
ππππππππ
"Abul apa? ngebul." tanya Air yang sudah duduk dari tidurnya, wajahnya terlihat sangat berantakan.
Abul noh
Air mengernyitkan dahinya, ia melihat Hujan yang tersenyum penuh arti sambil menuntun Samudera ke sofa untuk minum susu.
Abul na, Moy?
"Kabur ke rumah Aunty Yayang, mau ikut gak?"
Iyyaah.
Air yang mendengar obrolan anak istrinya itu pun langsung mendekat, dengan tampang kesal ia dengan cepat menggendong Samudera.
"Kamu mau bawa kemana anakku?!" sentakn Air.
Samudera yang kaget mulai merengek di dalam dekapan Air yang menatap tajam kearah istrinya.
Ia tak pernah menyangka jika istrinya akan seberani itu meski hanya ke tempat Kahyangan yang berbeda beberapa lantai dari tempat kedua orang tuanya.
"Aku gak kemana-mana, Kak" Hujan balik menyentak sambil mencoba meraih Sam dari Air.
"Pergi itu bukan jalan keluar, udah diemin aku seharian terus sekarang mau pergi!" Air yang sebenarnya hanya panik malah lepas kendali berujung membentak Hujan di depan anaknya.
"Kalo marah ya marah aja, gak usah pergi dari rumah" tambahnya lagi, Samudera yang takut malah memeluk leher Air dengan erat.
__ADS_1
"Kok kamu bentak aku sih!" Kini Hujan ikut meninggikan suaranya.
"Ya kamu! macem-macem, pagi pagi mau bawa kabur anakku. Kamu pikir itu bagus?" balas Air.
"Perkara maen game sampe bikin mau keluar rumah, kecuali aku selingkuh, maen perempuan atau pulang kerja mabok wajar kamu marah!"
Hujan yang berdiri di tempatnya hanya bisa menangis tanpa suara, bibirnya sampai bergetar menahan rasa sesak dalam hatinya.
"Aku maen game dirumah, depan kamu! Meskipun siang aku tidur itu pun di kantor bukan di hotel, Jan"
"Seburuk apapun aku, aku setia. Gak mungkin macem-macem yang nyakitin hati kamu, paham dong, Jan"
"Aku emang salah, ok! aku tinggal Sam di kamar mandi tapi baru kali ini , 'kan? salah aku yang satu kali itu bagai nutupin semua baiknya aku ke kamu! kamu pikir aku malaikat?!"
Air terus saja mengeluarkan rasa kesalnya, sudah berkali-kali ia tegaskan pada istrinya untuk tidak diam saat ada yang mengganjal dalam hatinya. Air rela di pukul atau pun di maki-maki asal masalahnya selesai hari itu juga.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun, harusnya kamu sadar"
Hujan menunduk, bahunya berguncang hebat pertanda ia sedang menangia histeris, Air yang tahu itu langsung menghampiri istrinya untuk di peluk.
"Lepaskan, keluarkan rasa kesalmu, Jan. Jangan pernah menyimpannya berlarut-larut, aku ada untukmu dan kamu bisa melampiaskan nya padaku" ucap Air yang setelahnya menciumi pucuk Kepala Hujan.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu pada Sam saat di kamar mandi, kak" jawab Hujan masih terus terisa.
Cek lek
Pintu terbuka dengan lebar, terlihat ada Reza dan Melisa berdiri di ambang pintu menatap anak dan menantunya itu dengan tatapan bingung.
__ADS_1
Appa..
Air meringsek merentangkan kedua tangannya pada Reza yang datang mendekat.
"Selesaikan urusan kalian" tegasnya sambil meraih tubuh montok Samudera.
Hujan yang masih menangis dalam dekapan suaminya terus mengeluarkan apa yang ia rasakan, semua cacian dan makian untuk dia dan suaminya terus Hujan lontarkan.
.
.
Sedangkan Reza dan Melisa langsung membawa cucu kesayangan mereka ke ruang tengah.
"Kebiasaan! berantem depan anak" rutuk pria itu kesal.
PapAy, Moy Apa.
"Nangis ya, dede nakal nih"
Nda.
"PapAy sama MiMoy nangisnya gimana?" tanya Melisa.
Bocah tengil π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan