Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 59


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang nampak pasrah akhirnya mengalah, ia kembali ke kamarnya mengambil baju ganti untuk Samudera.


Baby bear yang takut ditinggalkan, benar-benar tak melepaskan pelukannya dari sang Gajah, bahkan ia ingin Reza lah yang menggantikan bajunya dengan piyama tidur.


"Udah ganteng, udah kenyang, udah gak nangis lagi sekarang bobo ya" ucap Reza manangkup wajah bulat cucunya, ia hapus sisa kebasahan di kedua mata Samudera dengan bibirnya sambil di ciumi lembut.


Appaa yaaaah


"Iya, dede bobo sama Appa, tapi di pojok ya" godanya yang langsung membuat Samudera menggelengkan kepalanya cepat.


"Mau pake Gajah gak de?" tawar Hujan.


Nda, ni jajah.


Semuanya tertawa saat bocah satu tahun itu menunjuk kearah Reza, ia memang tak butuh Gajahnya saat tidur bersama sang kakek.


"Cium Moy dulu sini" Hujan merentangkan kedua tangannya agar bisa leluasa mendapatkan ciuman selamat malam dari putranya.


"Gak boleh rewel ya, jangan nangis" pesannya pada Samudera.


Iyyaah.


Hujan menatap punggung kedua mertuanya yang sedang menggendong Samudera ke arah tangga, hatinya menghangat dan tak henti mengucap syukur karna putranya begitu banyak mendapat kasih sayang tak seperti dirinya yang hanya seorang yatim piatu, beruntung lah ia masih memiliki Anna yang mau mengurusnya seperti anak sendiri.


"Jan" panggil Air, ia yang duduk di sebelah istrinya masih berusaha agar Hujan mau membuka mulutnya meski hanya deheman kecil.


"Jan, aku mohon! jangan diemin aku begini, sayang" pinta Air yang semakin frustasi.


"Omelin aku ya, kamu boleh kasarin aku, sebut aku apapun sesukamu tapi aku mohon jangan diem begini" rengek nya lagi yang kembali bersimpuh, ia letakkan tangan dan wajahnya yang mulai memerah diatas pangkuan istrinya.


"Jan.. ayo ngomong, Sayang"


"Aku mau tidur!"


Hujan bangun dari duduknya, ia berjalan santai menuju tangga meninggalkan Air yang masih duduk di atas karpet.


Cek lek


Wanita yang sedang berusaha kuat seperti karang itu pun bersandar di balik pintu, ia meremat baju bagian dadanya yang begitu sesak. Bohong rasanya jika ia tak ingin mengomel atau memarahi suaminya habis-habisan, tapi ada Samudera yang ia pikirkan, ada kedua mertuanya yang tak perlu tahu tentang masalah keluarganya.

__ADS_1


Hujan melangkah ke arah tempat tidur, ia baringkan tubuh langsingnya di balik selimut untuk bersiap mengarungi mimpi yang ia harap jauh lebih indah.


.


.


Air yang ikut menyusul ke kamarnya di buat semakin bersalah saat melihat pemilik hatinya itu tidur meringkuk, Hujan yang sepertinya sudah terlelap langsung di dekap oleh nya dengan erat, di ciuminya pucuk kepala Hujan berkali-kali hingga ia pun ikut terbuai ke alam mimpi.


**


Moy...


Suara Samudera di depan pintu membuat Hujan terlonjak kaget, ia mencari anaknya di dalam box tapi sedetik kemudian ia baru ingat jika Baby bearnya itu tak tidur bersamanya.


"Huh, aku kaget"


Hujan berjalan menuju pintu, ia menoleh sekilas saat melewati tempat tidur yang ada suaminya disana sedang terlelap.


Cek lek


"Udah bangun? nangis gak bobonya." tanya Hujan.


Nda.


"Kayanya pengen mandi, tadi Sam ngajakin mama soalnya" kata Melisa setelah Samudera berpindah gendongan.


"Dede mau mandi?"


Iyyaah


Hujan dan Melisa tertawa kecil, karna biasanya ia sedikit rewel jika mandi pagi hari.


"Ya udah yuk kita mandi"


Hujan masuk kembali ke kamarnya, kemudian melepaskan piyama tidur yang melekat di tubuh putranya itu.


"Tumben sih pengen mandi?"


Samudera hanya mengangguk, ia memainkan beberapa bola di dalam bak khusus miliknya.


Di rasa cukup, kini Hujan mengangkat tubuh basah Samudera untuk di pakaikan handuk dan baju.

__ADS_1


Tangan mungil Hujan begitu cekatan mengurus buah hatinya itu sampai rapih dan wangi.


"Dede mau susu gak?"


Iyyaah.


"Moy bikinin ya, dede tunggu sini, Ok" pesannya pada Samudera agar diam tak kemana-mana


Keh.


Air yang mendengar jeritan dan sorak tepuk tangan Baby bearnya itu pun akhirnya menggeliat, ia buka sedikit matanya mencari sosok malaikat kecil yang suaranya begitu menggema ke seisi kamar.


"Loh, dede udah mandi? udah rapih banget mau kemana" tanya Air yang kaget saat melihat putranya sudah begitu tampan pagi-pagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Abul...



Bisa ae jawabnya nih tutut jajah..


ada yang ngerti?


bisa makin kejer tuh bapaknya 🀣🀣


yuk nangis yuk kak 😚😚😚😚

__ADS_1


Like komennya ramaikan ya.


__ADS_2