
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Aku siap menghadapi masalah apapun itu.
Asal bukan kehilanganmu!
Hujan langsung membalas pelukan suaminya, Entah kenapa ia bisa mengeluarkan kalimat yang sudah pasti itu sangat melukai hati suaminya kini.
Padahal sudah sangat jelas jika dalam rumah tangga mereka tak pernah terjadi pertengkaran besar meski penggoda datang silih berganti di setiap waktu hanya untuk melatih sebesar apa kekuatan cinta yang tak pernah mereka ungkapan sedari pertama bertemu sampai detik ini.
Hujan dititipkan sosok suami yang bersifat manja tingkat tinggi namun ia juga di berikan rasa sabar dah pengertian luar biasa yang selama ini tak pernah ia miliki.
Bersama bayi buaya cengengnya ia merasakan bagaimana bangganya saat ia selalu menjadi PRIORITAS utama.
Selalu di tangisi saat ia tak membalas pesan atau mengangkat telepon tentu bagi Hujan itu adalah hal paling menggemaskan yang tak semua wanita di dunia ini bisa merasakannya.
Aku jatuh cinta dengan caramu yang selalu berkata jika aku termpat ternyaman dan terbaik untukmu.
Aku bertahan hanya demi melihat betapa lucunya dirimu saat bermanja bersamaku..
Tetaplah menjadi AIRnya HUJAN..
.
.
.
"Ayo cepetan udah siang" ajak Hujan setelah Air menghentikan ciuman selamat paginya.
"Sekali lagi ya" pintanya manja.
"Nanti di gedor Bunda lagi, kak"
Ini sudah lewat lima belas menit yang seharusnya ia sudah keluar sedari tadi, satu hal yang membuat Air tak pernah nyaman.
Karna memeluk dan bercumbu setalah bangun tidur adalah rutual wajib baginya setelah menikah, Ia tak bisa langsung bangun dan mandi tanpa lebih dulu meminta di manjakan oleh sang istri.
__ADS_1
"Mandi berdua ya" rengeknya dengan senyum menggoda.
Hujan tetap berusaha melepaskan tangan sang suami dari tubuhnya meski itu sangat sulit, karna semakin Hujan meronta tentu Air akan semakin kuat memeluknya.
"Ayo dong, Kak. Aku gak mau lari-lari di gedung lagi cuma gara-gara kesiangan" dengus Hujan kesal jika mengingat seringnya ia melakukan hal itu jika sang suami mendadak Jahil ingin di sayang di dalam mobil saat keduanya sudah sampai di parkiran area kampus.
"Kamu tuh cukup lari-lari di otak aku kakak aja, gak usah lari-lari di tempat lain Jan Hujan dereeeeeeeeees! "
.
.
.
Ddduuuuuuuuaaaaarrrrr
Petir yang lumayan keras dipagi hari tanpa gerimis dan mendung tentu mengagetkan Hujan yang memang takut dengan suara petir dadakan.
Air langsung memeluk Sang istri yang kini tubuhnya bergetar hebat karna rasa takut.
"Kakak disini" bisiknya yang sudah menenggelamkan kepala Hujan dalam dekapannya.
"Cuma petir, gak apa-apa" rayu nya lagi sembari terus mengusap punggung Hujan yang masih bergetar.
.
.
Tok.. tok.. tok
Air menoleh kearah pintu yang terketuk lumayan keras.
"Iya, " sahut Air.
"Hujan, Nak! kamu gak apa-apa? " tanya Bunda di luar pintu. nada bicaranya terdengar begitu panik dan khawatir.
"Jangan pergi" pinta Hujan saat Air hendak membuka pintu.
"Iya, Kakak gak kemana-mana"
__ADS_1
Bunda yang sepertinya tahu jika Air sedang menenangkan Hujan langsung kembali ke dapur menyiapkan untuk sarapan pagi mereka. Ia percaya kan gadis cantik itu dalam dekapan suaminya meski ia sendiri pun masih khawatir.
"Udah gak ada petirny, Jan" ucap Air sambil menciumi pucuk kepala sang istri yang sedikit lebih tenang saat ini.
"Aku kaget, kak! Suaranya kenceng banget tadi" Adunya lagi masih dengan suara bagai tercekat di tenggrokan.
"Iya, tapi. sekarang petirnya udah gak ada, udah pergi jauh"
"Kemana?" Tanya Hujan polos sambil mendongakkan wajahnya
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udah di usir sama Abang!!!
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sa ae anak cebong🤣🤣🤣🤣
Punya abang Langit enak ya.. tuh petir ntar gak nongol lagi disana 😌😌😌
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan😘😘