
πππππππ
DOOOOOOORRR...
"Kalian ngapain?" tanya Air yang tersentak kaget dengan masih mengusap dadanya.
"Nungguin kakak" jawab Reza, Langit dan Bumi serentak.
"Ngapain nungguin kakak?" tanyanya panik dan bingung.
"Jan, kamu capek,.kan! istirahat dulu sana. Papa pinjem suami kamu sebentar ya" ucap Reza dengan senyum kecilnya.
"Iya, Pah, Hujan masuk kamar dulu" pamitnya yang langsung melepas kan genggaman tangannya dari Air, tapi pemuda itu enggan melepasnya.
"Jan, ikut!" teriak Air saat sang istri perlahan menjauh dan akhirnya hilang di balik pintu kamarnya.
Reza langsung menarik tangan putra sulungnya ke lantai bawah, ia dudukkan anak Cengengnya itu di sofa Single, sedangkan Bumi dan Langit duduk di sisi kanan kiri pegangan kursi.
Reza yang duduk di depan Air tersenyum penuh arti.
"Gimana?" tembak Reza Langsung.
"Apa?" Air balik bertanya.
"Garap, tanem, siramnya?" ucap ketiga pria itu berbarengan.
"Hah?" Air yang tak menyangka akan di todong dengan pertanyaan konyol hanya bisa tercengang dan bingung.
"Anak Papa, si tukang nangis tapi kemaren malem bikin anak gadis orang nangis ya" goda Reza, yang membuat Bumi dan Langit mengernyitkan dahi.
"Kenapa nangis, Pah?" Tanya Bumi, anak tengah yang jauh lebih pintar dari kakaknya.
"Nangis lah, kan sakit ya, Bang?" Air malah bertanya pada Langit, tentu pria dua puluh empat tahun itu menggeleng kan kepalanya.
"Mana Abang tahu" jawab Langit polos.
"Hahaha, Kakak lupa. Abang belom bikin nangis adek ya" kekeh pengantin baru itu.
"Gak akan, Abang gak akan bikin Chaca nangis!" ucap Langit penuh keyakinan, pria itu memang selalu bisa menjaga perasaan putri bungsu Rahardian.
__ADS_1
"Bukan nangis itu, ini nangis yang Laen! Hujan aja yang galak nangis apalagi adek" timpal Air pada Abangnya lagi.
"Cih, mentang-mentang udah pengalaman" ejek Bumi sambil bangun dari duduk dan pindah ke karpet, menyalakan PlayStation.
"Main yuk, Bang! kita mah anak bawang" seru Bumi yang langsung di iyakan oleh Langit.
Kini tinggal Air dan Reza yang duduk saling berhadapan, pria tiga anak itu menatap si sulung dengan tatapan yang sulit di artikan, ada haru bahagia dan sorot mata penuh kasih sayang.
Tapi dibalik semua itu ada jiwa keingintahuan yang meronta-ronta dalam hati Reza.
"Kamu udah lebih jauh melangkah dalam hubungan ini, jangan sakiti istrimu, kak" pesan Reza pada Air.
"Udah gak sakit kali, Pah kalo nanti malem mau lagi" jawab Air dengan begitu polosnya.
"Heh, bukan itu! papa ngomong serius, Kak" oceh Reza yang ternyata pesannya di salah artikan oleh si sulung.
"Oh.. kirain sakit yang itu" kekeh Air merasa malu, otaknya masih terbayang rasa nikmat itu.
Reza tersenyum Kecil, ia yang masih ingat malam pertamanya sendiri pun seakan masih belum percaya jika anak yang baru saja ia besarkan sudah bisa melakukan hal itu.
Ia yang mati-matian menjaga si kembar dari liarnya pergaulan di luar sana akhirnya merasa cukup puas.
Tinggal putra keduanya dan satu putri bungsunya yang masih menjadi tanggungjawabnya kini.
"Udah tau rasanya, jangan main main sama yang lain, paham kak!"
"Siap papah" jawab si sulung dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"Garapnya sama tanemnya pelan-pelan, biar hasil siramannya luar biasa" goda Reza pada Air.
"Nyiramnya banyak banget sampe tumpah tumpah, Pah" lagi-lagi ia berkata dengan polosnya.
Reza yang mendengar hanya bisa tertawa, sebisa mungkin ia akan selalu menjadi teman bagi semua anak-anaknya untuk mengungkapkan segala perasaan mereka, obrolan santai dengan sesekali saling mengejek membuat si kembar memang selalu merasa aman dan nyaman.
"Tapi enak, kan?" goda Reza dengan senyum kecil ujung bibirnya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Soal rasa.... NO COMMENT, Pah!!!
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Cih... sombong nya si cebong π€π€π€π€
obrolan unfaedah banget deh ππππ
Gue Ampe abis kuaci sebaskom tapi gak ngerti apa yang buaya sama gajah omongin.
sepolos inikah diriku efribadeh π€ͺπ€ͺπ€ͺπ€ͺππ
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ