Air Hujan

Air Hujan
BabyBear 99


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚.


Semalaman dirawat di rumah sakit tentu membuat Air sedikit rewel dan uring-uringan ingin pulang, ia yang memang tak betah tidur di tempat lain selain kamarnya tentu merasa jengkel saat dokter tak mengizinkannya pulang.


"Ini infusan terakhir, 'kan?" tanya Air memastikan jika ia tak sedang di bohongi.


"Iya, Kak. Lagian aku juga pengen pulang, emang kamu aja yang gak betah" cetus Hujan.


"Ya udah, ayo pulang"


"Gak usah macem-macem! dari pada balik lagi kesini" ancam wanita yang kini menatap suaminya itu dengan tajam dari arah sofa.


Hujan yang baru tidur beberapa jam selama hampir dua hari tentu meraskan sakit di bagian kepala yang lumayan luar biasa, Obat yang ia minum seakan tak bereaksi jika ia belum. terbuai mimpi meski sejenak.


Air yang tahu jika istrinya sedang kesal tak berani berdebat lagi, ia peluk si pisang dengan erat sambil mencoba memejamkan matanya sama seperti yang di lakukan sang pemilik hati yang kini sudah berbaring di sofabed.


"Kamu gak tidur disini, Yank?"


"GAK!!!"


*****


Kehebohan lain juga terjadi di apartemen, pagi-pagi sekali anak menantu Rahardian sudah datang berkumpul di meja makan, ada Kahyangan sedang membantu Melisa menyiapkan sarapan sedangkan si bungsu hanya duduk manis karna memang tak pernah turun ke dapur atas perintah dua pria kesayangannya.


Tuan besar Rahardian dan Tuan Muda Biantara.


"Beneran Kakak kena DBD?" tanya Bumi saat ia menarik kursinya meja makan.


"Iya, kata Hujan sih gitu." jawab Reza, bohong besar jika ia tak mengkhawatirkan anak sulungnya itu.


"De' papAy sakit apa?" goda Cahaya pada keponakannya yang duduk memeluk Sang Gajah saat si bungsu datang.


Didit umak.


"Oh, umak, bukan nyamuk ya?"


Iyaah..


Jawaban Sam mengundang gelak tawa karna ia sama sekali tak menoleh, semakin Cahaya mendekat tentu pelukannya pun semakin erat.

__ADS_1


"Pinjem Appa boleh?"


Nda, ih...


"Udah, Dek. Jangan di gangguin terus" ucap Langit yang kadang gemas dengan istrinya sendiri.


"Belom nangis, belom afdhal" kekeh Cahaya, si gadis cantik yang sampai detik ini masih berjuang untuk sempurna.


Onty akal ya, jajah dede.


Gumam Samudera yang kepalanya sudah sangat menempel nyaman di dada Appanya.


"Dede sarapan dulu ya, ayo duduk di kursi" ajak Melisa.


Nda ih.


Penolakan Samudera di bela oleh Reza yang menggelengkan kepalanya, ia biarkan cucu kesayangannya itu menikmati makan pagi di atas pahanya.


Semuanya sudah terhidang lengkap di atas meja makan sesuai dengan menu kesukaan suami, anak dan menantu. Melisa juga tentu tak lupa membuat kan bekal untuk Air dan Hujan karna rencananya semua akan ke rumah sakit usai sarapan pagi.


"Biar aku yang beresin, Mah" ucap Yayang sambil bangun dari duduknya, Wanita solehah bergamis merah muda itu langsng mengambil satu persatu piring di atas meja untuk di bawa ke tempat pencucian.


"Mau ganti baju emang tutut Jajag udah mandi?" lagi lagi bocah berpipi bulat itu di goda oleh adik dari papanya.


Onty akal.


"Aunty nanya, malah di bilang nakal" cetus si bungsu yang makin senang menjahili Sam.


"Kalian ini kenapa sih!"


Melisa yang pusing dengan perdebatan anak dah cucunya itu pun langsung menggendong Sam ke kamarnya, Putra mahkota Rahardian itu langsung di ganti semua bajunya setelah tubuh montoknya selesai di bersihkan.


"Yuk, udah ganteng. Kita turun ke bawah buat jemput papAy ya"


Iyaah.


"Dede duduk dulu disini, Amma siapin botol susu dulu, Ok"


Keh..

__ADS_1


Sam duduk di kursi kecil miliknya, ia memperhatikan Amma nya sedang memasukkan dua botol susu kedalam tas kecil. Namun, pandangan bocah menggemaskan itu beralih saat pintu kamarnya terbuka pelan.


Huleeeeeeeee


Onty nyang nyang.


Kahyangan yang baru masuk sampai mengernyitkan dahinya.


"Dede pake baju apa itu?" kekeh menantu kedua Rahardian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kuaci..



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Gak kalah gemoy sama snow white 🀭🀭🀭


Btw itu biji Matahari kan, ya? 🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2