Air Hujan

Air Hujan
bab 130


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hari hari berlalu begitu saja dan tak pernah berubah, semua sama seperti biasanya. Air dan Hujan masing-masing sibuk dengan kegiatan dan aktvitas mereka di luar kuliah yang hampir setiap hari.


Jalan-jalan mencari makanan pada waktu malam menjadi rutinitas yang masih mereka lakukan setelah dari pagi hingga sore tak berjumpa.


"Bawa motor ya" pinta Hujan saat Air memakai jaketnya


"Gak! nanti kamu kedinginan! " jawab Air menatap tak suka atas permintaan sang istri.


"Biar seru kita boncengan, udah lama loh kita gak jalan-jalan naik motor " rengek Hujan sambil memeluk perut Air dengan wajah ia dongakkan.


"Gak usah ngerayu, gak mempan!" balas Air sambil menangkup wajah cantik pemilik hatinya itu lalu mencium bibir sang istri yang selalu membuat ia candu.


Drama negosiasi berjalan begitu alot yang sampai akhirnya Air kali ini kalah dan menuruti kemauan Hujan untuk keluar memakai motor setelah Ia di serang secara mendadak oleh istrinya.


"Pokoknya abis jajan nanti pas pulang, kamu harus kaya tadi" pinta Air sambil menuruni anak tangga, ia rangkul bahu sang istri dengan tangan kanannya.


"Hem, kalo aku kenyang sih Ok aja"


"Tar kakak beliin sama gerobaknya ya" kekeh Air sambil mencubit pipi Hujan.


"Sama Abang juga gak apa-apa, apalagi kalo ganteng" goda Gadis cantik itu yang langsung membuat suaminya merengut.


"Kamu belum pernah keselek galon ya!" ketus Air kesal.


.


.


.


Sampai di lantai bawah keduanya berpamitan pada Reza dan Melisa yang kebetulan ada di ruang tengah usai makan malam.


"Mah, Pah.. kakak mau pacaran ya" kekehnya sambil mencium pipi Melisa.


"Pacaran mulu, kapan kasih cucu nya nih" ledek Reza pada si sulung

__ADS_1


"Emang papa mau?, aku sih siap jadiin" timpalnya lagi sembari menaik turunkan alisnya.


"Urusin, jangan cuma asal jadiin" sindir Reza lagi.


"Udah.. udah! nanti kalian pulangnya malah kemaleman" ucap Melisa setelah mencium juga pipi menantunya.


Air pergi menggandeng sang istri yang mengulum senyum, keduanya melangkah santai menuju parkiran apartemen.


"Nanti malem kalo sampe muntah muntah awas ya" ancam Air sambil memakaikan helm dikepala Hujan.


"Iya, aku muntah sendrian, gak akan ajak kakak lagi" jawabnya sambil terkekeh karna yang sudah sudah biasanya Air aka ikut mual jika mendengar suara muntahan orang lain dan alhasil keduanya akan muntah ssecara bersamaan.


****


Air menjalankan sepeda motor besarnya dengan kecepatan sedang karna memang tak terlalu terburu-buru, ia ingin menikmati malam ini jauh lebih lama karna esok hari sang istri akan menghadiri rapat bulanan di rumah sakit miliknya hadiah mahar saat pernikahan.


"Mau makan apa?" tanya Air sambil menggengam tangan Hujan yang berada di perutnya.


"Gak laper sih, cuma pengen main aja. Tapi ngemil boleh juga tuh"


Ngemilikin kamu, kak!!!


"Cih, kan emang udah! kamu pikir emang kakak miliknya siapa?" ledek Air.


"Pisang!" jawab Hujan sambil tertawa, gadis itu selalu merasa si kuning adalah selingkuhan abadi suaminya.


Air hanya mencibir, ia tak ingin menimpali karna baginya pisang dan Hujan tentu sama pentingnya.


Ia menepikan motornya di area parkiran kedai jajanan khas salah satu kota yang cukup terkenal dan ramai.


"Aku pesen dulu, kamu cari meja ya" ucap Hujan saat masuk kedalam kedai yang di balas anggukan oleh Air.


Pemuda tampan itu memilih meja paling pojok dekat tangga, suasananya sedikit tersembunyi dari pengunjung lain.


"Ya ampun, mojok banget sih kak, sampe ke nomor tujuh begini. Itukan meja nomor dua kosong! " keluh Hujan.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kan emang TUJUHan kakak biar sama kamu


Bukan menDUA kan kamu!!!



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ea... dasar koplak..


si tukang kardus yang banyak akal bulus.


Omongannya tajem banget, nih hati mak othor bagai tersayat πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ


Btw.. like komennya yuk..


Yang gak like di bab 128 tolong di cek trus di like ya. πŸ˜„


Cuma like loh gak susah kan πŸ˜₯selisihnya sampe 300 like 😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2