Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 34


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Lakukan yang terbaik atau kalian akan pulang tanpa KEPALA" Air mengatakan itu semua tentu bukan tanpa alasan, ia yang begitu panik dan takut tentu ingin yang terbaik untuk anak dan istrinya. Ia sedang tak ingin mendengar alasan apapun. Air hanya ingin keduanya selamat dan kembali kepelukannya dalam keadaan sehat seperti biasa.


"Kak, jangan pergi ya. Temenin aku, aku takut" pinta Hujan saat berada di dalam ruang pemeriksaan.


Dokter yang sibuk tak lagi keduanya hiraukan, mereka hanya bisa saling menggenggam tangan untuk menguatkan satu sama lain.


"Aku tak akan meninggalkamu, apapun yang terjadi aku disini, Sayang" bisik Air yang duduk dekat kepala Hujan.


Dokter yang memeriksa kondisi kandungan Hujan pun menarik nafas mereka dalam-dalam sembari saling pandang sebelum mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Hujan dan bayinya.


"Maaf, Tuan muda"


Suara Seorang wanita membuat keduanya menoleh secara bersama.


"Apa yang terjadi?" tanya Air sambil menghapus air matanya.


"Air ketuban Nona muda sudah sangat kering" jelasnya tegas karna sadar ini darurat.


"Lalu?"


"Bayinya tidak bisa di selamatkan, kami akan mengeluarkannya dengan segera" ucap dokter lagi yang bagai serangan petir di siang bolong.


Hujan langsung histeris bahkan rasa sakit tak lagi ia perdulikan hanya bayangan bayinya yang empat bulan lagi akan lahir yang terus ada di pelupuk matanya.


"Kakak...... "


"Sabar ya, bukan rejeki kita. Allah mau ambil lagi gak apa-apa ya. Kita harus ikhlas" Air terus menenangkan Hujan yang menangis menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku kurang jagain bayiku, Kak. Aku jahat banget udah bikin dia begini. Aku ibu yang gak bisa buat pertahanin anakku sendiri" lirihnya di sela isak tangis yang begitu sedih, siapapun yang mendengar pasti langsung paham dan ikut larut dalam penyesalan Hujan.


"Hey, kamu yang terbaik. Stop menyalahkan dirimu sendiri"


.


.


.


Pagi menjelang siang Hujan belum juga bangun dari tidur panjangnya, ia terpaksa di beri obat penenang agar bisa sedikit mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang kacau.


Air yang sempat terlelap sebentar langsung bangun saat tangan mungil Samudera menyentuh pipinya.


"Udah dateng ya sayangnya PapAy" ujarnya sambil meraih Baby Bear dalam gendongan Melisa.


"Biarin, Mah. Kasihan nangis terus"'jawab Air yang merasa serba salah.


" Kalian harus inget, masih ada Samudera. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Sam tetap butuh kalian meski ada mama dan papa, Paham?!"


"Iya, Mah."


Melisa mencium kening Hujan yang masih terlelap, dokter terpaksa memberi obat penenang saat Hujan melihat Bayi yang masih sangat kecil itu tak lagi bernyawa, Hujan menjerit histeris dan melarang suster membawa Little princess nya untuk di bersihkan lebih dulu.


Kini semua keluarga Rahardian sedang sangat berduka, karna hal ini baru terjadi di keluarga mereka mana kala ada keturunan yang tak bisa di selamatkan meski sudah melakukan hal yang paling baik sekali pun.


"Kalian harus bersabar, semua ini ujian dalam rumah tangga kalian. Pahit manis suka dan duka sudah kakak dan Hujan lewati, mama harap ini justru semakin menguatkan cinta kalian bukan justru menjadikan sebuah masalah sebagai alasan rumah tangga berantakan"


Air hanya mengangguk paham sambil terus menciumi wajah menggemaskan Samudera yang seakan mengerti dengan kesedihan orangtuanya kini.

__ADS_1


"Kalian bisa memberi adik lagi untuk Samudera lain waktu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Samudera ErRainly Rahardian Wijaya akan jadi anak tunggal bagiku dan Hujan, Mah!



Bayi buaya cengeng langsung trauma ya😭😭😭


Baby Bear gak jadi deh Abangnya...


like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2