Air Hujan

Air Hujan
bab 37


__ADS_3

πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Hujan yang masih kesal dengan kelakuan suaminya terus saja memarahi Air, pemuda tampan itu bersikap seperti tak terjadi apapun ia bahkan sedang menikmati raut wajah kesal istrinya yang entah kenapa lebih menggodanya untuk tetap berbuat usil.


"Masih berapa part lagi nyanyi nya?" tanya Air pada Hujan yang duduk di depan cermin meja riasnya, karna Kini mereka sudah masuk kedalam kamar.


"Gue lagi marah, Ay!" sentak Hujan, emosinya semakin terpancing saat Air tersenyum padanya.


"Oh,kirain lagi nyanyi, kalo nyanyi sini gue sawer" godanya lagi sambil tertawa.


Hujan yang tak mau meladeni Air, akhirnya naik keatas tempat tidurnya, ia meringkuk menghadap tembok membelakangi suaminya.


"Jan, Jan Hujan dereeeeeees" panggil Air seperti biasanya.


Gadis itu tetap bergeming, ia tak mau membalikkan tubuhnya meski Air sudah memeluknya dari belakang, tanpa Hujan sadar posisi seperti itu lebih memudahkan sang Suami bermain-main dengannya.


"Bisa diem gak, Ay?" ujar Hujan yang merasa kesal dan geli saat hidung mancung Air bergesekan dengan tengkuknya.


"Gak bisa, gue belom tidur" bisiknya sambil menggigit kecil telinga Hujan.


"Tapi gue mau tidur, Lo diem!" pintanya lagi sambil menahan geram, kamarnya tentu tak sama dengan kamar suaminya di apartemen yang kedap suara.


Sedikit saja ia berteriak tentu Bunda pasti langsung bangun mendatanginya.


"Kita besok berangkat pagi, Ay. cepetan tidur"


"Gak mau, mau main-main dulu sama Hujan" Rayunya sambil memaksa tubuh sang istri untuk tidur dalam terlentang.


"Gue gak mau maen sama Air" sahutnya ketus.


"Maunya apa?, main tebak-tebakan lagi?"


"Gak.. gue cuma mau Lo diem karna gue ngantuk!" Gadis itu sudah tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Air, suami manjanya yang kini terus menempel padanya.

__ADS_1


"Tapi gue mau, ayo dong" rengeknya sambil terus menciumi pipi Hujan.


"Minggir!"


Hujan benar-benar mendorong tubuh Suaminya agar menjauh dan itu membuat Air kesal dan akhirnya bangun.


"Baru di gituin aja udah marah-marah, tar gue bikin di leher cewek lain kalo Lo gak mau!" ucap Air marah.


Pemuda itu keluar dari kamar dengan membanting pintu setelah meraih ponselnya.


Hujan yang baru melihat kilat mata penuh amarah suaminya tersentak kaget.


"Dia bisa marah juga, kirain cuma bisa modus" gumam Hujan sambil mengusap dadanya.


Rasa kantuk membuat Hujan memilih untuk tidur daripada harus mengejar suaminya.


Sikap cuek dan acuh memang itulah sifat Hujan sedari kecil, tak mau ambil pusing dengan orang lain selagi tak merugikannya.


.


.


Ia yang tak suka di tolak dan di cegah sungguh sangat kesal dengan sikap istrinya yang terus mengelak saat ingin melakukan pertualangan lagi.


Hujan tak tau rasanya menjadi dirinya yang kini mulai merasa tak ingin jauh.


"Di kasih enak, gak mau!, padahal kalo udah gue tabrak juga diem" kali ini ia yang terus mengoceh dengan tangan sibuk di atas layar benda pipih miliknya.


Sampai pada akhirnya waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, Air bergegas masuk saat ia melirik satu pohon besar di depan rumah Hujan.


"Serem, Ah.."


Tubuh tinggi itu masuk kedalam, tapi enggan masuk kedalam kamar istrinya, ia memilih untuk berbaring di sofa untuk melepas rasa lelahnya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalo yang ini papa gak boleh tau!!!



***Gajah harus tau,, gue bakal bisik bisik sama babang ganteng. biar Lo di ketawain sampe guling Guling πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Like komen nya yuk ramai kan ❀️***

__ADS_1


__ADS_2