
ππππππππ
Berbulan bulan sudah berlalu tak banyak perubahan yang terjadi, Namun Air masih setia mengurus Hujan dengan kedua tangannya di rumah utama. Semua keluarga Rahardian merangkul pasangan suami isteri agar lebih kuat dan sabar.
Tatapan gadis itu memang tak lagi kosong, ia mulai merespon suara-suara yang ia kenal terutama suaminya.
Air yang rajin berbisik di telinga Hujan terus mencoba merangsang otaknya agar bisa bekerja seperti semula.
Meski masih sering melamun tapi setidaknya Hujan tak lagi berteriak histeris kecuali saat ada orang yang ia tak kenal mendekat kearahnya.
Aktvitas keduanya kini berubah drastis, Air memilih melanjutkan kuliah di rumah. Ia tak pernah sedetikpun beranjak jauh dari Hujan.
Hari-hari mereka habiskan hanya berdua di dalam kamar.
"Minum obatnya dulu yuk, habis itu kita makan siang. Tapi turun ke bawah ya" ajak Air pada Hujan sambil menyisir rambut sang istri yang kini mulai rapih lagi sebahu setelah Air memotongnya pendek.
Hujan menggeleng pelan tak bersuara.
"Kenapa?, ada mama yang masakin makanan kesukaan kamu" ucapnya lagi yang kini sudah memeluk Hujah dari belakang, ia letakkan dagunya di atas bahu sang istri.
"Takut..."
Air tersnyum simpul, apapun pertanyaannya dan ajakannya hanya kata Takut yang keluar dari mulut Hujan.
"Gak ada yang harus kamu takutin, kan ada kakak"
"Ada... " timpal Hujan
"Iya, jangan takut ya. Kamu harus berani keluar rumah lagi. Kita jalan jalan, mau?"
__ADS_1
Hujan menggeleng kan kepala, dengan tangan bergetar lagi lagi kata takut keluar dari mulutnya dan itu membuat Air terkekeh.
*****
Kini di meja makan sudah berkumpul ada dirinya dan Hujan juga Melisa serta Oppa dan Omma sedang menikmati makan siang.
Air dengan sabar membersihksn sisa makanan yang berserakan di dekat piring Hujan, gadis itu masih saja makan dengan tangan bergetar.
"Kenyang belum?" tanya Air yang dibalas anggukan oleh Hujan.
"Temenin mama hias bunga yuk, mama tadi beli bunga banyak banget, Hujan mau bantu mama?" ajak Melisa, wanita cantik itu tersenyum saat sang menantu melirik kearah putranya.
"Boleh sayang" ujar Air sambil mengusap pipi Hujan yang kembali gembil seperti dulu.
Semenjak Hujan sedikit sembuh dari rasa trauma nya, ia menjadi bergantung pada Air.
Dua pasang manusia itu semakin tak bisa jauh karna saling melengkapi satu sama lain.
Otak bawah sadarnya saat itu hanya mengingat Air dan Anna karna hanya dua nama itulah yang selalu ia sebut dalam hati saat tragedi penyiksaan terjadi.
"Cantik ya kaya kamu" goda Melisa saat bunga mawar putih di tata rapih di sebuah Vas.
Hujan tersenyum simpul dan lagi-lagi ia melirik suaminya.
"Enggak. Kakak gak kemana-mana, Jan. Ada disini" kekeh Air saat kedua mata mereka bertemu.
Hujan yang tahu tubuhnya kini tak semulus dulu harus di besarkan lagi hatinya agar rasa percaya dirinya kembali timbul.
Dan kata cantik adalah kata yang tak pernah suami dan keluarganya lupa di sebutkan jika di hadapan Hujan.
__ADS_1
"Emang ada yang lebih cantik dari istri kakak?, gak ada loh. Mah?" rayu Air yang akhirnya meringsek mendekat lalu memeluk Hujan dari samping.
Hujan hanya tersenyum simpul dengan rona merah di kedua pipinya yang putih mulus.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tar malem di colek boleh gak sih??
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Boleh kak..
Siapa emang yang larang π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Lo nya yang gak minta π€ͺπ€ͺπ€ͺ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan
yang nunggu Heavenly Earth sabar ya, lagi ngimbangin Air Hujan dulu biar waktunya nanti sama. ππ