
ππππππππ
Emen akal.. moooooy
Jeritan tangis Samudera membuat Hujan dan Kinan menoleh lalu menghampiri dua bocah di atas karpet yang berhambur mainan.
"Dede kenapa?" tanya Hujan sambil meraih anaknya yang masih menangis lumayan kencang.
Akal noh.
Aduan Sam membuat Kinan malah terkekeh, ia sangat dengan gemas dengan putra temannya itu.
"Mainnya sama-sama, gak boleh nangis" ucap Hujan masih mencoba menenangkan.
"Maafin Edward ya, dia emang gitu" Kinan yang tak enak hati akhirnya meminta maaf pada Sam.
"Gak apa-apa, Sam jarang banget ketemu temen seusianya jadi agak rewel kalo keluar" kata Hujan.
"Sama, Jan. Edward juga gitu, kok. Makanya aku seneng kalo ada yang main kesini sama anaknya cuma ya gitu pasti berantem" Kinan yang bernasib sebagai istri muda dari seorang pengusaha tentu tak punya ruang gerak banyak untuk bebas keluar jika tidak mengandalkan orang lain yang datang berkunjung ke apartemennya.
"Sama aja, Nan" jawab Hujan.
Keduanya kembali duduk bersama di sofa dengan anak anak mereka di pangkuan masing-masing, Kinan melanjutkan lagi kisah hidupnya dari seorang brokenhome sampai akhirnya menjadi simpanan. Jauh dari dalam lubuk hati Hujan tentu ia sedang tak hentinya bersyukur karna meski seorang yatim piatu sejak berusia enam bulan setidaknya ia memiliki Bunda yang tak lain adalah adik ayahnya yang mau mengurusnya sampai berumur delapan belas tahun, sampai ia di pertemukan dengan Air dan masuk kedalam keluarga Rahardian Wijaya, siapapun tau bagaimana hangatnya keluarga itu dalam suka dan duka, tak pernah memandang kasta harta dan tahta maupun agama.
"Kok jadi melamun, Jan?" sentuhan Kinan di punggung tangannya tentu membuat Hujan sedikit tersentak.
"Ah... Enggak!"
"Berbahagialah kamu, karna kamu wanita paling beruntung bisa ada di tengah-tengah para malaikat versi dunia halu"
Hujan mengangguk dan tersenyum simpul, ia merutuk dirinya sendiri yang terkadang terlalu egois, entah jadi apa hidupnya jika saja Air tak memiliki rasa sabar untuk menghadapinya yang sering cemburu buta dan tak jelas.
"Ya, aku sangat sangat bersyukur dengan apa yang kini ku miliki, Nan"
Usai makan siang, Hujan berpamitan untuk pulang ia berjanji untuk sering-sering datang menemani Kinan yang mengeluh kesepian.
.
__ADS_1
.
.
Appaaaaa...
Teriakan Samudera sambil bertepuk tangan membuat mantan presiden direktur Rahardian itu menoleh, ia yang juga baru pulang dari urusan mendadak langsung berjongkok dan merentangkan tangannya.
"Dede baru pulang?" tanya Reza.
Iyyaaah..
Emen noh akal.
"Siapa yang nakal, nanti Appa cium" kata Reza yang mengerti jika cucunya itu sedang mengadu.
Hujan hanya bisa menahan tawanya, untungnya saja ia memiliki keluarga yang jauh dari tindak kekerasan.
Emen dede.
"Nanti kalo ketemu cium ya"
Reza menciumi pipi bulat Samudera, matanya yang bulat menang masih ada sisa kebasahan di sana, Reza yang tak tega tentu langsung ingin membuat cucu kesayangannya itu ceria kembali.
"Kita jalan jalan yuk"
Yuk..
"Ok" lanjut Reza yang mengulurkan jari kelingkingnya.
Keh..
"Papa ajak Sam main sebentar ya"
"Iya, Pah. Aku naik dulu ke atas" jawab Hujan sambil pamit pulang lebih dulu.
Reza mengajak Samudera main di taman apartemen, Bocah montok itu langsung berjalan sesuka hatinya tanpa arah dan Pria tampan di belakangnya itu hanya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Apek ih..
Reza terkekeh lalu mendudukan Sam di pembatas jalan sebatas pinggang.
"Kesian yang capek, mau minum atau beli ice cream?" tanya Reza.
Samudera yang belum juga menjawab membuat Reza kembali bertanya.
"Kok diem, dede kenapa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Binun
Sama....
Iye nini nini geh Bingung de'
__ADS_1
kapan dirimu gede π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.