Air Hujan

Air Hujan
para binatang


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚..


"Tobeli Dede mana, Oey"


Kedua pasangan suami istri yang ada di sofa itupun langsung menoleh kearah ranjang.


Plak..


Hujan langsung menepak ekor buaya yang tepat di wajahnya.


"Aw, sakit, Moy"


Hujan yang hendak bangun dari duduknya di tahan oleh Air, ia duduk kan kembali tubuh mungil istrinya di sofa.


"Diem! biar kakak yang liat" cegah Air yang akhirnya melengos kearah tempat tidur, kali ini ia tak lupa memasukkan si ekor buaya kedalam sarangnya.


Air berjalan mendekat dengan sangat pelan dan tebakkannya benar, jika si bocah bawel itu hanya mengigau di tengah tidurnya.


"Kak..."


Air yang menoleh langsung menggelengkan kepalanya, ia usap punggung sang buah hati agar kembali terlelap terbuai mimpi dan dua menit kemudian pria yang miliknya masih menegang itu kembali pada wanita si pemilik lahan sawah bermainnya.


"Tidur lagi" bisik Air sambil menarik tangan Hujan.


"Terus?"


"Lanjutin lah, ayo" ajak si sulung Rahardian.

__ADS_1


Hujan memutar bola matanya jengah, bukan jera dengan gangguan yang barusan terjadi, suaminya malah ingin melanjutkan.


"Ya udah cepetan"


Air menggelengkan lagi Kepalanya ia menolak dan mencegah Hujan untuk barbaring di sofa.


"Kenapa?" tanya Hujan bingung.


"Gak mau ngacak-ngacak kebon, aku mau say hay aja" pinta Air, ia kembali mengeluarkan si ekor biaya dan Hujan melanjutkan apa yang sempat tadi tertunda.


Pria yang sedang menikmati sentuhan bibir istrinya menekan suaranya, Air menggigit bibir bawahnya agar Sam tak terganggu dengan desa han yang keluar dari mulutnya.


"Udah, Moy!"


*****


"Tapi Appa kemana?" rengeknya saat sosok Reza yak juga ia temukan.


"Nanti Appa pulang ya, dede sama Moy dulu sini" rayu Hujan mencoba meraih tubuh Sam yang mengamuk di ruang tamu lantai bawah.


Satu jam lalu Tuan besar Rahardian itu pergi karna urusan bersama istrinya, Hujan tak tahu pasti karna pasangan baya itupun tak berpamitan padanya yang sedang berada di dalam kamar.


Air yang tidur pulas setelah pelepasannya pun tentu tak tahu jika kini putra semata wayangnya itu sedang menangis mencari Appanya.


"Nda mahu, dede mahu Jajah dede"


Tak ada yang bisa Hujan lakukan kecuali merayu karna untuk meraih atau menggendong kayanya ia tak akan kuat.

__ADS_1


"Nanti dede muntah kalau nangis terus, ayo sini Moy peluk"


Samudera tetap menggelengkan kepala, ia berguling dilantai seperti biasa jika sedang marah gajahnya hilang.


"Telepon aja ya, Moy ambil ponsel dulu di kamar ya"


"Nda, dede gak mahu tipon, dede mahunya peluk Appa" tolaknya lagi yang membuat Hujan gemas dan ingin mencubit si Tutut.


"Iya, Moy telepon Appa buat tanya kapan pulang" kata Hujan sudah mulai kesal jika Sam sudah marah seperti ini.


"Iya deh, tapi bilang juga kalo dede nangis ya" pesan Sam di sela isak tangisnya.


"Iya"


Hujan berlalu ke kamarnya, ia menaiki tangga satu persatu dengan sedikit berlari. Hatinya yang mendadak kesal seakan membuat ia lupa jika di rumah mewah itu ada si kotak besi yang dengan cepat bisa mengatarnya ke lantai atas.


Ceklek..


Hujan masuk dengan membuka pintu kamarnya sedikit keras. Ia membuang napas kasar saat melihat suaminya masih mendengkur halus.


Saat si Gajah ilang, beruang langsung ngamuk tapi si Buaya tetep aja tidur...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Lengkap ya Jan 🀣🀣


Disebelah ada koala sama anak kalong loh 🀭

__ADS_1


__ADS_2