Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 16


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air yang bergegas naik ke lantai dua apartemen langsung masuk kedalam kamar orang tuanya, ia menghela napasnya saat melihat Baby Bear kesayangannya itu sedang tidur memeluk boneka gajah di tengah ranjang.


"Ya ampun, udah di beliin beruang kenapa meluk gajah sih, bangun kamu udah gede mesum terus kaya papa!"cetusnya sambil mengangkat tubuh putranya yang tertiduur lelap


"Kita pindah yuk, MiMoy lagi kangen sama kamu" ucapnya sambil menciumi pipi bulat Samudera.


Air membawa anak pertamanya itu pindah kekamarnya sendiri, disana sudah ada Hujan yang duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya.


"Aku harap kita bisa kaya mama juga papa yang bisa membagi rasa sayang secara adil dan rata buat anak-anak nanti, Jan" ucap Air yang mengangetkan lamunan Hujan.


"Iya, semoga. Aku juga lagi memikirkan hal itu" jawabnya sambil mengusap pipi Samudera.


"Kamu istirahat bareng Baby Bear ya, aku mau keluar sebentar" izin Air pada Hujan, wanita itu pun mengernyitkan dahinya.


"Mau kemana?'


"Mau ke bengkel sebentar ada temen aku disana, besok aku udah masuk kantor lagi" jawabnya yang di balas anggukan pasrah sang istri.


"Aku gak lama, kalau butuh sesuatu telepon aku ya" pesannya pada Hujan.


Air mencium kening dan kedua piipi istrinya begitu juga dengan Samudera yang mendapat perlakuan yang sama darinya sebelum keluar dari kamar.


.

__ADS_1


.


.


Hampir jam empat sore nyatanya Air belum juga pulang ke apartemen, Hujan tak berani menelepon karna ia tak ingin mengganggu sang suami yang sedang berada di luar rumah. Hujan sedang memberi waktu pada Air untuk sedikit lepas dari beban tanggung jawabnya sebagai direktur dan juga kepala rumah tangga,karna ia tahu jika semua itu tak mudah bagi suaminya maka hari ini ia akan membiarkan Air memiliki waktu sejenak bersama teman-temannya.


CEKLEK..


Melisa masuk kedalam kamar saat Hujan menyahut dan mengizinkan masuk, wanita yang masih hoby masak dengan wajan warna warninya itu kini duduk di sisi sang menantu yang terlihat sehabis melamun di sofa karna tak ada Samudera di pangkuannya.


"Kakak belum pulang?kemana dia?" tanya Melisa.


"Ke bengkel, Mah"


"Sam udah dari tadi tidurnya? udah sore loh ini belum mandi" ujarnya, dengan sorot mata tetap menatap kearah bayi montok yang mendengkur halus.


"Belum lama, Mah."


"Ya sudah, kalau nanti bangun kamu mandiin ya, biar nanti malam tidurnya nyenyak" pesan Melisa sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.


Sepeninggal sang mama mertua kini Hujan kembali sendiri, ia menghela nafasnya dalam dalam dan membuangnya secara kasar ia tutup kedua matanya seraya meremat ujung baju bagian dadanya.


"Padahal aku udah niat buat balik kuliah lagi saat Sam berumur satu atau dua tahun, tapi jika aku hamil seperti ini rasanya aku harus kembali mengubur impianku" gumamnya pelan dengan nada pasrah.


"Baiklah, mengabdi sebagai ibu dan istri bukankah itu juga hal yang mulia melebihi menjadi seorang dokter yang bisa ku gapai kapan pun karna tak ada kata terlambat dan tua untuk menuntut ilmu" tegasnya lagi menguatkan dan menghibur diri sendiri karna hal ini memang belum ia bicarakan pada sang suami.

__ADS_1


"Jan..Jan Hujan Deres" panggil Air dengan sedikit keras sampai Hujan menoleh kearah pintu lalu sedetik kemudian pandangannya beralih pada box bayi karna mendengar Samudera menangis.


"Kakak gak bisa ya kalo gak berisik!'


"Maaf, aku kira gak tidur"


Air dan Hujan bersamaan menghampiri sang putra mahkota Rahadian di dalam boxnya, bayi montok itu terus terisak sambil menggesik matanya sendiri.


"Papay nakal ya, Dek" ujar Hujan yang terus mencoba menenangkan samudera dengan cara menyusui tapi bayi montok itu terus menghindar dan semakin keras menangis.


Namun, Baby Bear berhasil diam saat Gajah dan pawangnya datang, hanya mendengar suaranya saja langsung membuat Samudera tersenyum simpul.


.


.


.


.


.


Buntut Gajah nangis terus, kenapa?


__ADS_1


__ADS_2