
"Moooooy... lagi!!!" teriak Air dari atas ranjang saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas dada dan paha.
"Mandi sana!"
"Ish, aku mau nambah loh, Moy" rengek Air dengan manjanya seperti biasa. Tapi ia langsung mencibir saat melihat mata Hujan memicing kearahnya.
"Pelit!!" cetus Air yang bukan bangun malah menelungkupkan tubuhnya.
"Kak, bangun! ntar dede pulang sekolah tanya kamu gak pake baju mau alesan apa lagi?" oceh Hujan. Suaminya itu memang tak tahu diri, sudah tahu anaknya pintar tapi tetap saja senang jika Samudera banyak bertanya hal konyol yang akan di jawab lebih konyol lagi.
"Biarin, udah gede ini"
"Heh!!!"
Braaak..
"Dede pulang" teriak sang Tutut Jajah masuk kedalam kamar orang tuanya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Astaga! untung udahan, kan!!" pekik Hujan sambil nengelus dadanya sendiri. Ia tentu kaget dengan kedatangan putra semata wayangnya.
"Kan, lupa kunci pintu"
Hujan hanya tertawa kecil " Lupa, kak. Kan tadi langsung di seruduk "
"Mang aku banteng?!" cetus Air kesal.
"PapAy seruduk sapa?" tanya Sam yang sudah naik keatas ranjang.
"PapAy udah belenti jadi Buaya? kalang jadi banteng, iya?" tambahnya lagi dengan raut wajah bingung yang menggemaskan.
"Enak aja!"
__ADS_1
Hujan tertawa sampai terpingkal, dua ekspresi pria kesayangannya itu sugguh berbeda dan bertolak belakang.
Ia yang tak ingin menjawab akhirnya memilih memakai baju dan berhias diri. Hujan membiarkan suaminya mendapat beberapa pertanyaan dari Samudera.
.
.
.
Diatas meja rias wanita cantik yang masih mengemban ilmu kedokteran itu sesekali menoleh kearah ranjang untuk melihat pergulatan anak dan suaminya. Mereka saling bercanda, tertawa dan berteriak sungguh itu semua pemandangan yang selalu manis di mata Hujan yang menjadi satu-satunya wanita cantik bagi mereka berdua.
"Dede gak ke kandang Gajah?"
"Dede mau perang sama Buaya dulu" sahut bocah tampan itu sambil terus memukuli Air dengan bantal.
"Buayanya ngantuk oey"
"Main apa?".
"Main sama Moy dulu yuk, papAy nya mandi dulu ya." rayu Hujan yang risih melihat suaminya yang lolos di balik selimut, ia takut ekor Buaya kesayangannya akan tertindih oleh Sam yang tak mau diam mengajak bercanda dengan cara melompat diatas kasur.
"Nda, Moy cium cium dede telus. Dede mau main" tolak Sam, ia tahu kebiasaan Hujan yang sering mencium pipi bulatnya yang harum strawberry.
"Mainnya nanti, papAy pake baju dulu, ok"
"Keh!!"
"Mandi, Kak. Jorok ih" omel Hujan lagi dengan kedua mata tajam memicing kearah suami tampannya.
"Tar aja, kan mau nambah" sahut Air dengan menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
Samudera turun dari ranjang menuju lemari tempat penyimpanan sebagian mainan miliknya.
Hujan dan Air hanya memperhatikan dan membiarkan sang putra mendapatkan sendiri apa yang sedang ia cari.
"Moy, robot merah dede mana?" tanya Sam masih berusaha mengacak-acak isi laci bagian atas dan bawah.
"Dede taruhnya dimana? kan sengaja Moy suruh dede buat rapihin sendiri biar kalau cari dede bisa inget" sahut Hujan yang masih duduk di kursi meja rias.
"Ini dino semua, robot dede gak ada loh"
"Mungkin di kamar kamu, kali" timpal Air yang kini sudah bersandar di punggung ranjang.
"Nah, ketemu!" sorak senang Samudera sambil bertepuk tangan. Ia kembali keranjang membawa robot berwarna merah di tangannya.
"Dede cari itu?" tanya Hujan sambil mengusap kepala Samudera.
"Iya" jawab Sam sambil bangun lagi dan tak sengaja menginjak Robot miliknya sambil mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
"Eh, ada suaranya! Kenapa semua suara robot itu sama ya? Ngiiiiiing.... ngiung.... ngiung" ucap Hujan menirukan bunyi robot merah Samudera.
.
.
.
.
Iyalah, kalau bunyinya I LOVE YOU itu mah suara hati Buaya Cengengnya Jan Hujan Dereeeees!!!
__ADS_1