Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 17


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Buntut gajah nangis terus, kenapa?" goda Reza saat meraih tubuh montok Cucunya yang tadi menangis.


"Pah, kok buntut gajah sih!" protes Air yang kini keistimewaannya sudah di lengserkan oleh putranya sendiri.


"Suka-suka dong, Anak kamu aja gak apa-apa" cibir Reza ke arah si sulung.


"Baby Bear, Pah. Dia tuh anak mata duitan!" ujarnya lagi meluruskan apa yang sudah di bengkokakkan papanya.


Plaaaaakkkkk.....


"Coba ngomong sekali lagi?!" cerca Hujan pada Air.


"Hehehe, maaf sayang"


Hujan melipat tangannya di depan dada sambil mendengus kesal, ia sangat merasa bersalah saat melihat Baby Bear begitu nyaman dalam dekapan papa mertuanya apalagi ketika itu juga Melisa mengusap punggung buah hatinya dengan sangat lembut.


"Maafin MiMoy ya de' gara-gara PapAy kamu yang pinter banget bohong, sekarang kamu harus punya adek. Maafin Hujan juga ya mah..pah, makin repotin kalian" gumam Hujan dalam hati yang merasa sangat sedih.


Air langsung merangkul bahu sang istri saat ia sadar jika wanita halalnya itu kini sedang tak baik baik saja, Air cukup mengerti apa yang kini di alami Hujan tak lepas dari keegoisanya juga yang hanya mementingkan hasratnya sendiri. Kecanduannya pada kenikmatan yang di berikan sang istri seakan menghipnotisnya untuk lupa akan segala hal termasuk putranya sendiri.


"Pah..Mah, mau ada yang kakak dan Hujan bicarakan dengan kalian" ucap Air mencoba memberanikan diri.


"Tentang apa?" tanya Reza.


"Tentang..."

__ADS_1


"Kita bicarakan habis makan malam ya, Sam mau mama atau kamu yang mandiin, Jan?' selak Melisa.


"Aku aja deh, Mah" jawab Hujan yang kemudian berjalan mendekat kearah papa mertuanya untuk mengambil alih Samudera yang masih menempel lengket di bagian dada Reza.


"Sama MiMoy, yuk"


Samudera tersenyum saat Hujan menyodorkan tangannya. Namun, bayi montok itu malah memalingkan wajah dan berjingkrak sambil menjerit.


"Gak mau dia, hahaha" kekeh Air ketika melihat tingkah menggemaskan anaknya yang sering menolak saat Ia atau istrinya ingin menggendong.


"Mau mandi sama Appa lagi ya?" ucap Reza sambil menciumi pipi bulat Samudera.


Hujan hanya bisa tersenyum kecil, ia begitu terharu melihat kedekatan putranya dengan kakek dan neneknya, ia sedang membayangkan jika Samudera adalah dirinya yang sedang di dekap hangat oleh almarhum ayahnya.


********


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Reza saat di rasa si sulung belum juga membuka suara.


"Hem, ini Pah," Jawab Air yang nampak kebingungan.


Melisa yang mendengar suara gugup anaknya pun langsung menoleh, ia kemudian melirik kearah Hujan yang menunduk memainkan jari jai tangannya sendiri.


"Ada apa, Kak?" Reza mengulang pertanyaannya.


"Apa kalian ingin pindah dari sini, atau..." Tebaknya langsung dari pada harus kesal menunggu Air yang belum juga mengatatakan maksudnya.


"Enggak, Pah. Kakak gak akan ninggalin kalian" selak Air cepat, baginya cukup dua adiknya saja yang memilih mandiri tapi tidak dengannya apalagi mengingat ia akan segera memiliki dua anak saat ini.

__ADS_1


Ya, lalu apa?" kini Melisa yang melempar pertanyaan, Wanita yang masih saja cantik itu juga mulai kesal karna penasaran.


Air menelan salivanya kuat kuat, ia raih tangan istrinya agar tangan mereka saling menggenggam. Ia pun berdehem pelan dan menegakkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Begini, Mah.. Pah. Kakak mau bilang kalau..." ucapnya terbata dan langsung di selak oleh kedua orangtuanya.


"Kalau apa, sih?!"


.


.


.


.


.


.


Hujan hamil lagi....


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻



Takutnya berasa kaya abis bikin dosa ya kak 🀣🀣🀣

__ADS_1


like komenan yuk ramaikan 😘😘


__ADS_2