
ππππππππππ
Ooooeeeekkkkk....
Reza yang baru saja menginjakkan kaki kedalam pesawat pribadinya langsung mual dan pusing, keringat membanjiri tubuhnya yang seperti baru saja lari puluhan kilo meter dan dalam hitungan menit tubuhnya ambruk dalam dekapan sang istri yang panik.
"Mas Reza kenapa?"
Satu pramugari dan satu pramugara dengan sangat sigap langsung menolong Tuan besar mereka, dibawanya tubuh lemas yang tak sudah sadarkan diri itu ke klinik bandara.
"Mas, mas Reza kenapa?, ayo bangun!" Melisa yang panik terus saja meminta suaminya untuk membuka mata.
Ia mundur dua langkah dari sisi ranjang tempat Reza terbaring saat dokter datang memeriksa.
"Bagaimana, Dok?" tanya wanita yang memakai dress berwarna peach itu.
"Tekanah darahnya semua normal dan baik, tak ada yang harus di khawatirkan" jawab dokter yang terlihat sedikit bingung juga.
"Lalu kenapa bisa pingsan, suami saya gak pernah begini, Dok"
"Bisa karna faktok kelelahan juga Nyonya" timpal sangat dokter lagi sambil memasukkan stetoskop kedalam saku jas putih yang ia kenakan.
Apa karena semalem udah dua kali, lalu pagi nambah lagi?
******
Langit yang mendapat telepon dari Melisa dengan cepat memutar stir mobilnya lagi kembali menuju bandara, tiga pewaris Rahardian itu langsung panik saat mendengar suara parau dari wanita paling berharga dalam kehidupan mereka.
"Mama... " lirih Air yang menggigit bibir bawahnya sendiri, ia terus memaksa Langit untuk menambah kecepatan laju mobilnya.
Sampai di depan pintu klinik ketiganya segera turun dari mobil menghampiri satu kamar paling ujung.
Cek lek. .
"Mah... Pah... " seru ketiga anak Reza dan Melisa saat masuk.
"Kak... Abang"
Si sulung langsung memeluk mamanya begitu pun dengan Bumi sedangkan Langit mendekat ke arah Reza.
__ADS_1
"Papa kenapa?" tanya Air dan Bumi berbarengan.
"Gak tahu, baru masuk pesawat langsung mual terus pingsan" jelas Melisa yang ia sendiri sebenarnya masih belum paham dengan apa yang terjadi pada suaminya.
"Pah... kenapa?" tanya Air sambil memegangi selang infus di bagian tangan kiri papanya.
Bumi yang mencubit Lengan kakaknya itu langsung berdecak kesal.
"Apa sih, dek!"
Ooooooeeekkkk....
Reza yang baru membuka matanya merasakan mual yang luar biasa, isi perutnya bagai di aduk aduk tapi tak ada sedikitpun yang ia muntah kan.
Ooooeekkk... oeeeekkk....
Melisa yang berdiri sambil memijit tengkuk Reza dibuat tak habis pikir dengan yang di alami suaminya.
"Papa masuk angin mungkin, Mah" ujar Bumi sembari memberikan air putih hangat
"Ya, mungkin, sepertinya begitu"
"Mas, mau minum lagi?" tawar Melisa yang dijawab gelengan kepala.
"Kita bawa kerumah sakit aja, Bun" saran Langit karna melihat Reza yang nampak lemas.
"Aku mau pulang, Ra" pinta Reza dengan suara sangat pelan hampir tak terdengar.
"Iya, Mas"
Langit yang memang selalu sigap langsung meminta pihak Klinik Bandara menyiapkan mobil ambulans untuk membawa Tuan besar Rahardian itu pulang ke apartemen.
Dan sepuluh menit kemudian Reza kini sudah di pindahkan.
Melisa dan Langit ikut menemani Reza di mobil ambulans sedangan Air dan Bumi pulang dengan mobil mereka mengekor dari belakang.
Drrtttt....
Getaran ponsel di saku celana membuat Air dengan cepat merogohya.
__ADS_1
"Iya sayang.. " jawab Air saat sang istri menyapanya.
"Dimana?, ko belum pulang?" tanya Hujan.
"Ini baru mau pulang, tadi balik lagi ke klinik buat jemput papa" jelas si sulung.
"Loh, papa gak jadi pergi?"
"Enggak, papa Sakit" jawabnya.
"Sakit apa, kak?" tanya Hujan ikut khawatir
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mendadak Norak naik pesawat!!!
ππππππππππππ
Anak laknat π€£π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1