
πππππππ
Perdebatan dan keributan memang sudah biasa terjadi, tak ada rumah tangga yang mulus tanpa selisih paham. Begitu pula dengan Air dan Hujan.
Pasangan muda yang menikah di awal kuliah itu sudah banyak mengalami pasang surut, manis dan pahit rasa rumah tangga mereka. Perjuangan Air dalam mempertahankan Hujan tak main main, ia menjadi sosok suami setia dan siaga saat permasalahan besar dan kecil menimpa, padahal sudah sejak remaja Air adalah seorang Playboy yang memiliki kekasih tak terhitung sampai kadang ia sendiri lupa siapa yang akan mendapat giliran bersamanya.
"Kamu bentuk bahagia ku, Jan Hujan deres yang takut petir" Air berucap sambil memeluk tubuh sang istri yang selalu membuatnya candu.
Hujan benar-benar membuat dunia seorang Air Rameza Rahardian Wijaya berubah seratus delapan puluh derajat. Sikap tegas dan galaknya memberi kenyaman tersendiri bagi Air yang manja, tapi tak jarang sikap mereka pun saling bergantian.
"Terima kasih sudah memilihku, Terima kasih tetap bersama dan bertahan di sisiku meski sifatku sering menyebalkan. Jangan pergi ya, Cantik. Jika aku salah tegurlah aku, akan ku perbaiki semua salahku. Aku mencintaimu"
Hujan yang merasa hatinya kacau, semakin mengeratkan pelukannya, ia tahu tanpa suaminya bercerita.
"Aku paham, tapi rasa cemburu ini tak bisa kutahan, kak" lirih Hujan.
"Tapi perlu di tahan, ungkapkan apapun yang membuat dadamu sesak, Sayang. Keluarkan air matamu untuk meluapkan rasa sedih. Aku disini, bajuku masih bersih untuk menyeka ingusmu, Moy" goda Air yang langsung mendapat cubitan kecil di bagian perut. Hujan merengek kesal dan jadilah keduanya tertawa bersama.
"Gak usah sedih-sedih, aku milikmu dan akan selalu menjadi milikmu."
__ADS_1
"Iya, Iya... aku tahu."
Air menarik dagu Hujan agar lebih dekat, keduanya berciuman begitu lembut sampai mereka akhirnya saling menuntut untuk lebih dalam dan lama. Air seolah tak memberi ampun Hujan untuk mengambil nafas sampai wanita cantik si calon dokter itu hanya bisa mencengkram bahu suaminya. Pergulatan lidah membuat keduanya hanyut dalam ke intiman dan gelora Nap Su yang membara sampai tak sadar jika pintu kamar mereka kini sudah terbuka sedikit.
.
.
.
"Aduh, dede muyes banet ah..." suara gelak tawa terdengar mengisi ruang tengah saat semua anggota keluarga berkumpul usah sarapan.
"Udah jangan di gangguin terus, Mas" cegah Melisa pada suaminya yang terus menggelitik perut cucu mereka.
"Tapi dede muyes, Appa" kekehnya lagi yang kini justru berlari kearah Air, papaAynya yang justru malah sedang bermanja pada Hujan.
"Lontongin dede, Paaaay" jerit Sam yang kini sudah meringsek naik keatas pangkuan Air.
"Duh, pelan pelan dong, nanti kamu jatuh" ucap Hujan yang langsung khawatir dengan tingkah tak mau diam anaknya.
__ADS_1
"Appanya gitik gitik dede telus, oey"
"Oh, dede nya gak mau di gelitik, sini Moy cium aja" Sam tertawa kecil saat ia sudah berpindah duduk keatas pangkuan MiMoynya yang perasaannya kini sudah lebih baik di banding kemarin.
Hujan menciumi seluruh wajah sang buah hati berkali kali, Sam hanya bisa tertawa menikmati kasih sayang yang di berikan si wanita hebatnya.
"Moy cium mulut dede nih" pinta sang Tutut.
"Gak boleh, sayang"
"Kenapa?" tanya Sam.
"Gak boleh, gak sehat de..." jawab Hujan lagi.
.
.
.
__ADS_1
Tapi dede lihat PapAy cium mulut Moy, kemalen Oey...