Air Hujan

Air Hujan
bab 142


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ups.. Maaf..


Hujan menoleh karna kaget, ia panik dan langsung bangun dari duduk saat bajunya tersiram jus buah yang di pegang salah satu temannya yang kebetulan lewat sambil bercanda dengan temannya yang lain.


"Jan, maaf ya"


"Iya, Gak apa-apa" jawab Hujan sembari membersihkan kebasahan di bajunya.


"Keliatan banget, Jan"


Hujan hanya tersenyum tipis, ia marah pun tak membuat bajunya kering kembali.


"Santai aja, Gue mau ke toilet bentar" pamit Hujan.


.


.


Sampai di toilet Hujan kembali membersihkan bajunya yang basah di depan wastafel, ia menghela nafas karna warna merah di bajunya jelas sangat terlihat.


"Loh, Jan. Kenapa?" tanya seseorang yang Hujan hanya tau nama tapi ia juga tak begitu kenal karna itu salah satu mantan suaminya.


"Gak sengaja ketumpahan jus buah" jelas Hujan pada Melan, nama gadis itu.


"Ini keliatan banget, dada lo sampe jiplak gitu" kekeh Melan yang langsung membuat Hujan tersenyum kecut karna memang benar adanya.


"Ganti baju aja, Mau?" tawar Melan.


Hujan mengernyitkan dahinya lalu menggeleng.


"Gak bawa baju ganti."


"Pake baju gue, gimana?" Melan berbicara sambil meraih tangan kanan Hujan.


"Gue ngekos deket sini, Yuk ikut. Gak akan lama kok" ajaknya sambil menarik tangan Hujan keluar dari toilet.


Hujan yang seperti terhipnotis hanya manut dan ikut saja berjalan di belakang Melan, kedua gadis itu sempat sedikit menjadi pusat perhatian saat keluar dari gedung fakultas kedokteran.

__ADS_1


"Dimana kos'annya?" tanya Hujan, ia menoleh ke kiri dan kanan ketika mereka ada di belakang kampus.


"Sebrang sana" tunjuk Melan tapi yang entah kemana arahnya.


Lagi-lagi Hujan hanya mengekor di belakang Melan, rasa gatal mulai ia rasakan di kulit dadanya yang basah, jangankan kotor kadang debu yang berlebihan saja bisa membuat kulit mulusnya mengeluarkan bercak merah kecil.


"Sepi banget, Ini sih jauh, Mel" keluh Hujan saat melewati gang kecil.


"Jauh karena lo gak pernah kesini dan gak pernah jalan kaki. Istri Sultan kan biasa naik turun mobil" goda Melan sambil terkekeh dan itu membuat Hujan tak enak hati.


"Gak gitu juga, ini tuh emang jauh dan sepi. Apa lo gak takut kalo pulang sore lewat sini?" Tanya Hujan yang merasa perasaannya lain saat ini.


"Enggak lah, udah biasa"


Dua gadis itu berhenti di sebuah ruko berlantai tiga, Hujan yang heran langsung menarik tangan Melan.


"Lo tinggal disini?" tanya Hujan yang hanya di balas anggukan karna Melan sibuk Menggedor rolling door.


"Mel, gak jadi deh. Udah siang. Gue bisa telat masuk kelas" ucap Hujan yang semakin bingung dan gelisah.


"Lo chat temen lo, bilang kalo telat dikit" titah Melan.


Melan menghela nafas kasar, lalu tertawa pelan.


"Ada ada aja lo, saking paniknya ya?" kekeh Melan.


Suara Rolling door yang terbuka membuat kedua gadis itu mengalihkan pandangan mereka, ada seorang pria tinggi dengan rambut gondrong berdiri dengan satu tangan berada di pinggang.


"Awas gue mau masuk!" seru Melan pada pria itu sambil menarik tangan Hujan untuk masuk kedalam ruko tersebut.


"Cih. Gak ada sopannya banget!" cetus si pria tadi.


Hujan yang sempat menoleh tersentak kaget saat melihat pria itu tersenyum menyeringai padanya, dan itu membuat Hujan semakin takut.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai... liat nih, gue bawa siapa?


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dari bab ini mulai tahan nafas ya..


yang bilang ini jalan di tempat sok teteh ini langsung lari gak maju selangkah lagi 🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣..


Kakak Ay.. yuk seblakin teteh lagi, ganteng.


Aku lagi jahat loh sama kamu!


Eits.. sama kalian maksudnya πŸ˜‚πŸ˜‚


Air bumi cahaya.. si kembar yang mau dijadiin tumbal


karna gak dapet cium bapaknya πŸ˜«πŸ˜«πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2