
πππππππ
"Kak... bangun dong" rengek Hujan tengah malam menggoyangkan tubuh suaminya yang terlelap memeluk si pisang.
"Hem" hanya sebatas deheman yang dibalas oleh Air karna sepertinya pria itu benar-benar sedang terlelap setelah mencapai pelepasan tanpa melakukan penyatuan.
"Kak, pinggang ku sakit"
"Kak.. usapin"
Air yang mendengar kata sakit langsung mengerjapkan matanya dengan cepat, Ia langsung duduk dan panik sembari menyentuh semua bagian tubuh sang istri.
"Mana yang sakit, sayang?" tanya Air.
"Pinggang, tolong usapin ya" pinta sambil meringis.
Air hanya mengangguk, tangannya dengan begitu lembut langsung mengusap pinggang pemilik hatinya yang semakin hari ada saja yang ia keluhkan. Mulai dari pinggang panas, seringnya buang air kecil, mudah lelah dan sulitnya bergerak cepat belum lagi saat sang buah hati terlalu aktif di dalam perutnya yang kadang membuat ia tersentak kaget atau sabar menahan ngilu sampai bayinya kembali diam.
"Sambil paksain tidur ya, kamu harus banyak istirahat" ucap Air sambil terus mengelus dengan lembut.
"Hem, tapi ini masih sakit banget" keluhnya lagi.
"Sabar ya, gak lama lagi kok, kalo gak ada halangan gak sampe dua bulan nanti udah lahir ya, sayang" rayu Air mencoba menenangkan.
.
__ADS_1
.
***
Tak ada yang bisa Hujan kerjakan hari ini termasuk sarapan pagi dan makan siang pun ia lakukan di dalam kamar, kakinya yang membengkak terasa sakit jika menuruni atau naik tangga meski tak sering.
"Kalian pindah ke kamar bawah aja gimana?, kamar Abang kan gak di isi" tawar Melisa, wanita baik hati itu selalu dengan telaten mengurus menantunya selama Air tak bisa berada di sisi Hujan.
"Aku terserah kakak aja, Mah" jawabnya tak bisa mengambil keputusan.
"Kalo di bawah mama gak khawatir, kamu kalau laper bisa langsung ke dapur, nanti Mama coba bicarakan dengan kakak ya"
Hujan hanya mengangguk karna mulut nya sedang mengunyah potongan buah yang mertuanya bawa tadi.
Rasa haru selalu menyeruak dalam hatinya saat ibu dari suaminya itu tak pernah membedakan ia dan si bungsu apa yang Melisa belikan untuk Cahaya, Hujan pun akan mendapatkannya.
"Cukup, Mah" Hujan meletakkan piring yang masih tersisa enam potong buah lagi, perutnya berasa tak lagi mampu menampung makanan karna sebelumnya ia sudah menikmati sepotong brownies yang di kirim Aunty Ameera tadi pagi yang di buat khusus oleh Omma untuknya.
"Jika butuh sesuatu kamu telepon Mama ya, Mama ke bawah dulu" pesannya pada Hujan.
"Iya, Mah." jawab Hujan sambil tersenyum karna ia melihat ada rona bahagia di wajah cantik ibu mertuanya karna wanita itu orang yang paling tak sabar dan bawel tentang kehamilannya. Melisa sangat menjaga Hujan dan bayinya.
Hujan yang yang kembali sendiri di kamarnya hanya bisa duduk bersandar di punggung ranjang dengan Laptop di sebelahnya yang kini sedang menyiarkan drama kesukaannya itu sambil menunggu sang suami pulang dari kantor namun siapa sangka belum satu jam sandaran hatinya itu datang dengan membawa hadiah untuknya.
"Ay... kangen" sapa Hujan manja dengan merentang kan kedua tangannya.
__ADS_1
"Sama, aku juga kangen sampe tumpah tumpah" kekeh Air dengan sang istri masih di dalam dekapannya.
"Kamu bawa apa,, gede banget?"
.
.
.
.
.
.
.
Bawa para pahlawan Indonesia buat jagain tidur kamu , sayang....
π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Mimpi indah ini sih si Jan Hujan deres ini π€£π€£π€£
__ADS_1
Suami pengertian udah bukan bodyguard lagi maenannya.
Like komennya yuk ramaikan.