Air Hujan

Air Hujan
Bab 233


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang merasa sedikit lebih baik akhirnya bisa duduk tenang di karpet bulu depan TV bersama sang suami di belakang punggungnya.


"Gerah banget ya?" Tanya Air, tangannya masih sibuk menyisir kemudian mengikat rambut panjang Hujan.


"Iya, aku sampe basah begini" jawabnya dengan nafas tersengal.


"Ganti lagi ya bajunya" Tawar suami siaga itu, Air tak beranjak sejengkal pun dari sisi pemilik hatinya kecuali mengambil kan barang yang di perlukan Hujan seperti saat ini.


Air bangun dari duduknya menuju lemari, kemudian mengambil satu dress hamil untuk Sang istri yang sudah tiga kali mengganti pakaiannya.


Dengan cekatan ia lagi lagi membantu Hujan, hanya kain tipis yang menutupi kebun kecil milik istrinya sedangkan dua bukit kembarnya di biarkan tanpa memakai apapun karna Hujan mengeluh sesak dan sakit.


"Masih sakit?, Mau kerumah sakit sekarang?"


Hujan masih menggelengkan kepalanya, ia akan bertahan menikmati setiap proses panjang persalinan nya.


"Aku hubungi dokter ya, biar dia yang cek kamu disini kalo gak mau kesana" tawar Air lagi karna ia sepenuhnya belum merasa lega dengan kondisi Hujan yang masih sesekali meringis.


"Aku gak apa-apa, aku cuma laper, Ay" pintanya yang langsung membuat Air tersenyum senang karna akhirnya sang istri tercinta itu mau makan sesuatu.


"Tunggu disini, biar aku ambilkan"


.


.


Satu demi satu Air melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju dapur dengan cepat sampai akhirnya suara barang jatuh pun menggema ke seisi ruang tengah.

__ADS_1


"Plis deh, ini bukan saatnya lo jatuh cinta sama gue!" rutuknya kesal pada kursi yang ia tabrak barusan sampai terjungkal.


"Kak, apa sih? sendirian aja heboh banget" cetus Bumi yang baru datang dari arah tangga.


"Tau tuh, bangku maunya deket-deket aja!" jawabnya kesal sambil melengos kearah dapur sedangkan Bumi ikut juga berjalan di belakangnya.


"Hujan mau lahiran kapan?" tanya Si tengah.


"Gak tahu, tanya Mak Othor sana!" jawabnya sembari mengambil piring lalu membuka wadah nasi di atas meja makan.


"Gak dibawa kerumah sakit?, kan kasian. Sakit loh" ujar kembarannya itu lagi seakan ia pernah merasakannya.


"Gak mau, lagian kalo itung HPL itu, 'kan harusnya tiga hari mendatang. Gimana suasana hati Mak Othor ajalah, kalo lagi bae ya di lancarin tapi kalo gabut sama isengnya kambuh ya pasti di bikin drama kaya lele terbang" keluh si sulung yang malah menarik kursi dan ikut duduk di sisi adiknya sambil membuang nafas kasar.


"Kakak nyindir aku ya?" cetus Bumi yang langsung memasang wajah dingin bak es serut didalam tong tukang cingcau.


"Huft. Belom aja kakak ngerasain muter muter sampe berhari-hari dikerjain Mak Othor!" timpalnya lagi sangat kesal jika mengingat kejadian bertahun lalu itu.


"Capek ya?" ejek si Sulung lagi.


"Banget, pengen nimpuk berjamaah bareng bareng readers rasanya" sahut Bumi dengan tangan sudah melipat didada.


"Nah, ini nih yang bikin Mak Othor sensian, ckckck"


"Udah pelit, eh galak lagi. Kaya kakak dong lucu imut imut terus ganteng!" sambung Air lagi sambil mencibir lalu tertawa karna rasa percaya dirinya.


"Eh, Kalo ganteng kita sama ya!" protes Bumi yang memang keduanya memiliki wajah yang hampir seratus persen sama.


"Haha, tapi tetep aja jadi yang paling di sayang" ledek Air sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Makan sana, keburu dingin tuh nasi" cetus Bumi.


.


.


.


.


.


.


.


Astaghfirullah, Hujan yang mau makan!



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ghibah aja terooooooooooooos 😀😀😀😀😀😀


Gak.. gue gak denger kok, masih sibuk ngunyah batu bata di kolong kompor 😏😏😏😏


kalian belom liat gue MURKA ya 🀧 wahai kembar laknat!


Like komennya yuk.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2