
ππππππππ
Reza yang masih tak enak badan akhirnya harus pasrah saat khumairahnya mengantar si Tutut ke kamar Air dan Hujan. Ia sedang tak di izinkan untuk tidur mendekap sang cucu seperti biasanya.
"Dede bobo ama Moy?" tanya Sam saat ia di gandeng keluar kamar.
"Iya, dede temenin Moy ya, papAy kan lagi gak ada keluar kota nanti Moy di gigit nyamuk kalo gak ada yang temenin" kata Melisa memberi pengertian karna biasanya Sang Putra Mahkota Rahardian itu akan ikut demam jika terus menempel pada Reza yang sedang sakit.
"Umak akal ya?"
"Nyamuk, de" Ucap Melisa membenarkan kalimat yang sering di balik Sam sama seperti si sulung.
.
.
.
Hujan yang sedang mengerjakan banyak tugasnya pun harus mengalah demi menemani putranya sampai tertidur tapi entah kenapa Sam belum juga menutup matanya meski ia sedari tadi sudah memeluk erat sang Gajah.
"Dede gak bobo? mau susu lagi" tawar Hujan, justru ia yang malah merasakan kantuk dan ingin cepat tidur.
"Dede tanen papAy, Moy"
"Udah malem, besok pagi kita telepon ya" rayu Hujan.
__ADS_1
"Nda ica kalang?" pinta Si Tutut, kini keduanya berbaring saling berhadapan.
Hujan menggelengkan kepalanya, ia tak akan menyetujui permintaan Samudera karna waktu sudah larut malam hanya untuk sekedar menelepon sang suami yang kini berada jauh di luar kota, Hujan tahu jika Air baru saja sampai dan butuh istirahat sebab esok ia akan mengadakan rapat yang sangat penting bersama Langit.
Samudera mengangguk paham, ia berusaha memejamkan matanya meski terasa begitu sulit.
Hujan yang mengusap kepalanya pun kini bisa bernapas lega saat si Baby Bear akhirnya sudah terbuai ke alam mimpi.
"Bobo ya ganteng, Moy masih ada kerjaan sedikit" bisik Hujan sambil mencium seluruh wajah anak pertamanya itu.
Ia pun langsung meringsek turun dari ranjang untuk kembali ke karpet depan TV dimana semua tugas kuliahnya kini berserak belum di selesaikan.
"Aku bisa stress lama lama" gumam Hujan, waktu kini sudah menunjukan hampir jam satu malam.
"Aku juga kangen kamu, Ay" lirih nya sambil mengusap layar si benda pipih yang terdapat foto keluarga kecilnya.
Hujan membuang napas pelan saat membuka aplikasi room chat karna suaminya terakhir On beberapa jam lalu.
"Kamu baik baik disana ya, Ay. Aku sangat sangat mencintaimu, tolong jaga hati dan matamu saat ada dan tak adanya aku bersamamu. Karna aku tak bisa tanpamu"
Baru saja Hujan meletakkan gawainya di atas meja, ternyata ponselnya bergetar dan ada nama Craying Baby disana.
" Hallo, kak" sapa Hujan senang, rasa kantuknya mendadak buyar dengan kedua mata yang kini berganti segar.
"Kamu lagi kangen aku ya, Jan Hujan Dereeees?" tanya Air dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
"Kok tahu sih!" jawab Hujan dengan kedua alis yang saling bertautan.
"Taulah, kamu lagi muter aja di mimpinya aku, gak cape apa?" goda Air sambil terkekeh yang tentunya langsung membuat kedua pipi istrinya itu merah merona.
"Cepat kembali, aku tak biasa jauh darimu"
"Siap, sayang. Lusa aku pulang" sahut Air dengan senyum manis meski kedua matanya tampak merah.
"Tidurlah, nanti pagi aku telepon lagi" titah Air pada sang istri yang di jawab gelengan kepala seakan Air ada di depannya.
"Selesaikan besok, jangan terlalu memaksakan diri seperti itu, Moy. Aku hanya mengizinkan mu kuliah tapi bukan harus terus berambisi seperti ini"
"Sedikit lagi selesai, aku tahu, Kak. Terima kasih untuk kesempatannya, aku hanya ingin membuat mu bangga dengan menjadi juara" kata Hujan penuh penegasan.
.
.
.
.
.
Kamu akan selalu menjadi juara dalam hatiku, Jan Hujan Deres!!
__ADS_1