
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Jangan..
Gue mohon jangan lakuin ini..
Hujan terus meronta dari atas kursi, air mata terus membasahi pipinya yang putih mulus yang kebetulan itu adalah bagian wajah kegemaran suaminya.
Tiga wanita itu tak memperdulikan jerit tangis Hujan yang tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyiapakan diri untuk menerima perlakuan sadis orang orang di hadapannya itu.
"Lo mau bagian yang mana dulu, Jan?" kata Melan yang menyusuri wajah cantik istri mantan kekasihnya.
" Tolong jangan, gue akan lakuin apapun asal kalian lepasin gue" pinta Hujan di sela isak tangisnya.
"Lo gak akan gue lepasin, gue udah lama nunggu hari ini" jawab Vika dengan kilat mata penuh dendam luar biasa.
" Iya, kita udah lama rencanain ini semua, jadi kali ini gak boleh gagal sebelum kita ancurin lo!" timpal Sarah yang sebenarnya tak memiliki masalah apapun, gadis itu hanya sekedar ikut ikutan saja.
Vika yang ingin memulai aksinya meminta pria yang sedari tadi ada di dekatnya untuk turun lagi ke lantai bawah, ia tak ingin rencananya akan berantakan jika si gondrong melihat tubuh molek Hujan karna itu di luar dari rencana mereka.
"Buka bajunya" titah Vika pada Sarah karna tangannya sedang memegang pisau kecil.
"Siap, kita kuliti tubuhnya, seru banget kayanya, hahaha" seru Sarah sambil tertawa terbahak-bahak bagitupun dengan Vika dan Melan.
Hujan menjerit dengan sangat keras berharap siapapun bisa menolongnya meski sedikit harapan mengingat lokasi yang sepi di ujung gang sempit dan kecil.
Ia terus menyebut nama suami dan bundanya dalam hati dengan doa yang tak henti memohon di selamatkan dalam keadaan apapun.
"Tunggu!" seru Vika pada Sarah saat gadis itu hendak membuka baju Hujan.
"Apa lagi?, waktu kita gak banyak"
"Gue mau bikin pesan suara buat Ay, gue penasaran apa reaksinya saat tahu istri tercintanya ini lagi dalam bahaya" ucap Vika terkekeh sambil meraih ponselnya di atas nakas.
"Cepet ngomong!" titah Vika saat menyodorkan benda pipih miliknya kearah Hujan.
"Eits, lo gak boleh ngomong macem macem, cukup minta tolong" pinta Vika sambil tertawa keras.
Hujan yang ketakutan dan gemetar hanya diam saat Vika menyuruhnya berbicara.
"Cepet ngomong!" sentak Vika lagi.
Kak... tolong!!!...
.
.
__ADS_1
.
.
Usai mengirim pesan suara Hujan pada Air dan memastikan jika pemuda itu telah menerimanya, Vika langsung melempar ponselnya keluar jendela setelah mematikan dan menghancurkannya.
Kini tiga wanita yang tak memiliki rasa kasihan itu memulai aksinya.
Hujan duduk dikursi dengan tangan di ikat ke belakang, kini Melan sudah membuka baju atasan Hujan, niat awal tak ingin membungkam mulut Hujan namun karna gadis itu terus menjerit akhirnya Vika melakbannya.
Ketiganya sangat menikmati raut wajah takut Hujan saat gadis itu menutup matanya.
"Lumayan masih kenceng juga nih, gue yakin banget ini pasti area favoritnya Ay, iya kan?" ketus Vika saat ia melihat dada Hujan.
"Dan kali ini gue akan rusak, Ay akan jijik banget nanti pas liat model dada baru lo ini, hahaha" gelak tawa Vika sungguh sangat menggema ke seisi lantai dua ruko.
Vika dengan pelan menyayat dada Hujan dengan cutter kecil yang sudah ia siapkan, tanpa ragu ia terus memainkan benda tajam itu di tubuh bagian atas Hujan, darah mulai keluar sedikit demi sedikit saat ia menggoreskannya secara abstark dan pelan.
Hujan terus menahan sakit dan perih, Air mata seakan tak bisa lagii menggambarkan betapa kini ia sangat terluka raga dan bathinnya akan tingkah biadab tiga wanita yang kini sedang menyiksanya dengan berbagai benda tajam.
Lain Vika tentu lain juga tugas Sarah dan Melan, dua gadis itu juga ikut fokus pada bagian tubuh Hujan yang lainnya.
" Model apa ya yang bagus?" gumam Melan dengan sebuah gunting di tangannya.
Hujan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Melan tak ikut melakukan hal menyakitkan padanya, sudah cukup ia merasakan rasa perih di bagian dada.
"Haha, iya lo bener banget!"
Melan langsung menyentuh rambut Hitam panjang milik Hujan, ia gunting secara acak panjang dan pendek sesuka hatinya sambil tertawa puas.
Rambut yang sering di belai manja oleh Air kini berantakan tak berbentuk lagi.
"Lo lucu banget, sumpah!" kekeh Sarah dan Melan.
"Mel, lo buka celana si Hujan, yang ini biar giliran gue," titah Vika sambil berjalan menuju sebuah nakas, ia lalu membuka laci untuk mengambil satu bungkusan kecil.
"Siap, Vik"
Melan membuka celana Jeans milik Hujan, ia lepaskan dan melemparnya asal, kini hanya tinggal shirt pendek yang menutupi tubuh langsing Hujan.
"Buka semua, biar te lan jang sekalian" ucap Vika dengan satu benda di tangannya.
"Hem, Ok"
Hujan terus meronta, bahkan ia sempat menendang Melan dengan keras sampai tersungkur dan itu membuat Vika semakin geram.
"Berani lo ya!" sentak Vika lalu ia menampar bolak balik pipi Hujan penuh emosi.
__ADS_1
Melan tetap melanjutkan tugasnya untuk membuka sisa pakaian Hujan.
"Wah, lagi halangan kayanya. Tapi bersih sih" Seru Melan saat melihat dalaman Hujan terdapat pembalut yang merekat.
"Bagus deh, jijik banget gue kalo sampe liat" sahut Vika dengan menggridikan bahunya.
Melan dan Sarah memegangi lutut Hujan ia buka dengan sangat lebar sampai terlihat dengan jelas area sensitif milik Hujan, dan kini Vika siap melayangkan aksi bejadnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang Lo rasain nih bubuk cabe, gue Semprot di bagian favorit suami lo! dan setelah ini dia akan ninggalin lo, Jan!
πππππππππππ
No coment!!
Permisi saya mau kabooooooooooooooorrr
πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ
Like komennya yuk ramaikan.
Tapi jangan galak galak ya π€£π€£π€£π€£
__ADS_1