
πππππππ
"Kamu pikir ada yang lebih sabar darimu?" tanya Air sambil terus mengusap kepala Hujan yang masih terisak lirih.
"Aku akan menjadi pria paling bodoh bila melepasmu apalagi jika harus menggantimu dengan wanita seperti tadi" sambung Air lagi jujur dari dalam hatinya.
Hujan semakin erat memeluk Air yang terkekeh geli saat hidung sang istri justru mengusel usel di bagian dadanya.
Ia ciumi pucuk kepala Hujan berkali-kali dengan begitu gemas.
"Tadi pagi kakak gak cium kening kamu ya pas berangkat?" ucapnya malu malu karna memang merasa bersalah.
"Iya, kakak jahat banget, sekarang jidat aku gatel" Ketusnya sambil memanyunkan bibir ranum nya.
"Masa?, sini kakak ilangin gatelnya"
Hujan mengurai pelukannya, keduanya saling tatap sambil tersenyum simpul, Air yang semakin mendekat sontak membuat Hujan menutup kedua matanya karna wanita hamil itu ingin benar-benar menikmati sentuhan sang suami yang beberapa hari ini mengabaikannya.
Satu kecupan lama dan lembut mendarat sempurna di kening Hujan berbarengan dengan satu tetes air mata yang kembali lolos begitu saja ke pipinya
"Terimakasih untuk segalanya, segala rasa sabarmu untukku" ucap Hujan saat Air membelai kedua pipinya.
"Sama-sama Jan Hujan deres!" balas Air gemas.
__ADS_1
"Haha, Dasar Aer comberan" timpal Hujan terkekeh, Raut wajah lucu dengan pipi bulat membuat matanya kian menyipit jika tertawa dan itu membuat Air langsung menciuminya bertubi-tubi.
"Yuk jalan-jalan"
"Loh, emang gak sibuk?" tanya Hujan saat Air meraih tangannya untuk bangun.
"Gak apa-apa, Harta ku yang sebenarnya itu adalah kamu dan dia" ucap Air sambil mengusap perut buncit sang istri saat keduanya berdiri saling berhadapan.
"Maaf, aku terlalu sibuk sampe gak ada waktu buat kalian. Akan ku tebus waktu seminggu yang lalu dengan hari ini, gimana?"
Hujan langsung mengangguk kemudian berhambur memeluk suaminya, keputusannya datang secara tiba-tiba ke kantor akhirnya membuahkan hasil yang tak sia-sia.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Air yang menggandeng istrinya masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Lagi?" Kata Air sambil mengernyit kan dahinya.
Hujan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
******
Usai mengganti baju keduanya langsung keluar dari kantor setelah Air berbicara sekitar lima menit dengan Daniel sang sekretaris yang akhirnya di jatuhi pekerjaan bertumpuk tumpuk oleh direkturnya.
"Kalo ada apa-apa kirim email aja ya, gak usah ganggu pake acara telepon telepon terus" pesan Air sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Baik, Tuan" jawab Daniel yang kemudian tersenyum simpul saat bosnya itu menepuk bahunya sekilas
Air melangkah menuju istrinya yang sedari tadi menunggu dekat pintu, rasa tak sabar sudah sangat terlihat di wajah cantiknya.
Perjalan hampir tiga jam lamanya mereka tempuh dengan memakai mobil dengan sesekali berhenti di rest area karna Hujan sudah mulai mengeluh panas pinggang saat terlalu lama duduk dan seringnya juga akhir-akhir ini ia buang air kecil padahal usia kandungannya belum genap tujuh bulan.
"Mau makan dulu gak?"
"Enggak, Aku mau makan mie instan aja disana" jawab Hujan.
.
.
.
"Ya ampun jauh jauh ke laut cuma pengen makan mie" kekeh Air yang kadang merasa lucu dengan keinginan istrinya itu tapi ia sangat memaklumi karna cerita dari Mak othor bahwa kedua orangtuanya malah jauh lebih parah dari mereka.
πππππππππππ
Hayo siapa yang masih inget dulu zamannya pawang beserta gajahnya ngidam apa aja π€£π€£π€£
__ADS_1
like komennga yuk banyak banyak.