Air Hujan

Air Hujan
Bab 154


__ADS_3

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Bye.. Bye.. cewe cewe MANDUL..


Air meninggalkan ketiga gadis yang sedang menangis histeris itu begitu saja didalam ruko, Ia pergi bersama Bumi dan Langit yang sudah tak lagi bisa membuka mata mereka karna menahan rasa kantuk.


"Udahan, Kak" tanya Langit saat ketiganya masuk mobil.


"Belom lah, enak aja cuma begitu!" jawabnya sambil menyalakan mesin mobil, diantara mereka tentu hanya Air yang belum merasa lelah dan mengantuk.


"Terus mau di apain lagi?" Selak Bumi yang sudah meringkuk di kursi belakang mengatur posisi tidurnya agar lebih nyaman.


"Nanti ada Sella sama Manda yang dateng kesana" jawabnya dengan senyum menyeringai.


"Nagapain?" Langit dan Bumi bertanya secara berbarengan.


"Tebak aja ngapain!" kekeh Air sambil membayangkan apa yang akan di lakukan dua sahabat wanitanya itu pada Vika, Melan dan Sarah.


"Manda itu bukannya yang dulu di omelin sama uncle gara-gara bikin tatto kodok di tangannya Mitha ya?" tanya Langit sambil mengingat ingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Iya tuh kodok padahal kecil banget ya" kekeh Air sambil terus fokus pada jalan di depannya yang nampak sangat sepi karna waktu sudah hampir pagi.


"Terus itu si Manda mau kamu suruh apa, Kak?" tanya Langit lagi karna Bumi sudah tak berdaya di kursi belakang.


"Kakak suruh bikin tatto di seluruh badannya" jawab Air.


"Tatto apa?"


POLKADOT...


Langit tercengang dengan jawaban Air, tapi bukan Air namanya jika kemauannyavtak aneh dan macam-macam.


"Coba aja Abang bayangin, Kepala mereka botak, badannya warna warni terus juga MANDUL" ucap Air kembali terkekeh.

__ADS_1


"Papa pasti ancurin keluarganya juga tuh, kayanya tadi udah cari tau latar belakang mereka deh"


Langit mengatakannya sambil bersandar di jok mobil.


"Kamu gak rusak milik mereka juga?" Tanya pria dewasa itu, karna ia juga ikut merasa kasihan dengan musibah yang menimpa Hujan.


"Kakak udah minta Manda sama sella yang lakuin, Kakak gak mau nyentuh mereka, Bang. Meski niatnya buat bales dendam tapi bayangan Hujan ada terus di mata kakak, dia kaya yang gak izinin kakak buat lakuin itu" lirihnya sambil menghela nafas.


"Hem, Udah bikin mereka jadi wanita gak sempurna aja kayanya udah cukup, mereka akan nyesel saat udah dewasa nanti karna gak bisa menjadi seorang Ibu" timpal Langit.


Keduanya diam tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, Air sesekali menoleh ke arah adiknya yang sudah mendengkur halus di belakang dan juga ke arah Langit yang duduk di sisinya, meski anak angkat mamanya itu tak tidur tapi Air tahu begitu banyak yang sedang ia pikirkan saat ini.


.


.


.


.


Triiiing.


Pintu kotak besi itu terbuka lebar, Ketiganya segera keluar bersamaan tapi hanya langkah Air yang sangat tergesa karna ia ingin segera menemui sang istri yang ia belum tahu kabarnya lagi.


Jantungnya berdegup kencang saat melihat kedua orangtuanya ada di luar terlebih saat melihat Mamanya menangis tersedu-sedu.


"Mah, ada apa?" tanya Air panik.


"Hujan kenapa, Pah?" pekik Air semakin penasaran.


"Hujan gak apa-apa" jawab Reza yang masih menenangkan sang istri dalam pelukannya.


"Ada apalagi sih! Hujan udah sadar belum, Pah?" Air merengek pada Reza yang nampak serba salah.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hujan udah sadar, tapi.....


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Aya neon deui sih babang ganteng ku..


Gajah mesum kesayanganku πŸ˜—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2