Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 118


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Tapa yang mahu iyup puna dede?"


"Waduh!!" ujar Reza panik saat cucu kesayangannnya itu menangis dan meraung di lantai kamar mandi.


"Dede mau besal kaya Appa" teriaknya lagi dengan derai air mata uang sudah banjir di kedua pipi mulusnya.


"Nanti besarnya kalau kamu juga udah besar dan tinggi, kalau kamu kecil ya ekor tututnya juga ikutan kecil" jelas Reza, kini pria yang polos tanpa apapun itu berjongkok di hadapan Sam.


"Tapan besalnya? besok ya"


"Kalau dede udah sebesar papAy, Ok" rayu Reza lagi mencoba membangunkan Sam agar mau berdiri.


"Dede mahu di iyup taya Appa, ntal Amma ama Moy iyup etol tutut dede bial besal" pintanya sambil terisak.


"Mampus dah gue!" gumam Reza seraya menepuk jidatnya sendiri. Jangan sampai obrolan unfaedah antara gajah dan tututnya ini terdegar oleh sang pawang.


Ceklek


Melisa yang mendengar Samudera menangis di dalam kamar mandi dengan cukup kencang tentu langsung menghampirinya dengan rasa khawatir.


"Ada apa sih? dede mau mandi kok nangis?" tanya Melisa, ia menatap suami dan cucunya itu secara bergantian.


"Dede mahu....."


"Deda mau main sabun, Ra" selak Reza yang langsung menutup mulut Samudera.

__ADS_1


Melisa mengernyitkan dahinya, ia sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan sang suami perihal alasan tangis Samudera.


"Yakin? Mas Reza gak macem macem, kan?" tanya Melisa memastikan.


"Bener, udah sana! ganggu laki ganteng lagi mandi aja, ON kan jadinya" ujar Reza sambil melirik kearah miliknya yang menegang.


"Ish, aku kan gak ngapa-ngapain" kata Melisa sambil mencibir kearah suaminya.


Melisa yang kembali keluar meninggalkan Reza yang tertawa tebahak bahak sendiri karna Sam nyatanya tak paham dengan yang di bicarakan kakek dan neneknya tadi.


Huaaaaa... Etol tutut Appa matin besaaaaaaaal..


*******


Drama tangisan Sam tentu berakhir dengan segudang janji yang di berikan Reza pada Sam, mulai dari mencari Kelinci sampai jalan jalan di taman akan mereka lakukan bersama.


"Dede kenapa?" tanya Air saat melihat kedua mata anaknya memerah.


"Nda apa apa" jawabnya kesal.


"Dede marah marah terus nanti papAy kasih adek ya" ancam Air karna baginya sikap putranya itu terlalu manja.


"Nda mahu ih, dede Nda mahu puna ade" tolak nya keras lalu kembali memanyunkan bibirnya.


"Orang dede udah punya adek ya, dede Embun" kata Hujan membela putranya.


"Iya, dede ada Embul agih bobo Nda banun banun" ucapnya yang langsung membuat hati Hujan mencelos, Air langsung meraih punggung tangan istrinya saat semua maya tertuju padanya.

__ADS_1


Usai sarapan bersama, semuanya kembali ke aktifitas masing-masing termasuk Air pergi ke kantor yang kemudian satu jam berikutnya Hujan pergi ke kampus. Kegiatan pasangan suami istri nampak makin sibuk akhir akhir ini.


"Tapan iya cincinya?" ajak Sam lagi.


"Iya... ayok pergi sekarang"


Keduanya berjalan bergandengan setelah berpamitan pada Melisa, selama tinggal di rumah utama Khumairahnya itu memang sudah jarang keluar rumah, ia benar-benar mengabadikan dirinya ikut merawat Oppa yang kadang kesehatan menurun secara mendadak.


Reza memilih Ke tempat sang menantu, ia akan meminta satu kelinci yang ada disana untuk dibawa pulang kerumah demi Samudera.


"Nda olen?" tanya Sam.


"Cat aja biar Orange, Dek" kekeh Langit saat menyerahkan kadang besi berisi satu ekor kelinci.


"Bica?" tanyanya lagi.


"Bisalah, jangan orange, mau warna warni kaya pelangi juga bisa" sahutnya dengan antusias namun nyalinya menciut saat mendapat sorot tajam dari papa mertuanya


.


.


.


Nda deh.. Nih aja danteng taya dede.. buye!


__ADS_1


__ADS_2