
πππππππππ
"Kak, makan sih, aku enek liatnya itu cuma di aduk-aduk aja, Jorok!" keluh Bumi yang kesal karna kakak kembarnya itu hanya memainkan makanan tanpa di santap sama sekali.
"Males" jawabnya ketus.
"Kalo males ngapain pesen, kan mubazir" balas Bumi.
"Ya udah biar gak mubazir makan nih"
Air menggeser piringnya ke arah Bumi, tentu adik kembarnya itu langsung mendengus kesal.
"Gak mau!"
kedua pasang mata itu terus saling menatap tajam, Air yang sedang kesal dan Bumi yang semakin jengkel dengan sikap kakaknya itu.
Bohong, jika keduanya selalu terlihat akur dan damai karna tetap saja ada yang mereka ributkan walau hanya masalah sepele, dan Bumi lah yang biasanya mengalah.
"Aku waras, diem!" ujar si tengah santai.
"Terus kakak gak waras, Hah?" sentak Air, Sampai beberapa temannya menoleh.
"Ya udah, kalo kakak ngerasa waras ya ikut diem dong" ujarnya lagi dengan tangan melipat di dada namun matanya justru tajam melihat seseorang di belakang Air, sontak pemuda itupun menoleh.
.
.
"Jan Hujan dereeeeeees"
Hujan langsung memeluk bayi buaya Cengengnya itu, Rasa Kasihan, Lucu dan menggemaskan tengah mengacak acak hatinya
"Kenapa?" tanya Hujan sambil mengusap kepala suaminya yang sudah sangat menempel di dadanya.
"Bumi nyebelin!" adunya pada sang istri.
Cih...
Bumi langsung bangkit dari duduk saat di salahkan oleh Air, Sudah biasa memang, tapi tetap saja ia merasa jengah dan bosan.
"Aku pulang!" pamitnya kemudian.
Kini tinggal Air dan Hujan yang berada di kantin kampus dengan beberapa mahasiswa lainnya, karna ini kelas terakhir jadi tak banyak orang di sekitaran bangun mewah ini.
"Mau pulang sekarang?" tanya Hujan, Ia sudah semakin terbiasa dengan kontak fisik diantara keduanya, meski di tempat umum.
"Lemes" ucapnya pelan.
"Ya udah ayo pulang, tar gue yang bawa mobil"
Air menggeleng dan malah justru semakin menenggelamkan kepalanya pada sang istri.
Sikap manjanya sudah jadi hal biasa yang tak bisa di ganggu gugat, terlebih ia sendiri pun tak pernah mengganggu urusan orang lain.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan para deretan kekasihnya?
kuat bertahan tak kuat tinggalkan.
*******
Tiga puluh menit merayu, Akhirnya Air mau mengalah untuk pulang Karna hari semakin sore jika mereka pulang bertepatan dengan jam keluar kantor sudah bisa di pastikan semacet apa jalanan nantinya.
Dan itu akan membuat Air semakin uring-uringan tak jelas, tingkat kesabaran Hujan pun akan semakin di tantang.
Hujan membawa membawa mobil dengan kecepatan sedang, ia sesekali melirik kearah suaminya yang justru malah terlelap disisinya.
"Kalau dia yang bawa mobil gimana?" gumam Hujan sambil tersenyum kecil.
Perjalanan pulang berakhir saat Gadis itu mematikan mesin mobil mewah milik suaminya.
Kereta besi itu kini sudah terparkir di lobby Apartemen bersama mobil milik keluarga lainnya.
"Ay, udah sampe"
"Ay.. turun yuk"
Hujan terus membangunkan Air dengan mengguncang bahunya Secara pelan sampai akhirnya sedikit kasar.
Agar sang suami bisa cepat membuka matanya.
"Udah sampe,?" tanyanya sambil menggeliat kecil.
"Udah, yuk . Laper" ajak Hujan sembari membuka setbeltnya.
Keduanya turun dari mobil langsung menuju lantai apartemen mereka tinggal.
.
.
"Biasanya malem," jawab Air.
Tak ada siapapun di apartemen, hanya Air dan Hujan karena kedua orangtuanya sedang berasa dirumah sakit bersama Cahaya dan Langit.
Dan untuk Bumi, entahlah!
Mereka langsung masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri, kemudian makan malam di dapur dengan makanan yang sudah disiapkan Melisa.
.
.
"Satu..dua.. tiga..empat..lima..enam.. tujuh..delapan!"
"Hujaaaaaaaaaaaaaaaaan" teriak Air diatas tempat tidurnya.
Hujan yang sedang berada di atas karpet bulu menonton drama kesukaannya langsung menoleh.
"Apa?" tanya nya bingung
__ADS_1
"Udah delapan malem gue gak main-main" rengeknya kesal sambil melempar bantal.
Itulah alasan yang membuat ia sering marah-marah tak jelas, galau dan kesal, sifat manjanya kini berkali kali lipat pada sang istri.
"Mau diapain lagi?" tanya Hujan sambil mendekat, kemudian meringsek naik keatas kasur.
Hujan selalu sabar menanggapinya, ini memang salahnya juga melarang sang suami padahal belum waktunya dan masih melarangnya juga meski sudah waktunya. Air hanya bisa main-main di luar masa suburnya dan ia cukup konsisten akan hal itu, Hujan masih kuat dengan rengekan sang suami yang menjengkelkan namun juga menggemaskan.
"Hayu....." pintanya manja dalam pelukan sang istri.
"Belum boleh, nanti ya" tolak Hujan
"Emang belum bersih?" tanya Air bingung, ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hujan
"Belum, dua atau tiga hari lagi ya. kalau mau, kaya kemaren aja gimana?" tawar Hujan yang merasa kasihan pada bayi buaya cengengnya itu .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gak mau. Gue mau nembak ditempatnya!!!
πππππππππ
Emang Kmren2 nembak dimana? πππ
Di ini apa di ini? π€π€π€π€π€
Ajaran si gajah kayanya di pake ya ππ
__ADS_1
Sesat otak Lo kak!!
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ