
πππππππππππ
Allo ba'ya
Hujan mengernyitkan dahinya, ia menatap bingung anaknya yang sedang berbicara dengan sang suami.
"Itu papAy, 'kan?"
Iyyaaah.
Hujan meminta ponselnya dari tangan Sam, dengan sopan anak itu memeberikannya sambil tersenyum manis.
"Hallo, kak"
"Tadi Sam ngomong apa?" tanya Air langsung.
Hujan hanya diam, ia pun belum yakin dengan apa yang dikatakan putranya barusan.
"Emang dede ngomong apa?" Hujan balik bertanya pura-pura tak tahu.
"Hallo buaya! apa aku yang salah denger?"
"Aku juga dengernya gitu sih, coba nanti aku tanya lagi."
Air mematikan panggilannya karna memang ia sedang berada di jalan menuju pulang ke apartemen.
Hujan yang sepertinya tak begitu perduli akhinya memilih untuk melajutkan membuat makanan untuk Samudera.
.
.
Lima belas menit berlalu, Air datang dengan membawa paperbag di tangannya. Samudera yang melihat hal itu tentu langsung merangkak mandekat.
PapAy..
Air langsung berjongkok bersiap menerima pelukan Baby bearnya yang semakin berat jika di gendong.
"Jalan dong, jangan ngerangkak terus"
__ADS_1
Apek
"Dasar males! badan doang gede"
Air menggendong Anaknya menuju sofa depan TV karena ada sang istri disana, matanya yang fokus pada layar laptop
membuat Hujan hanya menoleh sekilas tadi.
"Ngapain sih?" tanya Air setelah mencium pipi kanan pemilik hatinya.
"Kak, aku mau lanjut kuliah, boleh?" pinta Hujan, tatapan matanya yang sendu tentu membuat Air begitu merasa bersalah.
"Boleh, sayang. Mau kapan?"
Hujan tersenyum lebar, sudah lama ia ingin meminta izin suaminya untuk meneruskan impiannya itu, meski ia tahu Air pasti mengizinkannya.
"Hem, gak tau juga deh, mungkin saat ajaran baru. Tapi... "
"Tapi apa?" tanya Air saat istrinya itu tak meneruskan kata-katanya.
"Aku gak mau kuliah di tempat yang lama, aku takut" lirih Hujan dengan nada bicara bergetar seakan traumanya kembali.
"Iya, kamu boleh kuliah dimana pun" jawab Air yang langsung merangkul bahu Hujan kemudian menciumi juga pucuk kepalanya.
"Kita bicarakan itu dengan mama dan papa ya, mau mereka yang menjaga atau kita pakai jasa Babysitter" jawab Air, meski ia tahu jika kedua orang tuanya tak akan mengizinkan Sam di asuh oleh orang lain.
*****
Akhir pekan ini Air dan Hujan akan menghabiskan waktu di apartemen, tak ada yang mereka lakukan seharian penuh kecuali bermain bersama Samudera.
Bocah tampan yang semakin aktif itu terus saja bergantian mengganggu kedua orang tuanya atau kakek dan neneknya.
Mainan yang berserakan di kamar dan ruang tengah tak boleh dirapihkan sama sekali oleh siapapun.
"Kak, kita makan malam di luar ya" ajak Reza yang baru turun dari kamarnya.
"Sekarang?"
"Iya, bersiap sana" titahnya lagi.
Air kembali ke kamarnya untuk bersiap, dan dua puluh menit kemudian ia turun kembali bersama anak istrinya.
__ADS_1
Appaaa..
Samudera merentangkan tangan saat melihat Reza dan Melisa duduk di sofa, pria yang masih saja tampan itu sedang menggoda Khumairahnya itu sampai kedua pipi sang istri sampai merah merona.
"Berangkat sekarang, Pah?"
Reza hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu sambil menggendong cucu kesayangannya.
Samudera yang tak lepas sama sekali sampai ke restoran pun masih saja duduk di atas pangkuan kakeknya itu.
Semuanya menunggu pesanan makan malam mereka sambil berbincang dan mengajak bercanda Samudera.
"Appa ke toilet dulu ya sebentar ya, dede sama Amma atau sama MiMoy?"
Nda.
"Sebentar sayang, nanti balik lagi"
Nda ih.
Melisa, Air dan Hujan yang merayu tetap tak bisa membuat Samudera berpindah duduk, ia tetap merengek ingin bersama Gajahnya.
"Tunggu sebentar ya, Appa udah gak kuat" Reza langsung mendudukan Samudera di soda dan meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
.
.
.
Ntut, Appa....
Kecian π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.