


TRIIIING


*Hujan


[ Ay, aku nginep boleh? ]


Air Langsung membulatkan Kedua matanya saat membaca isi pesan Hujan yang baru saja gadis itu kirim padanya.


* Air.

__ADS_1


[ Gak! pulang sekarang ]


*Hujan


[ kenapa?, besok kita langsung ketemu di kampus ok ]


Air menggigit ujung bantalnya karna semakin kesal sang istri masih terus beralaskan meski ia sudah jelas-jelas tak mengizinkan.


*Air


[ Gue bilang enggak ya enggak! pulang sekarang gue kangen!! ]


Ia mengirim pesannya dengan emosi yang meluap-luap, tak perduli jika nanti sang istri harus pulang dengan membawa muka masam tapi setidaknya Hujan selalu menurut jika ia melarangnya.


Tak ada pesan balasan lagi dari Hujan sudah bisa dipastikan jika gadis itu pasti sedang merasa kecewa saat ini, mungkin jika Air tadi ikut dengannya semuanya tak begini, ia bisa merayu pemuda itu agar lekas terbuai ke alam mimpi.


.


.


.


"Wah, kamu tinggal disini?" tanya Sepupu jauh Hujan yang bernama Bagas, ia begitu kagum dengan bangunan tinggi mewah yang kini ada didepannya.


"Iya, tapi maaf ya, aku gak bisa ajak kamu masuk karna aku masih tinggal bersama keluarga suamiku" ucapnya tak enak hati.


"Tak apa, aku hanya mengantarmu saja. Esok kita bisa bertemu lagi, kan?" tanyanya penuh harap.


Hujan menggelengkan kepalanya pelan dan ragu.


"Kenapa?" tanya Bagas.


"Besok aku kuliah sampai sore, pulang pun belum tentu aku bisa kerumah Bunda" jelas Hujan.


"Hem, aku sadar status mu, Jan" kata Bagas pengertian.

__ADS_1


"Terimakasih"


"Aku pulang ya, sudah malam" pamit Bagas yang di jawab anggukan kepala oleh Hujan sambil membuka setbelt nya.


"Hati-hati dijalan ya" pesannya pada Bagas sebelumia keluar dari mobil bunda.


.


.


Setelah melambaikan tangan, ia bergegas masuk kedalam bangunan pencakar langit itu, langkah kakinya langsung menuju lift khusus keluarganya.


Kotak besi itu akan membawa Hujan ke lantai dimana ia dan keluarga suaminya tinggal.


Tak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran Gadis itu untuk meminta mandiri atau tinggal hanya berdua dengan sang suami, ia tak pernah mempermasalahkan itu selama ini, semua berjalan dengan begitu baik karna mertua dan adik iparnya begitu sangat menerima ia dengan terbuka.


Hujan masuk kedalam apartemen dengan menempelkan cardlock yang ia punya sendiri, Lampu tengah yang sudah temaram menandakan jika penghuninya sudah terlelap di kamar mereka masing-masing.


Ia masuk dengan langkah kaki pelan, Namun ia tersentak kaget saat melihat suaminya justru tertidur di sofa dengan begitu nyenyak nya.


Hujan menghampiri Air dan berjongkok di hadapannya.


"Airnya Hujan" bisiknya di telinga Sang suami.


pemuda itu bergeliat kecil apalagi saat Hujan mencium pipinya, Bayi buaya Cengengnya yang begitu tampan saat terbuai mimpi, satu hal yang sangat ia banggakan karna ia satu-satunya wanita yang bisa menikmati ketampanan itu secara dekat.


"Ay, pindah kamar yuk" bisik Hujan lagi karna iapun mulai merasa kantuk.


"Hem.." jawabnya dengan mata masih terpejam.


"Ay, mau pindah gak?"


"He'eh" sahutnya tanpa sama sekali membuka kedua matanya.


Hujan yang kesal Bercampur gemas akhirnya bangun dari jongkoknya, ia bergegas naik keatas menuju kamarnya meninggalkan Air yang masih terlelap di sofa ruang tengah untuk mengambil bantal dan selimut untuknya juga.

__ADS_1


Malam ini kita tidur disini ya, kak!!!



__ADS_2