Air Hujan

Air Hujan
bab 84


__ADS_3

,🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁



"Gak ada yang lebih berarti dibandingkan hari-hari Gue sama Lo, Jan" bisik Air setelah melepas ciuman lembutnya.


"Gak nangis, kan?" goda Hujan sambil menangkup wajah tampan suaminya yang entah kenapa akhir-akhir ini sering kali menatapnya begitu intens.


"Pengennya sih nangis guling-guling, tapi ini tanah tar punggung gue sakit, tar aja di kamar nangisnya" Ujar Air sambil terkekeh.


"Ngapain tuh dikamar?" tanya Hujan dengan senyum kecil di ujung bibirnya.


"Cih, pake nanya!" dengus Air pura-pura kesal.


Hari yang semakin sore dan hampir gelap membuat mereka akhirnya memutuskan untuk pulang setelah mampir sebentar ke sebuah bukit di pinggiran kota.


Jalan-jalan yang tak direncanakan sama sekali usai kuliah tadi.


"Mau langsung pulang apa mau kemana lagi?" tanya Air saat menyalakan mesin mobil mewahnya.


"Makan yuk, laper"


"Siap tuan putri, pangeran ganteng ini akan anter kemanapun yang tuan putri mau, kecuali ke neraka" jawabnya sambil tertawa.


"Dih curang! kenapa?" tanya Hujan sambil memukul lengan Air yang sudah bersiap memutar stir mobilnya.


"Gue ganteng begini udah pasti ahli surga, udah banyak banget bidadari yang nungguin gue, Jan" kekehnya lagi.


"Ya udah gue ikut" Cetus Hujan yang seakan ada perasaan cemburu dihatinya.


"Lo mau ikut gue ke surga?" tanya Air.


"Hem, iya! mau"


"Ya udah, jangan nolak mulu kalo gue ajak main basah-basahan, coba itu tolong di cek ya puasa gue apa gak kelamaan ya sepuluh hari tiap bulan?" tanya Air santai namun mampu membuat Hujan mendadak panik.


"Ya elah, cuma sepuluh hari doang, Ay. lagian gak full sepuluh hari puasa kan?, masih sering buka meski dengan berbagai jalan pintas, pake ini dan ini" ujar Hujan jujur polos dan apa adanya.


"Eh... itu ngomong gak pake filter, di ketawain netizen baru tau rasa Lo di kolom komentar nanti!"


Hujan langsung menutup kedua mulutnya sambil menahan tawa, sedangkan Air yang terlanjur gemas akhirnya mengacak-acak rambut sang istri.

__ADS_1



"Makan yang banyak biar masuk surga, Tar malem cari pahalanya tiga kali" goda Air pada Hujan yang baru saja ingin menyantap makanannya.


"Banyak amat tiga kali." kata Hujan dengan mulut penuh makanan.


"Iyalah, emang gue aki aki yang cuma sekali" balasnya sambil mencibir membuat Hujan hanya bisa tertawa.


Keduanya makan bersama diselingi obrolan dan candaan yang tak ada habisnya, jarang sekali pasangan ini membahas satu hal yang serius, termasuk soal anak kecuali mata pelajaran kuliah mereka.


Semua mengalir begitu saja tanpa drama yang menguras emosi kecuali ujian kesabaran yang Hujan harus hadapi soal sikap manja dan Cengengnya sang suami, tapi selama ini ia masih menikmatinya, ia yakin jika Tuhan akan memberinya Sabar tanpa batas dalam rumah tangganya.


Biar Air berubah dewasa secara perlahan, ia tak pernah mempermasalahkan hal itu selagi pemuda itu tak macam-macam di depan atau di belakangnya.


Karna semanja apa pun ia, Air tetap sosok suami yang bertanggung jawab dan ia paham hal itu.


Hujan selalu diikut sertakan dalam semua keputusan yang akan ia ambil.


"Jan.. Jan Hujan dereeeeeees"


"Woy, dih ngelamun!"


Air memanggil nama istrinya berkali-kali yang nampak sedang melamun.


"Hah?, Apa" jawab Hujan tergagap karna kaget.


"Mikirin apa sih? gue panggil gak denger?" tanya Air kesal.


"Gak mikirin apa-apa, Ay" jawab Hujan sambil menggelengkan kepalanya.


"Sekali lagi gak nyaut kalo gue panggil, gue ganti nama Lo bukan Hujan lagi" ancam Air.


"Loh kok! jadi apa?" tanya istrinya.


"Jadi Imas" jawab Air serius tanpa senyum sama sekali.


"Imas?" gumam Hujan bingung.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


IMASyaallah cantiknya....


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Udah lah kak.. gue mau melambaikan tangan aja..


gak kuat sama Lo lama-lama 🀭🀭🀭🀭


Gue berasa uji jantung saking bapernya!


Gak nyangka ya, anak hasil maling kue di hajatan orang jadinya ngegemesin begini ,πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️β™₯️

__ADS_1


__ADS_2